Menggunakan Teknologi untuk Melawan Perdagangan Manusia – Caritas Indonesia – KARINA

Menggunakan Teknologi untuk Melawan Perdagangan Manusia

29/01/2016
Kegiatan Konferensi ‘Information and Communication Technology in Anti-Human Trafficking’ di Bangkok. (Foto: Y. Baskoro)

Masalah perdagangan manusia (human trafficking) dan buruh paksa (forced labour) terjadi secara global. Sebanyak 2,5 juta orang menjadi korban perdagangan manusia dan sebanyak 1,4 juta korban (56%) berada di wilayah Asia¹. Sebagian besar korban perdagangan manusia berusia antara 18-24 tahun². Setiap tahunnya, kurang lebih 1,2 juta anak-anak menjadi korban trafficking di berbagai wilayah di dunia³. Melawan perdagangan manusia adalah salah satu fokus kegiatan Caritas Asia. Sejak beberapa tahun terakhir ini, Caritas Asia melakukan kegiatan untuk meningkatkan kapasitas organisasi dan anggotanya dalam menangani isu-isu tentang perdagangan manusia. Hal ini dimaksudkan supaya staf organisasi dan anggota Caritas di dalamnya mempunyai kapasitas yang cukup untuk menangani para korban perdagangan manusia.

Terkait dengan isu di atas, Caritas Asia belum lama ini menutup kegiatan konferensi tentang Teknologi Komunikasi dan Informasi untuk Program Anti-Perdagangan Manusia. Konferensi ini diselenggarakan di Phra Kanong, Kota Bangkok, Thailand pada tanggal 19-21 Januari 2016. Sebanyak 47 peserta dari 13 anggota Caritas di wilayah Asia hadir dalam konferensi ini. Mereka adalah Caritas Bangladesh, Cambodia, Myanmar, Singapore, India, Indonesia, Nepal, Taiwan, Vietnam, Macau, Mongolia, Pakistan dan Thailand. Sementara itu 3 mitra kerja Caritas di Asia, seperti JRS-Asia Pasific, MRS-USCCB, dan CSSR Thailand, juga turut hadir dalam kegiatan ini. Sebagian besar nara sumber yang hadir dalam konferensi ini adalah para pengembang perangkat lunak yang membuat aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu program-program pemberantasan perdagangan manusia. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Caritas Asia dengan Caritas Germany, Caritas France dan Caritas Internationalis.

Kegiatan selama tiga hari ini diisi dengan banyak paparan dari berbagai lembaga yang memperkenalkan aplikasi untuk membantu program anti-human trafficking. Para pengembang memperkenalkan aplikasi mulai dari yang menggunakan teknologi sederhana, seperti telepon genggam hingga teknologi tinggi yang menggunakan perangkat komputer dan telepon pintar. Hampir semua aplikasi yang diperkenalkan mensyaratkan adanya koneksi internet yang berfungsi sebagai media untuk berbagi data secara on-line antara pengguna dan organisasi yang merespon kasus-kasus human trafficking. Jaringan internet ini juga berfungsi untuk melacak lokasi pengguna dengan menggunakan GPS (Global Positioning System) yang tertanam pada telepon pintar yang digunakan. Selain itu, aplikasi yang diperkenalkan juga mempunyai fungsi untuk mengumpulkan dan menganalisa data. Sehingga pengguna yang melaporkan kejadian dapat langsung tercatat dan tersimpan dalam database untuk keperluan di kemudian hari.

(Kiri) Bapa Uskup Bachong Chaiyara, CSsR, Presiden Caritas Thailand, membuka konferensi se-Asia dengan misa konselebrasi; (Kanan) Duncan Jepson, Founder Liberty-Asia, memaparkan materi kepada peserta konferensi (Foto: Y. Baskoro)

 

Para pengembang aplikasi menekankan kepada para peserta bahwa keberadaan teknologi komunikasi dan informasi yang ada saat ini bukan untuk menggantikan semua tugas dan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Aplikasi ini dibuat untuk membantu manusia melakukan pekerjaannya secara lebih efektif dan efisien. Organisasi besar seperti IOM (International Organization for Migration) bahkan telah mengembangkan sistem pemetaan untuk wilayah-wilayah yang rentan perdagangan manusia dengan menggunakan teknologi drone (pesawat tanpa awak). Liberty-Asia dan A21 bersama-sama membuat aplikasi yang memungkinkan para penggunanya untuk berbagi informasi tentang kasus-kasus human trafficking dalam jaringan internet yang berbasis teknologi cloud. Teknologi ini memungkinkan dikembangkannya sistem pelaporan kasus secara langsung di seluruh wilayah dengan jalur ‘hotline dan helpline‘. Sistem informasi yang dikembangkan jaringan ini dimaksudkan untuk mempersempit ruang gerak para traffickers dan smuggler dalam menjalankan aksinya.  

Microsoft-Asia, salah satu pengembang aplikasi, memperkenalkan sebuah aplikasi yang memungkinkan untuk digunakan melalui perangkat telepon pintar. Dengan sekali sentuhan, korban bisa segera melaporkan kejahatan yang dihadapinya kepada pihak yang berwajib. Terlebih lagi, aplikasi ini terintegrasi dengan sistem komunikasi dan informasi pada lembaga yang merespon dan pihak yang berwajib. Pihak Microsoft memperhatikan betul resiko yang mungkin terjadi saat orang, khususnya anak-anak, menggunakan teknologi internet. Mereka bekerjasama dengan NCMEC (National Center for Mising and Exploited Children) untuk mengembangkan PhotoDNA, sebuah teknologi yang digunakan untuk mencari anak yang hilang melalui foto-foto yang tersebar secara online. Hal ini dilakukan untuk mengurangi bentuk-bentuk kejahatan yang terjadi di dunia maya demi keselamatan kelompok-kelompok rentan.

IMGP1143
Malina Enlund, Development Manager A21 Asia, memaparkan tentang dampak buruk penyalahgunaan teknologi komunikasi dan informasi (Foto: Y. Baskoro)

 

Selain paparan dari para pengembang aplikasi, beberapa peserta juga membagikan pengalamannya tentang progam anti-human trafficking di lembaganya. Caritas Cambodia menjalankan program tersebut untuk mempromosikan dan mengembalikan nilai dan martabat kelompok rentan, para migran dan korban perdagangan manusia melalui kegiatan pendampingan, pemberdayaan dan memperbaiki kondisi hidup mereka. Kegiatan yang dilakukan misalnya dengan kampanye kesadaran, pelatihan dan pendidikan tentang isu perdagangan manusia, pendampingan dan pemulihan kepada para korban, penguatan mata pencaharian (life skill & financial skill), berjejaring dengan lembaga lain dan pemerintah. Sementara itu, Caritas Internationalis mengajak para anggotanya untuk lebih banyak terlibat dalam upaya melawan perdagangan manusia, memberikan perlindungan kepada para korban, dan berperan serta dalam mempromosikan kebijakan anti perdagangan manusia.

Teknologi komunikasi dan informasi yang digunakan oleh manusia sudah berevolusi sedemikian pesatnya. Saat ini manusia dapat berkomunikasi dan mengakses informasi dengan cepat dan mudah. Sayangnya, kemajuan teknologi ini juga dimanfaatkan oleh para traffickers dan smugglers untuk menemukan dan mengeksploitasi para korbannya. Di sisi lain, teknologi komunikasi dan informasi dapat dimanfaatkan untuk menutup ruang gerak para pelaku kejahatan perdagangan manusia dan mengedukasi orang banyak tentang isu human trafficking dan bahayanya. Manfaat dari kemajuan teknologi ini seperti dua sisi mata pedang yang tajam. Keberadannya selain memberikan manfaat juga bisa berdampak buruk jika disalahgunakan. Sehingga, kita harus benar-benar bijaksana dalam menggunakannya. ▪YB

Sumber:

1. International Labour Organization, Forced Labour Statistic Factsheet (2007)

2. International Organization for Migration, Counter-Trafficking Database, 78 Countries, 1999-2006 (1999)

3. UNICEF, UK Child Trafficking Information Sheet (January 2003)

 

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta