Menyusun Indikator Resiliensi – Caritas Indonesia – KARINA

Menyusun Indikator Resiliensi

05/08/2015

Isu Resiliensi kembali dibahas dan didiskusikan. Kali ini fokusnya adalah pada indikator-indikator untuk dapat digunakan sebagai pedoman untuk melaksakan sebuah program. Pembahasan tentang indikator resiliensi ini diadakan di Gunung Sitoli, Nias yang merupakan kelanjutan pembahasan isu Resiliensi pada tahun lalu yang diadakan di Yogyakarta. Selain rekan-rekan dari Caritas PSE Keuskupan Sibolga yang menjadi tuan rumah, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh 6 perwakilan keuskupan lainnya, yaitu KARITO, KARINA Keuskupan Agung Semarang (KAS), Caritas Bandung, Caritas PSE Keuskupan Maumere, Caritas Keuskupan Agung Pontianak, dan Caritas Keuskupan Ketapang. Fasilitator untuk kegiatan ini adalah Tim dari KARINA. Kegiatan ini diadakan selama 3 hari dari tanggal 28 Juli sampai dengan tanggal 30 Juli 2015.

Diawali dengan pemaparan tentang Konteks Resiliensi di Indonesia, proses pembentukan konsep, karakter dan indikatornya, serta tantangan yang dihadapi atas indikator yang ada. Pemaparan tersebut memancing para peserta untuk berdiskusi tentang indikator resiliensi tersebut. Untuk semakin mengarahkan dan memberikan konteks kepada para peserta tentang apa yang ingin dicapai selama proses tiga hari tersebut, para peserta, dalam diskusi kelompok, diminta untuk membahas tentang indikator resiliensi berdasarkan 3 pendekatan, yaitu Livelihood, Adaptasi Perubahan Iklim (API), dan DRR. Namun sebelum masuk ke diskusi kelompok tersebut, 3 orang peserta dari keuskupan melakukan presentasi tentang apa yang sudah dilaksanakan di masing-masing keuskupan berdasarkan ketiga pendekatan tersebut di atas. Bapak Drajat mempresentasikan kegiatan yang dilaksanakan di KARITO dengan pendekatan DRR. Bapak Pasifisius Wangge, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Om Yufen, mempresentasikan kegiatan yang dilaksanakan di Caritas Keuskupan Maumere dengan pendekatan API sedangkan kegiatan dengan menggunakan pendekatan Livelihood dipresentasikan oleh Mas Bayu dari KARINA KAS. 

Hasil yang didapat dari diskusi kelompok kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama dan kemudian dibawa sebagai bahan pembahasan di hari berikutnya. Pada hari kedua, para peserta diajak untuk berkunjung ke kantor Caritas PSE Keuskupan Sibolga untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang program-program yang dijalankan dengan ‘payung’ Resiliensi. Hadir pula para perwakilan dari Kelompok Swadaya Masyarakat dampingan Caritas PSE Keuskupan Sibolga. Diskusi berjalan dengan menarik karena para anggota KSM menceritakan pengalaman-pengalaman mereka dan membandingkan kondisi mereka sebelum dan sesudah mendapatkan pendampingan Caritas PSE Keuskupan Sibolga. Diskusi pun berjalan semakin intens ketiga para peserta kembali dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan pendekatan-pendekatan. Praktik-praktik baik,salah satunya, coba digali dari para perwakilan KSM dalam diskusi kelompok tersebut dikaitkan dengan pendekatan masing-masing kelompok. Hasil-hasil diskusi kelompok kemudian dipresentasikan dan disandingkan dengan temuan indikator dari hasil diskusi di hari pertama. Kegiatan hari kedua ini kemudian dilanjutkan dengan paparan dari Bapak Frans Esensiator tentang bagaimana Caritas PSE Keuskupan Sibolga menjalankan program-programnya dengan berpayung pada konsep resiliensi.

Di hari ketiga, para peserta diajak untuk semakin menajamkan indikator-indikator resiliensi berdasarkan temuan-temuan yang didapat selama 2 hari sebelumnya. Temuan-temuan berdasarkan 3 pendekatan tersebut (API, Livelihood, dan DRR) kemudian dilihat ‘irisan-irisannya’. Dari irisan-irisan tersebut dapat dilihat bahwa kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan masing-masing pendekatan tersebut tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Terdapat unsur pendekatan DRR ketika menjalankan program Livelihood sambil tentu saja mempertimbangkan API, misalnya. Indikator-indikator Resiliensi pun bisa disusun pada hari terakhir ini berdasarkan kesepakatan-kesepakatan. Adapun kesepakatan-kesepakatan tersebut antara lain bahwa format Indikator Resiliensi tidak berdasarkan karakter-karakter (tanggap, tanggon, ulet, dan berdaya) tapi langsung ke format umum Indikator. Kesepakatan lainnya adalah bahwa karakter Resiliensi KARINA dapat digunakan untuk evaluasi di akhir proses. Karakter tetap dapat digunakan ketika melihat ke masyarakat, untuk melihat seberapa tangguh masyarakat dampingan. Selain Indikator Resiliensi, para peserta pun menyusun Rencana Tindak Lanjut atas indikator yang sudah dihasilkan bersama tersebut. Pada hari yang sama, sempat dibahas juga mengenai Indikator Desa Tangguh milik BNPB. Dari hasil diskusi dengan para peserta muncul pemikiran bahwa indikator-indikator tersebut sebenarnya sudah mempertimbangkan berbagai aspek namun dibutuhkan pendampingan dari BNPB setelah pelatihan dan keberlanjutannya. Dan muncul gagasan untuk menyampaikan indikator jaringan Caritas beserta praktek-praktek baik atau kisah-kisah keberhasilan sebagai justifikasi atas apa yang telah dilakukan selama ini. Hal ini disamping untuk meningkatkan visibilitas Caritas juga merupakan langkah advokasi. MDK

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta