Menguji SOP TSKKM di Batu – Caritas Indonesia – KARINA

Menguji SOP TSKKM di Batu

21/07/2019

 

 

CAPABLE (Capacity Building in Emergency Response) adalah proyek bersama KARINA & CRS Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan dan menguatkan kapasitas mitra keuskupan dalam tanggap darurat. Program ini dilakukan melalui 3 pendekatan, yakni peningkatan kapasitas – membantu mitra keuskupan agar semakin efektif berperan dengan pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang baru melalui pelatihan-pelatihan tanggap darurat; penguatan lembaga – membantu Lembaga Caritas/Sosio Pastoral untuk mencapai visi dan misi, membangun sistem, struktur dan ruang lingkup yang diperlukan untuk kinerja yang optimal dengan membantu mitra keuskupan dalam membuat dokumen SOP; dan pendampingan mitra keuskupan –mendukung dan memastikan penerapan keterampilan baru mitra keukupan dalam respon tanggap darurat. Proyek CAPABLE ini diikuti oleh empat lembaga Caritas/Sosio Pastoral Keuskupan yakni Caritas Makassar, Caritas Palangka Raya, Tim Tanggap Darurat Keuskupan Denpasar (TTDKD) dan Tim Solidaritas Kemanusiaan Keuskupan Malang (TSKKM).

 

Y. Baskoro memberi pengantar untuk diskusi kelompok. (Photo: Caritas Indonesia)

 

Belum lama ini, Tim Solidaritas Kemanusiaan Keuskupan Malang (TSKKM) mengadakan Simulasi SOP (Standard Operating Procedure) Tanggap Darurat Bencana di Batu, Malang, Jawa Timur yang diikuti oleh 30 peserta. Kegiatan ini diadakan pada 13 – 14 Juli 2019 dan difasilitasi oleh Rudy Raka dan Yohanes Baskoro dari Caritas Indonesia dan Salbiyah dari CRS Indonesia.

 

Rm. Agustinus Maryanto, O. Carm terlibat dalam diskusi kelompok. (Photo: Caritas Indonesia)

Simulasi SOP adalah tahapan akhir dari rangkaian penguatan kapasitas lembaga sejak dari penyusunan batang tubuh SOP, Review Draft SOP dan Workshop SOP. Dalam kegiatan simulasi ini, semua prosedur tanggap darurat bencana yang tercantum dalam dokumen SOP disimulasikan, mulai dari pemahaman akan dokumen SOP itu sendiri, mekanisme/langkah kerja, peran tiap unit dalam tim tanggap darurat, hingga pembagian peran dalam menjalankan prosedur tanggap darurat bencana. Pada kegiatan ini, bencana alam yang dipakai sebagai skenario untuk menguji SOP tanggap darurat Keuskupan Malang adalah bencana banjir bandang Sungai Singojuruh yang melanda Kecamatan Songgon dan Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi.

 

Rudy Raka memandu diskusi kelompok. (Photo: Caritas Indonesia)

 

Proses simulasi SOP Keuskupan Malang diawali dengan pembagian peserta menjadi 4 kelompok dengan bobot peran yang sama, yakni sebagai TSKKM. Skenario tanggap darurat bencana dimulai dengan adanya mandat dari Uskup Malang kepada TSKKM untuk merespon bencana banjir bandang tersebut. Dalam mandatnya, Uskup meminta Ketua TSKKM untuk segera membentuk tim tanggap darurat.Keempat kelompok membagi peran yaitu, sebagai Ketua TSKKM, Bagian Logistik, Humas, Keuangan dan Koordinator Lapangan. Dalam simulasi itu juga terlihat dalam tiap kelompok terjadi diskusi dan silang pendapat dalam memahami situasi tanggap darurat. Sesi akhir di hari pertama adalah pembuatan Proposal Proyek Pasca Tanggap Darurat. Keempat kelompok terlihat tekun berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk menentukan proyek yang paling tepat bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Desa Alas Malang.

 

Dalam kegiatan ini, tiap kelompok berlatih menjalankan prosedur administrasi sesuai dokumen SOP. (Photo: Caritas Indonesia)

 

Kegiatan di hari kedua diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Agustinus Maryanto, O. Carm dan dilanjutkan dengan melakukan Review bersama atas Proposal Proyek yang diajukan oleh keempat kelompok. Dari empat proposal proyek pemulihan pasca bencana banjir bandang, muncul dua proyek unggulan yang sama, yakni HUNTARA (hunian sementara) dan Pipanisasi (perbaikan instalasi air bersih). Dalam tahapan review proyek proposal ini, fasilitator dari Caritas Indonesia dan CRS Indonesia melakukan koreksi atas semua proposal yang diajukan, apakah sudah sesuai dengan standar SPHERE atau belum. Di sinilah terlihat perbedaan antara kelompok yang sudah dan belum memiliki pemahaman akan SPHERE.

 

Perayaan Ekaristi di hari kedua dipimpin oleh Rm. Agustinus Maryanto, O. Carm. (Photo: Caritas Indonesia)

 

Dua catatan yang muncul dari rangkaian kegiatan simulasi SOP TSKKM ini adalah tentang SPHERE dan Dokumen SOP. Mengenai SPHERE, ternyata masih ada beberapa peserta di level keuskupan yang mengikuti kegiatan ini belum mengenal apa itu standard SPHERE. Bahkan, peserta yang sudah mengenal SPHERE pun mengaku mengalami kesulitan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang tercantum. Ini berarti, satu proses sosialisasi atau pelatihan SPHERE di level Keuskupan baik dipertimbangkan untuk ditambah dan diperluas sampai di level Paroki. Sedangkan mengenai SOP, beberapa peserta melihat perlunya melakukan simulasi SOP yang sama pada level Dekenat dan Paroki. Diharapkan ada pegiat kebencanaan di level Dekenat dan Paroki mengenal SPHERE sebagai standar pelayanan kemanusiaan yang dipakai oleh banyak lembaga kemanusiaan di tingkat nasional dan internasional, termasuk keluarga besar Caritas Internationalis.

 

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta