Menembus Keterbatasan (Feature Yurdanus) – Caritas Indonesia – KARINA

Menembus Keterbatasan (Feature Yurdanus)

06/02/2017
Yurdanus memfasilitasi pertemuan Kelompok Ekowisata @photo KARINA

Air, berkah atau musibah? Teman atau lawan? Harapan atau ancaman? Jawabannya tergantung bagaimana orang memperlakukan. Yordanus Jan Jansen membuktikan bahwa air merupakan berkah dan sumber kehidupan. Itu terus mengalir tiada henti, mengalirkan kehidupan bagi setiap orang.

Hujan turun tak kunjung henti. Awan hitam menggelayut di balik gedung-gedung pencakar langit. Halilintar sesekali menyambar. Sungai-sungai keruh, penuh dengan tumpukan sampah. Air menghitam memperlihatkan wajah seram.  Banjir menjadi ancaman yang sewaktu-waktu bisa datang. Berbagai jenis penyakit bisa menyerang. Rumah-rumah warga dan perkantoran terendam dan sepi ditinggal penghuni. Aktivitas warga terhenti. Transportasi lumpuh. Listrik padam di beberapa wilayah. Yang nampak hanyalah perahu-perahu emergency rescue berseliweran di gang-gang dan jalan hunian warga yang sudah terendam air.

Itulah situasi banjir besar di Jakarta pada bulan Januari dan Februari 2013. Banjir besar melumpuhkan ibukota Republik Indonesia dan telah menelan korban jiwa. Bencana itu menyebabkan 20 korban meninggal dan 33.500 orang mengungsi. Air menggenangi kawasan Sudirman, termasuk Bundaran Hotel Indonesia (HI) akibat tanggul Kali Cipinang, di dekat HI jebol. Diperkirakan banjir itu menyebabkan kerugian hingga Rp 20 triliun.[1]

Banjir Jakarta 2013 @photo google.
Banjir Jakarta 2013 @photo courtesy google.

Pemandangan kontras terjadi di Dusun Tembak, Desa Gurung Mali, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Air sungai di tengah belantara hutan berkelok-kelok bagai naga raksasa. Gemerlap riak-riak alirannya yang diterpa matahari bagaikan sisik emas naga raksasa. Airnya jernih berkilau bagaikan cermin. Pohon rindang dan burung-burung yang bercengkerama di dahan terpantul jelas di permukaan airnya. Suara gemericik alirannya mengiringi senandung kicauan burung. Simponi gita alam terdengar merdu.

KARINA – Caritas Indonesia berkesempatan mengunjungi kegiatan masyarakat dampingan Caritas Sintang di Dusun Tembak, Sintang pada bulan Oktober 2016. Pada saat itu KARINA berbincang-bincang dengan Yurdanus Jan Jansen, ketua kelompok ekowisata, yang berhasil menciptakan listrik dari tenaga aliran air sungai di desanya sembari menjaga pelestarian hutan adat mereka.

Perjalanan menantang ke Tembak @photo KARINA
Perjalanan menantang ke Tembak @photo KARINA

Ayunan langkah kaki Yurdanus Jan Jansen kian cepat ketika mendekati aliran air penggerak turbin. Mata pria Dayak berkulit putih ini bebinar-binar ketika menceriterakan kisah keberhasilannya. Ia dan kelompok kecilnya membangun energi dan instalasi listrik dari aliran air sungai.  Walaupun desanya sangat terpencil dan pelayanan publik dari pemerintah minim, namun tak ada nada protes sedikitpun padanya. Ia tidak mau cengeng dan menyerah dengan keadaan gelap di desanya karena tidak ada aliran listrik. Bermodal kreatifitas, tekad dan semangat pantang menyerah, Yurdanus dan kelompok kecilnya terus berusaha mendapatkan solusi atas masalah kegelapan di desanya. Ini tentu berbeda dengan sebagian orang yang tinggal di kota-kota, ketika listrik padam sebentar saja sudah mengeluh protes. Sebaliknya, pria berusia 45 tahun ini berjuang keras memeras otaknya untuk  menemukan cara bagaimana dapat meciptakan tenaga listrik dari sumber daya alam yang disedikan oleh Tuhan. Air sungai yang melimpah di hutan adat mereka, menjadi teman yang dapat diajak untuk memecahkan masalah di desanya ini.

Ketika memandang gemericik aliran air sungai, ia tercenung sambil berpikir, “Mungkinkah gerakan air mengalir ini dapat menghasilkan tenaga listrik”? pikirnya dalam hati. “Tenaga listrik bersumber dari gerakan. Air mengalir bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Jika gerakan aliran air itu menabrak kipas mestinya akan menggerakkan turbin, jika kipas disambungkan dengannya. Selanjutnya turbin akan mengisi tenaga dalam generator yang akan menghasilkan listrik”, begitulah Pria lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu berpikir. Permenungannya itu membangkitkan semangat untuk mencoba. “Pasti bisa”, pikirnya optimis.

Pria kepala keluarga beranak tiga inipun lalu menyampaikan gagasannya kepada pamannya yang bernama Sinko untuk mewujudkan mimpinya itu. Setelah mampu meyakinkan pamannya ia lalu mengajak 7 orang keluarga dekatnya yang lain untuk bergabung membuat uji coba. Ia tahu banyak orang di sekitarnya pesimis bahwa ide dan gagasannya itu akan menjadi kenyataan. Maka ia ingin membuktikannya dengan mengajak keluarganya untuk uji coba terlebih dulu. Tujuh orang anggota keluarganya diajak secara swadaya iuran per orang Rp. 100.000,- untuk mewujudkan gagasannya. Terkumpullah modal sebesar Rp. 700.000,- untuk membeli kable listrik dan membangun selokan aliran air . Itu terjadi pada tahun 2012. Ketika itu harga solar tinggi di daerahnya. Sebelumnya secara swadaya, ia memiliki generator listrik tenanga solar. Namun, disamping tidak bisa dinikmati oleh semua masyarakat di desanya, biaya pembelian solar juga sangat mahal, mengingat letak desa yang terpencil dan tidak ada sarana jalan dan transportasi yang memadahi. “Jika bisa menciptakan tenaga listrik dari tenaga aliran air yang melimpah, mengapa harus menghabiskan uang banyak untuk mendapatkan penerangan,” begitulah pikirnya yang semakin memotivasinya untuk mewujudkan mimpi itu.

Mereka berusaha sendiri tanpa bantuan dari siapapun, entah berupa uang maupun tenaga ahli. Ia mengandalkan logika, kalau air mengalir ada tenaga, pasti bisa diubah menjadi tenaga yang lain (listrik). Memang ia pernah mendengar dan melihat secara sepintas tentang tenaga listrik yang digerakkan oleh tenaga turbin dari aliran air. Ia tidak bisa melihat dan mempelajari itu secara rinci, karena keterbatasan informasi. Sebelum ada listrik di desa itu belum ada televisi. Signal handphone pun tidak tersedia hingga kini. Maka bisa dibayangkan betapa susah untuk mendapatkan informasi dari luar.

Berbekal semangat pantang menyerah, Yurdanus dan kelompok kecilnya memulai percobaannya dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Jeruji turbin penggerak dibuatnya dari papan kayu. Dengan berbagai rintangan dan tantangan, percobaan pertama berhasil, walaupun hampir gagal. Matanya berbinar dan senyumpun mengembang ketika ia berhasil menemukan titik api yang bisa menjadi sumber listrik. Ujicoba pertama masih belum menghasilkan sumber listrik yang maksimal. Maka kemudian ia menyempurnakannya dengan menambah jari-jari kipas turbin yang semula berjumlah 24 menjadi 32, sehingga bisa menghasilkan enerji yang lebih besar. Mereka menciptakan dan memodifikasi generator penggerak dari barang-barang bekas di bengkel. Untuk merangkai dan memodifikasi generator tersebut ia meminta bantuan bengkel untuk melakukannya. Orang bengkel dari Sekadau yang dimintai bantuan heran dan meragukan, mungkinkah alat ini bisa dipakai untuk menghasilkan listrik.

Listrik tenaga air yang dihasilkan @photo KARINA
Listrik tenaga air yang dihasilkan @photo KARINA

Berbekal semangat dan keinginan tahu yang tinggi disertai dengan komitmen untuk warganya ia dan kelompok kecilnyapun dapat mengalirkan listrik di kampung tempat tinggalnya. Keberhasilannya dalam menciptakan aliran listrik dari tenaga air ini telah memberikan inpirasi dan contoh bagi warga desa di sekitarnya. Warga di sekitarnya  pun akhirnya mengikuti jejaknya membangun sendiri instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Dusun Tembak, Desa Gurung Mali kini sudah tidak gelap lagi di malam hari. Anak-anak yang tadinya belajar dengan menggunakan lampu minyak, kini sudah bisa belajar dengan lampu listrik. Masyarakat pun sudah bisa melakukan kegiatan-kegiatan sosial di malam hari. Agung, pengrajin handicraft dari tempurung kelapa bisa mengoperasikan mesinnya siang dan malam. Ibu-ibu rumah tangga bisa tersenyum gembira karena bisa menyimpan makanan di kulkas. Demikian informasi dari luar bisa dilihat dari televisi mereka. Rumah gadang, rumah adat yang biasa dipakai untuk kegiatan sosial dan tempat penginapan para turis wisata lingkungan yang datang di desanya tidak gelap di waktu malam.

Pastor Mamo memfasilitasi pertemuan warga di Rumah Gadang Tembak @photo KARINA
Pastor Mamo memfasilitasi pertemuan warga di Rumah Gadang Tembak @photo KARINA.

Yurdanus Jan Jansen, pria berpendidikan formal rendah tetapi sekualitas doktor ini tidak hanya menjadi inspirator dan motivator bagi warga sekitarnya. Ia juga menjadi ketua kelompok pengelolaan eko-wisata di desanya. Warganya bahkan menghibahkan 2 hektar hutan adatnya kepada Yayasan Kobus untuk mengelola sekolah orangutan. Sekolah orangutan ini mendidik orangutan-orangutan yang pernah dipelihara masyarakat untuk dikembalikan ke habitatnya di hutan. Untuk melestarikan alam dan lingkungannya, Yurdanus bersama warga di desanya, mengelola dan mempromosikan ekowisata. Mereka yakin dengan memelihara alam dan lingkungannya, banyak orang yang bisa menggantungkan hidupnya dari sana.

Sekolah penyelamatan oranghutan di Tembak @photo google
Sekolah penyelamatan oranghutan di Tembak @photo courtesy google

Air, hutan dan kekayaan alam lain ciptaan Tuhan perlu dilestarikan agar umat manusia bisa hidup daripadanya. Mereka menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan bagi banyak orang. Demikian juga Yurdanus Jan Jansen, pria yang murah senyum dan selalu gembira itu telah menjadi sumber inspirasi bukan hanya dari warga di sekitarnya, tetapi juga kita semua. Sosok pria optimis dan pantang menyerah dalam menembus keterbatasan. (@KARINA AD)

Untuk melihat secara visual feature ini, silahkan lihat ditautan video berikut: https://youtu.be/D2kvtynyX6M

[1] http://www.anehdidunia.com/2015/01/banjir-besar-lumpuhkan-jakarta.html

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta