Senyuman yang Membangkitkan Harapan (Bag. 2) – Caritas Indonesia – KARINA

Senyuman yang Membangkitkan Harapan (Bag. 2)

29/07/2016
Para relawan membantu kerja bakti membersihkan jalan yang tertutup oleh longsoran tanah (Foto: Danica Coloay).

Secara mengejutkan hujan deras yang melanda Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah pada Sabtu, 18 Juni 2016 menimbulkan bencana alam banjir dan tanah longsor. Saat pada malam harinya di pusat kota dan beberapa daerah dilanda banjir, Desa Sidomulyo, Karangrejo, Donorati, Sudimoro dan Jelok justru mengalami tanah longsor. Ini merupakan kejadian langka yang baru pertama kali terjadi di daerah-daerah tersebut.

Hari berikutnya, Minggu, 19 Juni 2016, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Perawan Maria Purworejo yang digawangi oleh Gregorius Istas tergerak untuk membantu para korban bencana. Istas dengan spontan mengumpulkan teman-teman OMK dan menghubungi pihak-pihak terkait, terutama dewan pastoral dan pastor kepala paroki. Informasi awal disampaikan melalui berbagai media sosial dan sejurus kemudian bantuan segera terkumpul.

Tugas rutin di pos pelayanan paroki adalah memastikan barang-barang bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan (Foto: Danica Coloay).
Tugas rutin di pos pelayanan paroki adalah memastikan barang-barang bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan (Foto: Danica Coloay).

 

Gerakan ini kemudian diformalkan dalam sebuah struktur kerja di Pos Pelayanan Kemanusiaan Paroki Santa Perawan Maria Purworejo. Kehadiran teman-teman OMK yang saat itu masih libur pergantian tahun ajaran sungguh membantu kegiatan pelayanan kemanusiaan ini. Dalam aktivitas selanjutnya, pos ini dibantu oleh Tim dari KARITO (Karitas Purwokerto), KARIBAN (Karitas Bandung) dan KARINA (Karitas Indonesia). Tim kecil ini membantu para personil pos pelayanan dalam hal pengelolaan bantuan. Selain memberikan bantuan untuk korban bencana, pos pelayanan paroki juga membangun komunikasi dengan warga di daerah bencana untuk mengetahui kebutuhan mereka dan memastikan bantuan sampai kepada yang benar-benar membutuhkan.

Memasuki minggu kedua pasca bencana, kondisi mulai terkendali. Akses jalan ke lokasi bencana sudah dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Bantuan bahan makanan dan peralatan lain sudah banyak diberikan, demikian halnya bantuan pemulihan psikosial untuk anak-anak di wilayah terdampak. Berbagai kelompok relawan, sebagian besar para mahasiswa/i memberikan kegiatan pemulihan psikososial untuk anak-anak dalam berbagai bentuk kegiatan permainan. Kegiatan ini dilaksanakan pada waktu siang hari dengan durasi antara dua hingga tiga jam.

Melihat kondisi ini, pos pelayanan kemanusiaan paroki juga menyediakan kegiatan pendampingan psikososial dalam bentuk hiburan. Berdasarkan diskusi dengan para penyintas dari Desa Donorati, maka disepakati untuk menggelar acara nonton film bersama pada sore atau malam hari. Penduduk Donorati adalah salah satu kelompok masyarakat yang didampingi sejak awal. Pada awalnya, desa ini terisolir karena akses menuju ke sana tertutup oleh longsoran tanah. Setelah akses terbuka, para penyintas dapat segera menerima bantuan. Barang bantuan dari berbagai pihak ditempatkan di balai desa dan kebutuhan para penyintas serta relawan disediakan oleh dapur umum. Letak dapur umum cukup dekat dengan lokasi longsor, sementara balai desa berjarak kurang lebih 500 meter dari dapur umum.

Suasana pemutaran film kartun sebagai salah satu bentuk kegiatan pendampingan psikososial untuk anak-anak (Foto: Stefanus Dandy).
Suasana pemutaran film kartun sebagai salah satu bentuk kegiatan pendampingan psikososial untuk anak-anak (Foto: Stefanus Dandy).

 

Kegiatan menonton film bersama dilakukan di salah satu rumah penduduk, yang mana semua warga dapat berkumpul di sana. Para penyintas, khususnya anak-anak sangat antusias dengan hiburan semacam ini. Mereka bisa menonton film-film kartun untuk melupakan sejenak kejadian bencana yang mereka alami beberapa waktu yang lalu. Sedikit demi sedikit anak-anak berkumpul hingga akhirnya mencapai puluhan anak. Beberapa di antara mereka ada yang hadir diantar oleh orang tuanya, yang kemudian juga ikut menonton film di sana. Para orang tua menyampaikan bahwa kebutuhan hiburan saat itu cukup penting untuk para penyintas, khususnya anak-anak.

Kegiatan menonton film ini berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain supaya dapat menjangkau semua wilayah. Pada malam hari, kegiatan ini dimulai setelah shalat tarawih selesai. Dengan tempat seadanya, para relawan OMK menggunakan netbook, proyektor dan portable speaker. Tak jarang, kegiatan ini harus terkendala oleh daya listrik yang tidak memadai. Mereka akhirnya menggunakan genset untuk menghidupkan semua peralatan elektronik yang dibawa.

Kegiatan hiburan yang sederhana ini biasanya selesai sekitar pukul 22.30 WIB. Dari pengalaman ini kami sadar bahwa para penyintas tidak hanya membutuhkan bantuan dalam bentuk fisik, akan tetapi juga pendampingan psikososial. Para relawan, yang juga mengalami kelelahan fisik dan psikis, dituntut untuk selalu bisa memberikan senyuman kepada para penyintas. Karena dengan senyum yang merekah di wajah para relawan, kehadiran mereka mampu menjadi teman bagi para penyintas yang sedang berjuang untuk bangkit dari keterpurukan. Melalui merekalah, kami sebagai relawan dapat bersyukur atas berkat yang Tuhan berikan untuk kita semua. â–ªPenulis: Stefanus Dandy (dandy.stefanus75@gmail.com).

Stefanus Dandy adalah seorang pengajar di Paud Mutiara Ibu Purworejo. Bersama dengan Elizabeth Septi (Guru di SD Mutiara Ibu), Dandy merencanakan dan menjalankan kegiatan pendampingan psikososial di Pos Pelayanan Kemanusiaan Paroki Santa Perawan Maria untuk anak-anak di tempat-tempat pengungsian.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta