2026/08/04 - 11:57:02am

Yang Selamat, Yang Menyalakan Jalan Pulang Merajut ekosistem perlindungan bagi penyintas, di tengah kejahatan yang terus berganti wajah

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

JAKARTA — Usia sebelas tahun semestinya diisi dengan bangku sekolah, permainan sore hari, dan pelukan keluarga. Tapi bagi Endang Supriati, usia itu menjadi garis batas: antara dunia yang ia kenal, dan delapan tahun kegelapan yang menyusul sesudahnya. Ia dibawa pergi dari kampung halaman, dipisahkan dari keluarganya, lalu dimasukkan ke dalam sebuah jaringan eksploitasi bersama 25 anak lain yang bernasib sama. Delapan tahun berikutnya berlalu tanpa upah, tanpa perlindungan, hanya kekerasan fisik yang datang berulang, dan tubuh kanak-kanaknya yang dijadikan objek oleh orang-orang yang seharusnya menjaga anak-anak seusianya.

Endang bertahan. Dan ketika akhirnya ia berhasil keluar dari jaringan itu, pemulihannya tidak datang dengan sendirinya, ia datang lewat pendampingan panjang dari Prof. Irwanto, seorang yang menemaninya langkah demi langkah, menyusun kembali kepercayaan diri dan rasa aman yang telah dirampas selama delapan tahun. Hari ini, perempuan yang dulunya adalah korban itu telah menjadi pendamping bagi penyintas lain, bahkan mendirikan yayasannya sendiri untuk memastikan tak seorang pun mengalami apa yang pernah ia alami sendirian.

 

“Saya tahu betul rasanya tidak didengar. Karena itu, saya memilih untuk selalu ada, mendengarkan, dan menemani.”

—  Endang Supriati, penyintas dan pendamping

 

Kisah Endang bukan hanya catatan masa lalu yang menyakitkan. Ia adalah pengingat, tepat ketika dunia memperingati Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia setiap 30 Juli, bahwa perbudakan modern tidak pernah benar-benar berakhir,  ia hanya berganti wajah, berpindah bentuk, dan terus mencari celah paling rentan dalam diri manusia: kemiskinan, harapan akan pekerjaan yang lebih baik, dan kepercayaan yang mudah disalahgunakan.

 

Wajah-Wajah Lain Yang Tak Kalah Pilu

Endang bukan satu-satunya wajah dari persoalan ini. Dalam sebuah forum nasional yang menghimpun Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang (Jarnas), sejumlah kasus lain turut diungkap, masing-masing dengan luka yang berbeda, namun berakar pada persoalan yang sama. Ada anak yang kembali menjadi korban setelah dijual oleh keluarganya sendiri. Ada perempuan yang dipulangkan dari Malaysia dalam kondisi sakit parah, diduga kanker, setelah bertahun-tahun tak mendapat akses kesehatan yang layak. Ada pula seorang perempuan yang diselamatkan dari Batam, yang baru menyadari dirinya hamil delapan bulan setelah proses penyelamatan berlangsung, tanpa pernah tahu, sepanjang waktu itu, bahwa ia tengah mengandung.

Kasus-kasus ini menunjukkan satu hal yang kerap luput dari perhatian publik: dampak perdagangan orang tidak berhenti pada momen penyelamatan. Ia menjalar jauh ke ranah kesehatan fisik, kesehatan jiwa, dan kehidupan sosial korban, bahkan bertahun-tahun setelah mereka “bebas” secara hukum.

 

Merajut Ekosistem, Menutup Celah

Menjawab kompleksitas itu, sejumlah pemangku kepentingan duduk bersama dalam forum yang digagas Jarnas, menghadirkan penyintas, aparat penegak hukum, tokoh gereja yang mengelola rumah aman di wilayah perbatasan, hingga Menteri Sosial. Forum ini ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Jarnas dan sejumlah lembaga negara: Kementerian Sosial, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran, Kepolisian RI, serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), langkah yang diharapkan menutup celah koordinasi yang selama ini kerap membuat penanganan kasus berjalan lambat dan terfragmentasi.

Rahayu Saraswati Djoyohadikusumo, Ketua Umum Jarnas, menegaskan pentingnya jaringan yang bisa bergerak cepat begitu ada indikasi korban. “Kita sedang menyusun peta jaringan layanan, rumah aman, psikolog, advokat, di setiap provinsi, agar ketika satu korban ditemukan, seluruh sistem rujukan sudah siap menyambutnya, tanpa korban harus menunggu atau berpindah-pindah tangan,” ujarnya.

Dari sisi penegakan hukum, Enggar Parianom, Wakil Direktur Tindak Pidana Perdagangan Orang Bareskrim Polri, mengakui bahwa modus kejahatan telah bergeser jauh dari gambaran lama tentang perdagangan orang. Sindikat kini beroperasi lewat platform digital, menyamarkan jerat mereka di balik tawaran pekerjaan yang tampak meyakinkan di media sosial. Ia menekankan bahwa penguatan gugus tugas daerah, kemampuan deteksi modus digital, hingga pelacakan aliran dana sindikat menjadi prioritas ke depan, sebab kejahatan ini kerap bertaut dengan pencucian uang dan jaringan kriminal lain.

Di wilayah perbatasan, Romo Pascalis, yang sehari-hari mengelola rumah aman bagi korban lintas batas, berbagi pandangan lain: banyak kasus yang tak pernah tercatat karena terjadi jauh dari pusat perhatian. “Kami di perbatasan sering menjadi tempat pertama yang menerima korban, jauh sebelum negara tahu ada yang perlu diselamatkan. Karena itu, data dari lapangan seperti ini yang harus terus mengalir ke pusat, agar peta titik rawan bisa benar-benar mencerminkan kenyataan,” katanya.

Sementara itu, Menteri Sosial Syaifullah Yusuf berkomitmen membuka akses Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) dan sentra-sentra layanan terpadu Kementerian Sosial bagi jaringan Jarnas, sekaligus mengintegrasikan data korban ke dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, langkah yang diharapkan mengurangi beban korban yang selama ini kerap harus menceritakan kembali pengalaman traumatis mereka berkali-kali kepada lembaga yang berbeda-beda.

 

“Ketika satu korban ditemukan, seluruh sistem rujukan sudah harus siap menyambutnya — tanpa ia harus menunggu atau berpindah-pindah tangan.”

—  Rahayu Saraswati Djoyohadikusumo, Ketua Umum Jarnas

 

Ketika Kejahatan Berpindah Ke Layar Ponsel

Pergeseran modus ke ranah digital inilah yang mendorong lahirnya inisiatif lain, tak lama berselang, dari arah yang berbeda: sebuah webinar bertajuk “Kecerdasan Buatan untuk Mencegah Perekrutan ke dalam Aktivitas Penipuan”, digagas Dark Bali bersama Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang. Forum ini menyoroti fenomena yang belakangan meresahkan banyak keluarga Indonesia: perekrutan warga negara ke pusat-pusat penipuan daring atau online scam compounds di kawasan Asia Tenggara, korban biasanya dijanjikan gaji tinggi dan pekerjaan kantoran ringan, sebelum akhirnya paspor mereka disita dan mereka dipaksa menjalankan penipuan terhadap orang lain, sembari menjadi korban eksploitasi itu sendiri.

Priyank Mathur, Direktur Eksekutif Mythos Labs, yang menjadi narasumber utama dalam forum tersebut, menjelaskan bahwa kecerdasan buatan yang selama ini dipakai pelaku kejahatan untuk menyamarkan lowongan palsu, sesungguhnya bisa dibalik fungsinya, dilatih untuk mengenali ciri khas iklan lowongan kerja mencurigakan, memetakan jaringan perekrut di media sosial, bahkan memberi peringatan dini kepada calon korban sebelum mereka mengambil keputusan yang fatal.

Namun para pembicara dalam forum itu juga sepakat pada satu hal: teknologi secanggih apa pun tidak akan berarti banyak tanpa literasi digital masyarakat, kerja sama lintas lembaga, dan saluran pelaporan yang responsif. Kesenjangan akses teknologi di daerah, keterbatasan data untuk melatih sistem deteksi, serta regulasi yang harus terus mengejar laju inovasi kejahatan siber, masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

 

Peran Yang Tak Boleh Berhenti Di Satu Pihak

Baik forum yang menghadirkan penyintas maupun forum yang membahas kecerdasan buatan, keduanya bermuara pada pesan yang sama: pencegahan dan pemulihan perdagangan orang tak bisa digantungkan pada satu lembaga saja. Ia membutuhkan jejaring yang hidup, mulai dari masyarakat yang mau melaporkan kejanggalan di sekitarnya melalui saluran seperti 110, organisasi masyarakat sipil seperti Caritas yang menopang layanan pemulihan dan pendampingan di akar rumput, hingga pemerintah dan aparat penegak hukum yang berani menjerat bukan hanya pelaku lapangan, tetapi juga otak di balik sindikat.

Endang Supriati adalah bukti bahwa dari luka yang paling dalam sekalipun, seseorang bisa bangkit dan menjadi cahaya bagi yang lain. Namun tak seorang pun seharusnya harus melalui delapan tahun kegelapan untuk sampai pada titik itu. Di Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia ini, tugas kita bersama sederhana sekaligus berat: memastikan jalan pulang bagi korban tidak lagi menjadi jalan yang panjang dan sunyi, melainkan jalan yang, sejak awal, telah disiapkan banyak tangan untuk menyambutnya.

Salam Belarasa

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua