“Menemukan Gereja Orang Miskin” – Caritas Indonesia – KARINA

“Menemukan Gereja Orang Miskin”

16/11/2016

Menengok pengembangan ketangguhan kelompok perempuan keluarga migran di Manggarai.

“Nama saya Mika, saya bekerja di Caritas Canada. Saya bisa Bahasa Indonesia hanya sedikit saja. Sebab 40 tahun yang lalu, saat saya muda, saya pernah tinggal 6 bulan di Indonesia. Saya bekerja di Hotel Borobudur dan 2 bulan bekerja di sawah di Lumajang,” demikian Micheline Levesque atau yang sering dipanggil Mika memperkenalkan diri kepada kelompok dampingan Caritas Ruteng di Kolang, Paroki Ponggeok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Pada tanggal 9-10 November yang lalu, Mika dari Caritas Canada atau Development and Peace Canada mengunjungi kegiatan program yang didanainya di daerah Manggarai, Keuskupan Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Dalam kunjungannya, ia didampingi oleh staf KARINA dan Caritas Ruteng. Romo Edy Jelahu, Manager Program Caritas Ruteng mengantar kunjungan lapangan dengan menyetir sendiri mobil yang ditumpanginya. Ia bersama tim Caritas mengunjungi tujuh kelompok pemberdayaan perempuan keluarga migran di daerah tersebut.

“Berpikir dengan satu kepala itu baik, tetapi berpikir dengan banyak kepala jauh lebih baik. Bekerja sendiri itu baik, tetapi bekerja sama itu jauh lebih baik. Saya senang sekali karena ibu-ibu bisa belajar membuat MOL, membuat pupuk dan menanam sayur organik secara bersama dalam kelompok,” demikian Mika menanggapi kegiatan kelompok perempuan di Torok, Manggarai. Dalam kunjungan tersebut, Mika tidak hanya mendengarkan cerita dari anggota kelompok dampingan, tetapi juga melihat hasil kerja mereka di demplot-demplot yang mereka kerjakan.

sam_7407
Mika sedang berdialog dengan kelompok ibu-ibu.

Pengembangan Ketangguhan Keluarga Migran

KARINA bekerjasama dengan Caritas Keuskupun Ruteng dan Komisi-Komisi di Keuskupan tersebut melaksanakan program pemberdayaan kelompok perempuan keluarga migran. Anggota kelompok perempuan ini adalah para ibu yang ditinggalkan oleh suaminya merantau mencari pekerjaan di daerah atau negara lain. Mereka sering dianggap sebagai “para janda bersuami”. Mereka disebut demikian, karena banyak diantara mereka yang lama ditinggalkan suaminya merantau untuk mencari pekerjaan. Bahkan ada di antara mereka yang tidak mendapatkan kiriman uang atau kabar dari suami mereka. Oleh karena itu, mereka harus menghidupi diri dan anak-anak mereka dengan bekerja keras. Dengan status sebagai “janda bersuami” mereka juga sering mendapatkan cap negatif dari masyarakat sekitar.

Kegiatan program pelayanan KARINA dan Caritas Keuskupan Ruteng ini didanai oleh Caritas Canada dan Caritas Italia. Kegiatan program berfokus untuk pemberdayaan kelompok perempuan keluarga migran dalam upaya menyediakan ketersediaan dan kedaulatan pangan bagi keluarga mereka. Dalam periode Juli 2016 hingga Juni 2017 ada 8 kelompok yang didampingi. Kelompok dampingan mengembangkan pertanian organik yang diintegrasikan dengan kegiatan lain, seperti pembuatan pupuk alami, beternak kambing dan pendidikan penyadaran akan pentingnya mengonsumsi makanan sehat dari kebun mereka sendiri. Kegiatan pendampingan kelompok ini tidak bisa dipisahkan dari kegiatan pengurangan risiko bencana. Dengan merawat lingkungan, lewat pertanian organik dan menyiapkan modal sosial dalam kerja kelompok berarti juga mempersiapkan diri dalam kesiap-siagaan menghadapi bencana. Kemiskinan dan kelaparan adalah bentuk bencana yang sering mengintip masyarakat di daerah miskin. Jenis bencana ini sering kurang mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, karena kejadiannya berlangsung pelan dan dalam waktu lama, namun berdampak sangat buruk bagi masyarakat miskin.

sam_7426
Melihat hasil tanaman dan sayuran di demplot yang dikelola oleh kelompok ibu-ibu.

Pemberdayaan kelompok, penguatan kapasitas kelompok, kerjasama, keakraban, rasa aman, nyaman, bahagia, dan damai berada dalam kelompok adalah hal penting yang dibangun sepanjang implementasi program. “Membentuk dan merawat kelompok merupakan upaya pengurangan risiko bencana menuju ketangguhan komunitas. Sebuah komunitas yang memiliki kelompok kerjasama, di dalamnya akan lebih tangguh untuk menghadapi bencana, ketimbang komunitas yang tidak memiliki kelompok kerja sama. Komunitas yang memiliki kelompok kerjasama akan lebih mudah mengorganisir diri dalam merespon bencana, daripada komunitas yang tidak memiliki kelompok kerja sama. Jadi, dengan membentuk kelompok dalam sebuah komunitas, maka sudah satu langkah menuju pengurangan risiko bencana,” demikian Mika meneguhkan dan mengapresiasi kegiatan kelompok yang sedang dijalankan. Mika juga mengapresiasi kelompok yang memprioritaskan hasil sayur organik yang mereka tanam pertama-tama untuk konsumsi sendiri dan baru menjual sisanya untuk penambahan pendapatan. Karena biasanya, menurut dia, para petani menjual hasil pertaniannya yang bagus dan sisanya yang kurang bagus dikonsumsi sendiri. Atau bahkan mereka menjual hasil pertaniannya yang bagus dan membeli yang kurang bagus dengan harga yang murah untuk konsumsi mereka.

Disamping mengapresiasi kerja-kerja kelompok dampingan, Mika juga memberikan selamat dan apresiasi kepada KARINA dan Caritas Keuskupan Ruteng yang telah memfasilitasi dan mendampingi kelompok-kelompok perempuan ini.

“Caritas Keuskupan Ruteng dan KARINA telah memberikan kebebasan masing-masing kelompok berkembang seturut keunikannya masing-masing. Tidak ada upaya dari Caritas Keuskupan Ruteng dan KARINA menyeragamkan mekanisme kelompok. Kelompok diberi kebebasan untuk mengatur kelompoknya masing-masing sesuai dengan kondisinya masing-masing. Hal ini melahirkan kreativitas di setiap kelompok untuk menemukan jalannya sendiri menuju ke arah keberlanjutan. Sesungguhnya yang benar-benar memahami persoalan adalah kelompok dan karena itu, yang sungguh-sungguh mampu mencari dan menemukan jalan keluarnya adalah kelompok itu sendiri,” kata Mika melihat kreatifitas dan kekhasan setiap kelompok yang didampingi.

Di akhir kunjungannya Mika mengungkapkan refleksi pribadinya melihat kelompok-kelompok perempuan yang bekerja keras untuk mengupayakan ketangguhan mereka. Ia juga mengapresiasi keterlibatan Gereja kepada orang miskin. “Di sini untuk pertama kalinya dalam hidup saya menemukan jawaban yang benar tentang Gereja orang miskin. Di sini saya melihat seorang imam menyetir mobil datang ke masyarakat kecil, menyapa dan berbicara dengan mereka dan makan bersama mereka apa adanya. Pengalaman seperti ini tidak pernah saya jumpai dan alami.” Kata Mika menutup kunjungannya.

Kunjungan lapangan Caritas Canada berakhir di Cimbul. Bagi Mika, kunjungan ini mendapatkan banyak informasi tentang situasi dan gambaran kemajuan program, sekaligus juga meneguhkan banyak pengalaman tentang suka-duka ibu-ibu keluarga migran. Bagi keluarga migran, kunjungan Mika dari Caritas Canada ini merupakan sapaan penuh kehangatan dan harapan. Perjumpaan antara pemberi bantuan dan masyarakat yang dibantu tidak terasa sebagai perjumpaan antara pemberi dan penerima. Masing-masing pihak saling memberi dan menerima, maka kedua belah pihak merasakan persaudaraan yang hangat dan akrab. Ini tampak dari ungkapan ibu-ibu anggota kelompok yang menangis ketika Mika minta pamit untuk pulang.*** AS & DN (Foto: doc.karina)

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta