2026/02/19 - 02:33:42pm

Warga dan Gereja Merespon Siklon Senyar

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

Setelah banjir bandang dan longsor memporakporandakan tiga provinsi di Sumatra dan menelan jutaan korban terdampak, Gereja Katolik Indonesia bergerak cepat menggalang aksi tanggap darurat. Caritas Indonesia, bersama di tiga keuskupan (Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang, dan Keuskupan Agung Medan) mendukung warga, bahu-membahu bangkit setelah amukan Siklon Senyar 25-27 November 2025.

 

Siklon Senyar mengakibatkan kerusakan di tiga provinsi, yang membentang dari Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Usaha warga untuk bangkit, sekaligus mengingatkan bahwa puluhan tahun deforestasi telah menjadikan Pulau Sumatra rentan terhadap bencana ekologis.

 

Caritas Indonesia bekerja bersama Caritas-PSE Keuskupan Sibolga, Caritas Keuskupan Padang, dan Caritas Keuskupan Agung Medan. Kerja sama ini menjadi wujud kehadiran Gereja Katolik Indonesia. Dengan kerja sama lintas keuskupan dan dukungan umat, Gereja berharap dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga ciptaan.

 

Asa di Sekolah Darurat

Bangunan terbuat dari kayu dan beratap daun kelapa, berdiri di Desa Kebun Pisang, Kec. Badiri, Tapanuli Tengah. Sepanduk kecil di depan bangunan itu bertuliskan “Sekolah Darurat: SD Negeri 157623 Pagaranhonas”. Tempat sederhana ini menjadi gambaran jelas anak-anak bangsa yang menolak menyerah pada bencana. Sejak pertengahan Januari 2026, anak-anak kembali bersekolah di “sekolah darurat” ini yang berdiri sebagai bagian dari Pos Pengungsian Kebun Pisang. 

 

Pagi hari, anak-anak di pos pengungsian bergegas berganti pakaian seragam sekolah. Setelah siap, mereka berjalan menuju ke ruang kelas. Meski semua serba terbatas, semangat mereka untuk terus belajar jelas terlihat.

 

“Mereka tidak menyerah, setiap hari mereka datang untuk belajar di tempat ini,” ujar Sulaiman, Kepala Sekolah SD Negeri 157623 Pagaranhonas.

 

Pada situasi pasca bencana, pembelajaran di sekolah darurat ini tidak sepenuhnya mengikuti jam belajar seperti sekolah pada situasi normal. Materi pembelajaran yang diberikan lebih sederhana, dan tidak membebani siswa dengan tugas yang terlampau berat. Hal ini dimaksudkan, agar para siswa dapat menjalani hari-hari mereka dengan lebih ringan.

 

Caritas Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama beberapa lembaga sosial lain menginisiasi berdirinya sekolah darurat ini, sehingga para siswa penyintas bencana masih dapat tetap sekolah. Ada enam ruangan yang disiapkan sebagai pengganti gedung SD Negeri 157623 Pagaranhonas yang rusak parah akibat banjir. Untuk dapat menampung seratus lebih siswa, maka jadwal belajar diatur agar semua dapat sekolah.

 

 

Pelayanan kesehatan sebagai bagian dari Respon Banjir Sumatra di Sibolga juga menyasar anak-anak sekolah. Dok. Caritas Indonesia

 

 

Di sela-sela waktu belajar, anak-anak juga diberikan pendampingan psikososial. Sr. Klaudi OSU bersama beberapa suster dan relawan bertugas memberikan pendampingan psikososial untuk anak-anak sekolah darurat. Biarawati dari Ordo St. Ursula (OSU) ini mendampingi setiap hari, sehingga anak-anak dapat menemukan kembali keceriaan dan kebahagiaan di tengah situasi pasca bencana.

 

“Pendampingan psikososial untuk anak ini penting, sehingga mereka dapat bermain bersama dan kembali menemukan keceriaan,” ujar Sr. Klaudi.

 

Pelayanan untuk Semua

Masih di pagi hari, keriuhan sudah dimulai di sudut lain di dari Pos Pengungsian Kebun Pisang. Di tempat itu, ibu-ibu bergotong-royong menyiapkan menu makanan untuk keluarga-keluarga penyintas bencana, yang masih mengungsi. Setiap hari, mereka menyiapkan menu untuk lebih sekitar 1300 KK masih tinggal di pos pengungsian. 

 

Di dapur umum sederhana itu, aroma masakan mulai tercium sejak matahari baru naik. Ada yang bertugas mencuci beras, mengiris sayuran, menyiapkan lauk, hingga mengaduk panci besar berisi sayur sop atau bubur. Semua dilakukan dengan penuh semangat meski fasilitas terbatas. Kayu bakar dan kompor gas dipakai bergantian.

 

Setiap menu yang disajikan diatur agar bisa memenuhi kebutuhan gizi para pengungsi. Para ibu memastikan makanan dibagikan merata, terutama kepada anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang membutuhkan perhatian khusus.

 

Di Pos Pengungsian Kebun Pisang, respon jaringan Caritas Indonesia ini juga memberikan pelayanan Kesehatan untuk warga penyintas bencana. Pelayanan ini dibantu oleh beberapa dokter dan relawan kesehatan dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta dan beberapa relawan Kesehatan dari beberapa lembaga kesehatan Katolik dari Keuskupan Agung Medan dan Keuskupan Sibolga.

 

Gereja Indonesia Hadir

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC melakukan kunjungan pastoral ke Sibolga, 22 Desember 2026. Ia meninjau langsung respon kebencanaan yang dilakukan oleh jaringan Caritas Indonesia bagi para korban banjir di Sumatra. Mgr. Anton hadir di Sibolga bersama Wakil Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina KWI, Mgr. Pius Riana Prapdi, dan Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Rm. Fredy Rante Taruk, Pr.

 

Kunjungan ini menjadi momentum penting, sekaligus menunjukkan kehadiran Gereja Katolik Indonesia untuk para penyintas bencana banjir di Sumatra. Mgr. Anton dan Mgr. Riana mengunjungi pos pelayanan kesehatan lapangan dan dapur umum yang didirikan jaringan Caritas Indonesia di Sibolga. 

 

 

Ketua KWI, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, Wakil Ketua Badan Pengurus Yayasan KARINA KWI, Mgr. Pius Riana Prapdi, dan Direktur Caritas Indonesia, Rm. Fredy Rante Taruk saat berdialog dengan perwakilan pemerintah desa dan TNI di pos pelayanan Jaringan Caritas Indonesia di Sibolga. Dok. Caritas Indonesia

 

 

Pada kesempatan ini, Mgr. Anton mengingat pesan dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2025, yang salah satu pesannya adalah tentang rumah sakit lapangan. Menurutnya, dalam dengan saudara-saudari yang terdampak bencana, ada kebersamaan yang juga memunculkan solidaritas satu sama lain. 

 

“Baru saja Gereja Katolik Indonesia mengadakan Sidang Agung yang menganjurkan agar Gereja (dalam situasi kebencanaan-red)- menjadi rumah sakit lapangan, tempat konkrit. Inilah rumah sakit lapangan, bahkan ada ada dapur lapangan. Di dalam kebersamaan ini solidaritas terbentuk,” ujar Mgr. Anton. 

 

Selanjutnya, Mgr. Anton menyampaikan belarasa dari Bapa Kardinal dan para uskup dari 38 keuskupan di Indonesia, bagi warga penyintas bencana banjir di Sumatra. Ia juga menyebutkan rasa kedekatan dari Paus Leo XIV bagi para korban bencana banjir di Sumatra.

 

“Para uskup dari seluruh Indonesia, Bapa Kardinal, bahkan Paus Leo XIV, menyampaikan bela rasa dan kedekatannya dengan saudara-saudara yang terkena dampak bencana,” ujarnya. 

 

Sejak awal terjadi bencana banjir di Sumatra, Caritas Indonesia bersama seluruh jaringan terlibat dalam aksi kemanusiaan untuk menolong, mendampingi, dan mencukupi kebutuhan setiap penyintas bencana banjir di Sumatra. Jaringan Caritas Keuskupan dari 38 keuskupan di Indonesia seluruhnya terlibat aktif. Caritas juga mengkoordinir setiap tarekat, kongregasi, universitas, kelompok, organisasi, dan komunitas dalam Gereja Katolik Indonesia. Semangat kebersamaan ini merupakan perwujudan dari semangat “One Church One Response”, di mana seluruh elemen bergerak bersama untuk menolong saudara-saudara para penyintas  bencana banjir di Sumatra.

 

“Dengan semangat kerja sama, pelayanan kemanusiaan Caritas Indonesia dijalankan untuk memberikan pelayanan yang bermartabat dan menjadi tanda nyata kasih Gereja bagi sesama yang sedang berjuang bangkit dari bencana,” ujar Mgr. Anton.

 

1000 Rumah Belarasa

Dalam pertemuan pada 23 Desember 2025, Mgr. Anton menyampaikan gagasan program bantuan pembangunan rumah bagi warga terdampak bencana alam di Sumatra. Gagasan ini lalu disambut baik oleh Romo Fredy yang bertekad untuk mewujudkan harapan ini. Maka, Caritas Indonesia akan mulai mendesain program “1000 Rumah Belarasa Caritas Indonesia” dan akan mengajak umat dan masyarakat untuk berpartisipasi mewujudkan impian ribuan masyarakat yang kehilangan rumah tempat tinggal.

 

Tujuan program ini adalah menyediakan hunian tetap yang layak dan bermartabat bagi warga terdampak yang rumahnya rusak, bahkan hilang pasca bencana banjir. Sejauh ini, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) telah merilis spesifikasi rumah yang akan dibangun untuk warga penyintas bencana dengan nilai anggaran setiap rumah sebesar Rp. 60.000.000.

 

Nantinya, rumah yang dibangun telah memenuhi standar rumah tahan gempa. Rumah ini dibangun dengan tipe-36 yang sudah dilengkapi dua kamar tidur dan satu kamar mandi. 

 

Untuk Gerakan ini, Caritas Indonesia mengajak semua pihak yang berkehendak baik untuk ikut mendukung terwujudnya Gerakan 1000 rumah ini. Gerakan ini digulirkan sebagai dukungan untuk keluarga penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra, sehingga segera memiliki hunian tetap yang aman, layak dan bermartabat. 

 

Kebersamaan Caritas

Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk menyampaikan, Caritas Indonesia telah bergerak sejak awal kebencanaan bersama dengan Caritas di tiga keuskupan. Dalam respon ini, ia menyampaikan, setelah mencermati skala dampak, dan berdasar Protokol Tanggap Darurat yang menjadi pegangan respon bersama jaringan Caritas Indonesia. 

 

“Kita berdiskusi dalam jaringan, dan melalui pendalaman skala dampak, Caritas Indonesia memutuskan respon secara nasional, dengan koordinasi dengan seluruh jaringan dan Caritas Internationalis,” ujarnya. 

 

Caritas Indonesia menjalankan respon tanggap Darurat hingga 31 Desember 2025. Selanjutnya, respon memasuki masa transisi sampai 31 Januari 2026. Memasuki bulan Februari 2026, respon jaringan Caritas Indonesia memasuki masa pemulihan hingga 31 Januari 2027.

 

 

Suasana dapur umum di Pos Pengungsian Pinang Sori, Tapanuli Tengah. Dok. Caritas Indonesia

 

 

Pada respon ini, Romo Fredy menyampaikan, bahwa Caritas Indonesia mengikuti apa yang sudah dicanangkan pemerintah terkait respon kebencanaan pasca Banjir di Sumatra ini. Untuk itu, periode waktu respon disesuaikan dengan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Ia mengatakan, Caritas Indonesia terus berkoordinasi dengan pemerintah dan lembaga-lembaga lain dalam merespon bencana pasca banjir ini.

 

Vikaris Jenderal Keuskupan Sibolga, Romo Ignatius Purwo Suranto, OSC melihat respon bencana ini dari sisi kemanusiaan, yang pertama-tama ingin ditampilkan. Ia mengatakan, sebagai sesama manusia, para penyintas semuanya harus ditolong. Untuk itu, Romo Purwo mengatakan bahwa bantuan diberikan kepada semua penyintas yang membutuhkan.   

 

“Semua yang terdampak, mereka harus kita bantu,” ujarnya.

 

Kehadiran Gereja

Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga menyampaikan bahwa Gereja hadir bersama para penyintas bencana banjir di Sumatra. Ia mengapresiasi, bagaimana para suster pastor, orang muda awam, sungguh dengan berjuang untuk menangani kesulitan umat dan masyarakat. Kerja bersama ini menggerakkan solidaritas, kepedulian dan belarasa. Ia mengatakan, di sinilah Gereja hadir. Kehadiran Gereja untuk semua masyarakat, tanpa membedakan latar belakang. 

 

“Para imam, biarawan-biarawati, umat dan awam, masyarakat bahu-membahu bekerja bersama menyebarkan bantuan kepada masyarakat,” ujarnya. 

 

Mgr. Fransiskus berterima kasih kepada jaringan Caritas Indonesia yang sangat cepat dalam menanggapi situasi bencana ini dengan cepat. Ia juga berterima kasih kepada lembaga lain, ordo dan kongregasi yang sehati-sejiwa dalam mendampingi para penyintas bencana.

 

“Demi martabat manusia, segala hal harus diusahakan,” ujarnya.

 

Ketua Badan Pengurus Yayasan KARINA KWI, Mgr. Aloysius Sudarso menyampaikan, Caritas diberi tugas untuk menemani keuskupan yang sedang mengalami kebencanan. Hal ini yang melandasi mengapa respon segera dibuat setelah kejadian bencana. Solidaritas melandasi kehadiran jaringan Caritas di tengah situasi kebencanaan. 

 

“Kita ditugaskan oleh Gereja Indonesia untuk menjadi teman, mendampingi, menyertai penderitaan yang dialami Gereja setempat, untuk menjadi teman dan mendampingi,” ujarnya.

 

Mgr. Sudarso menyampaikan, Caritas berarti ‘cinta kasih’, namun cinta ini juga mendorong untuk “membagi diri”, juga menjadi “jembatan”, melanjutkan apa yang diterima dari para donatur, untuk siapa saja yang ada dalam kesulitan. Semangat ini perlu dibina di antara umat, sehingga mereka juga dapat menjadi “jembatan” kasih dan belaras. 

 

“Kita membagi, yang kita terima dari orang lain,” ujarnya. 

 

 

Salam Belarasa

 

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua