Diskusi Pembelajaran Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Sikka – Caritas Indonesia – KARINA

Diskusi Pembelajaran Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Sikka

01/04/2019
(Photo: KH Purwono Yunianto)

Caritas Keuskupan Maumere (CKM) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Yayasan Karina pada 15 Maret 2019 yang lalu, mengadakan diskusi bersama dengan tema “Integrasi Pengelolan Daerah Aliran Sungai ke dalam Pembangunan Desa Tahun 2018 di Kabupaten Sikka”. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan pembelajaran atas proses pelaksanaan integrasi Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu (RPDAST) di desa-desa dalam wilayah DAS Dagesime – Magepanda.

Yuven Wanggae, selaku koordinator CKM, memaparkan bahwa RPDAST 2018 telah dilakukan oleh 7 desa di wilayah DAS Dagesime – Magepanda dengan memasukkan beberapa kegiatan prioritas ke dalam rencana pembanguna desa. Sementara 13 desa di wilayah DAS Riawajo sudah melakukan indentifikasi untuk rencana pengelolaan tahun 2019. “Di wilayah hulu, kami memantau Desa Gera, Kecamatan Mego. Pada 2018 telah melakukan penanaman tanaman pala, cengkeh dan lada. Dampak dari kegiatan ini belum terlihat karena membutuhkan waktu lama. Tetapi sudah ada peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pelestarian hutan dan mata air,” jelas Yuven.

Ia menambahkan, bahwa integrasi RPDAST di wilayah tengah juga sudah dilakukan oleh Desa Done melalui penyusunan peraturan desa yang meliputi rehabilitasi dan pengembalian konservasi lahan yang terdegradasi, larangan pembakaran hutan hingga perlindungan mata air dan terasiring. Sementara di wilayah hilir, Desa Koalisia B telah melakukan program penghijauan dan pembuatan terasiring di sekitar mata air Dusun Nawuteu.

Namun demikian, Bakri Kari dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka mengingatkan, bahwa jika tidak ada pengelolaan DAS yang berprespektif mitigasi bencana, maka kawasan hulu akan berpengaruh buruk untuk kawasan tengah dan hilir. “Misalnya banjir dari hulu membuat bencana di kawasan tengah dan hilir. Sehingga perlu konservasi tanah dan air di kawasan DAS juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak memanfaatkan lahan di bantaran sungai akan menghambat laju air dan imbas kerusakan lingkungan,” kata Bakri.

(Foto: KH Purwono Yunianto)

Selain BPBD, unsur-unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka yang turut hadir dalam diskusi ini adalah dari Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Lingkungan Hidup, UPT KLH, Para Camat, Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di wilayah DAS Dagesime – Magepanda dan DAS Riawajo serta Forum DAS dan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) setempat.

Diskusi pembelajaran ini menghasilkan beberapa pemikiran di antaranya, pengelolaan DAS tidak bisa dilakukan terpisah, melainkan harus terpadu antara wilayah hulu, tengah, dan hilir, disertai kejelasan kewenangan antara desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Kemuadian, untuk memastikan perbaikan kawasan hulu, diperlukan insentif jasa lingkungan yang dihasilkan dan diberikan kepada masyarakat di hulu tersebut. Yang terakhir, Kabupaten Sikka perlu membuat satu mekanisme pemulihan pascabencana bila bencana menimpa wilayah DAS tersebut.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta