Petani Organik: Harus Kreatif dan Inovatif – Caritas Indonesia – KARINA

Petani Organik: Harus Kreatif dan Inovatif

11/05/2015

Lha wong kita ini petani, mau masak kok harus beli sayur?

Demikian ungkapan kegusaran Gregorius Endrianto (43), seorang petani yang tinggal di Dusun Waringinsari Barat, Pringsewu, Lampung tentang keadaan di lingkungannya. Pak Endrianto sangat peduli dengan kelestarian alam, karena ia sadar bahwa seluruh kebutuhannya dapat dipenuhi dari alam. Bentuk kepeduliannya untuk menjaga kelestarian alam adalah dengan melakukan  sistem pertanian organik. Pupuk kimia dan pestisida sudah lama ia tinggalkan. Melalui kelompok tani Subur Makmur, ia mengembangkan budidaya pertanian selaras alam. Tujuannya adalah untuk mendapatkan hasil pertanian yang bermutu dan aman dikonsumsi. Selain itu, juga untuk mewujudkan keluarga yang sehat dengan hasil pertanian organik yang ramah lingkungan.

Pola hidup selaras dengan alam pulalah yang mendorongnya untuk mengajak para petani lain memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah untuk ditanami sayur dan buah-buahan organik yang bisa mencukupi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Namun demikian, proses untuk membuat gerakan perubahan tersebut tidaklah mudah. Sebagian petani masih memberi pupuk kimia dan pestisida pada tanaman di rumahnya. ‘Jadi, setelah nyemprot tanaman di ladang, sisa pestisidanya disemprotkan juga ke tanaman sayuran dan buah-buahan yang akan dikonsumsi oleh keluarga‘, keluh Pak Endrianto. Untuk mengubah kebiasaan memang butuh waktu yang tidak sebentar. Namun, pelan-pelan hasilnya dapat dilihat saat ini. 

Suami dari Yuliana Sulistiowati dan ayah dari Birgita Dinda Winanda dan Dionisius Dimas Winata ini cukup kreatif dan inovatif. Ia merangkai sendiri alat uji tanah untuk mengetahui kandungan zat di dalamnya. Selain itu, ia juga memproduksi pupuk cair, pencegah hama penyakit, dan juga stimulan yang semuanya berbahan organik. Untuk pupuk, ia menggunakan pupuk kompos dari sisa kotoran hewan dan tumbuhan, maupun pupuk cair organik yang diproduksi sendiri. ‘Sebagai petani kita harus inovatif, supaya tidak selalu tergantung dari orang lain untuk mendapatkan bahan-bahan pertanian yang kita butuhkan’, ucapnya. Tanaman-tanaman yang sudah berhasil dibudidayakan dengan menggunakan sistem pertanian organik ini adalah padi pandan wangi, padi hitam, kacang panjang, terong, pisang, dan tomat. Salah satu hasil produksi olahan dari tanaman organik yang cukup diminati pasar adalah makanan ringan berupa keripik pisang.

Praktik budidaya pertanian organik dilakukan oleh Pak Endrianto secara terpadu. Mulai dari pengetesan tanah untuk mengetahui kadar ph dan tingkat kesuburannya, pemilihan benih, pengamatan rutin, pemanfaatan musuh alami untuk membasmi hama, penggunaan pestisida nabati, penggunaan agensi hayati, hingga ke proses akhir yaitu pengepakan produk. Dengan praktik ini, Pak Endrianto dan kelompok taninya dapat menekan biaya produksi secara signifikan, meningkatkan mutu hasil pertanian sehingga aman dikonsumsi, serta mendapatkan harga jual yang baik. Kalau dulu ia hanya mendapatkan harga Rp 7.500,- per kilogram beras, sekarang ia mendapatkan kenaikan harga sebesar Rp. 12.500,- per kilogram.

Kepedulian terhadap lingkungan harus ditanamkan sedini mungkin, agar anak-anak nanti tumbuh menjadi generasi yang cinta dan sadar lingkungan’.

Seperti itulah cara Yulia Suparti (43) mendorong generasi muda dan orang-orang di sekitarnya untuk hidup lebih sadar lingkungan. Gerakan yang ia lakukan ini berawal dari usahanya untuk memanfaatkan dan mengolah sampah menjadi barang yang lebih berguna. Ia mengolah kembali sampah tanaman dan sayuran menjadi pupuk kompos yang sangat bermanfaat untuk tanaman sayuran dan buah-buahan di kebunnya. Profesinya sebagai seorang guru di SMPN 11 Bengkulu, membantu untuk memperkenalkan metode pemanfaatan sampah organik dan pengomposan ini ke dalam kurikulum sekolah.

Usahanya untuk sampai masuk ke kurikulum sekolah tidak semudah membalik telapak tangan.  Awalnya, kendala dan tantangan justru datang dari pihak sekolah. Percobaan-percobaan kompos yang dilakukan Bu Yulia sempat ditentang karena menimbulkan bau yang tak sedap. Hal itu sangat wajar, sebab dalam proses pengomposan, diperlukan tahapan pembusukan yang menggunakan cairan EM4 dan kotoran ternak yang dikeringkan, yang menimbulkan bau tidak sedap dan menyengat. Hal itulah yang sempat membuat pihak sekolah marah. Namun demikian, Bu Yulia tidak patah arang. Ia tetap melanjutkan percobaan itu sampai berhasil.

Selang beberapa waktu, kerja kerasnya berakhir dengan hasil yang memuaskan. Istri dari Petrus Widiyanto, dan ibu dari 3 orang anak, yaitu Felix Wibowo, Agustinus Windarto, dan Maria Meilla Widiasti; ini dapat membuktikan bahwa kompos hasil percobaannya cukup efektif untuk menyuburkan berbagai macam tanaman bunga, buah-buahan, dan sayuran. Bagi pihak sekolah, keberhasilan Bu Yulia dalam pembuatan kompos tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk anak-anak didiknya. Mereka sejak dini diperkenalkan untuk menjaga lingkungan dan kelestarian alam, dengan cara mengelola sampah organik dan anorganik. Sementara itu, para petani di lingkungan Bu Yuliajuga disadarkan untuk lebih menggunakan pupuk yang berbahan organik daripada pupuk kimia. Pembuatan pupuk dari kompos ini juga membuka peluang usaha bagi para petani untuk dapat memproduksi pupuk sendiri sehingga dapat lebih menghemat pengeluaran mereka. 

Gregorius Endrianto dan Yulia Suparti melakukan kegiatan-kegiatan yang berbeda namun dengan tujuan yang sama: untuk hidup berdampingan dengan alam secara harmonis. Tantangan-tantangan yang dihadapi juga berbeda, namun tantangan terbesar beliau berdua sama, yaitu meyakinkan dan membuktikan kepada orang lain bahwa apa yang mereka lakukan adalah baik dan bermanfaat sebelum mereka mau mengikuti jejak beliau berdua ini   mdk

 

Ditulis oleh Martin Dody Kumoro saat mendampingi Gregorius Endrianto dan Yulia Suparti dalam ‘Caritas Asia Regional Farmers’ Conference’ yang diadakan oleh Caritas Asia di Dhulikhel, Nepal, tanggal 21-25 April 2015.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta