Roma — Hari kedua CI Health Conference yang diselenggarakan Caritas Internationalis pada Rabu, 24 Juni 2026, membawa para peserta menelusuri tiga wajah tantangan kesehatan global masa kini, antara lain: kecerdasan buatan yang mengubah cara pelayanan diberikan, perubahan iklim yang kian menggerogoti kesehatan masyarakat rentan, dan konflik bersenjata yang merenggut rasa aman jutaan orang.
Sekretaris Jenderal Caritas Internationalis, Alistair Dutton, membuka sesi hari kedua dengan mengajak peserta mengenang akar pelayanan kesehatan Gereja, dan memberi penghargaan kepada para pekerja kecil yang melayani di garis depan, di wilayah terpencil dan berisiko. “Gereja dipanggil untuk menjadi tanda harapan dan kehadiran yang menyembuhkan,” ujarnya, mengingatkan bahwa kesehatan sejati mencakup keutuhan fisik dan batin, dengan keluarga sebagai pusat pelayanan kesehatan Gereja di setiap negara. Ia menutup pengantarnya dengan menyerukan perhatian serius terhadap perkembangan kecerdasan buatan, agar pelayanan Gereja tetap relevan menjawab kesepian, trauma, dan kecemasan yang dialami banyak orang saat ini.
Topik pertama pada hari kedua, mempertemukan Scott Hurd dan Ben Wortham dari Catholic Charities USA, Don Andrea Ciucci dari Pontifical Academy for Life, serta Prof. Joao Miguel Santos dari Católica Medical School, Portugal. Dengan diskusi yang menegaskan bahwa teknologi tidak pernah netral, teknologi selalu membawa nilai dan kepentingan penciptanya. Etika tidak boleh ditempelkan setelah teknologi hadir, melainkan harus menjadi bagian dari desainnya sejak awal, agar AI tidak berubah menjadi bentuk kolonialisasi baru yang memaksakan struktur kekuasaan tertentu kepada kelompok paling rentan.
Para panelis sepakat bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi data. AI dapat mempercepat analisis dan mendukung pengambilan keputusan, tetapi keputusan moral tetap berada di tangan manusia. Kejelasan bahwa seseorang sedang berinteraksi dengan mesin disebut sebagai bagian dari tanggung jawab etis pelayanan, selain perlindungan data sensitif, dampak ekologis konsumsi energi AI, serta perlunya formasi staf dan advokasi kebijakan publik.
Topik kedua menyoroti hubungan kesehatan dan perubahan iklim, dengan kesaksian langsung dari Daud Jibon Das, Direktur Eksekutif Caritas Bangladesh. Ia menggambarkan bagaimana banjir, gelombang panas, dan intrusi air laut di wilayah pesisir telah meningkatkan penyakit yang ditularkan air dan vektor seperti kolera, malaria, dan demam berdarah, sementara sistem peringatan dini dan pendanaan masih sangat terbatas.
Prof. Leonardo Villani dari Università Cattolica del Sacro Cuore, Roma, memperkenalkan konsep kesehatan planet, dimana gagasan bahwa kesejahteraan manusia tidak boleh dicapai dengan mengorbankan sistem alam yang menopang kehidupan. Ia mengutip laporan The Lancet 2024 yang menyebut ancaman kesehatan akibat perubahan iklim telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. P. Aris Miranda dari CADIS menambahkan bahwa seruan bumi dan seruan kaum miskin adalah satu panggilan yang sama, dengan kepemimpinan perempuan di tingkat akar rumput sebagai kunci pemulihan komunitas pascabencana.
Secara daring, Gina Castillo dari Catholic Relief Services memaparkan perjalanan advokasi kesehatan dalam forum iklim global, dari Kesepakatan Paris 2015 hingga COP28 Dubai 2023, yang untuk pertama kalinya menghadirkan pertemuan tingkat menteri khusus iklim dan kesehatan, didukung 149 negara melalui Aliansi ATACH.

Para panelis dalam berbagai sesi diskusi CI Health Conference, Roma, 24 Juni 2026. (Dok. Caritas Indonesia)
Suara dari Wilayah Konflik: Yerusalem dan Ukraina
Topik ketiga membawa kesaksian dari wilayah konflik berkepanjangan. Ramez Razzouk dari Caritas Yerusalem menggambarkan bagaimana ribuan warga kehilangan rumah dan menjadi pengungsi internal, sementara akses layanan kesehatan semakin sulit dijangkau di tengah situasi yang tidak aman. Dari Ukraina, Khrystyna Semegen-Bodak melaporkan kondisi tak kalah berat: hanya satu dari sepuluh orang dapat memperoleh layanan kesehatan memadai, sementara fasilitas kesehatan rusak akibat perang yang tak kunjung usai. Caritas Ukraina merespons melalui pusat layanan terpadu yang mencakup perawatan medis, dukungan psikososial, pendampingan pastoral, hingga tim kesehatan mobile bagi lansia dan kelompok rentan.
Lana Snobar dari Caritas Jordan membagikan praktik baik layanan kesehatan mental: mendengarkan secara mendalam, menjaga kesejahteraan tim pendamping agar tidak mengalami burnout, serta mengintegrasikan dukungan psikososial ke dalam layanan medis. Psikolog senior Marcio Gagliato menutup sesi ini dengan menegaskan bahwa kesehatan mental, pada dasarnya, adalah kemampuan menghadirkan harapan — yang dibangun melalui relasi sehat, keterhubungan sosial, dan komunikasi yang terbuka dan aman.
Kemitraan sebagai Jantung Kerja Kemanusiaan
Hari kedua CI Health Conference ditutup dengan panel tingkat tinggi yang mempertemukan Caritas Internationalis dengan mitra global: Global Fund, UNAIDS, WHO, World Council of Churches, World Vision, dan GAVI. Alistair Dutton menegaskan bahwa kemitraan bukan sekadar kerja sama formal, melainkan kolaborasi yang berakar pada kepercayaan dan komitmen bersama melayani manusia secara utuh. Dengan lebih dari dua ratus organisasi anggota di berbagai negara, ia menggarisbawahi keunggulan jaringan berbasis iman dalam menjangkau komunitas akar rumput yang sulit dicapai sistem formal.
“Kemitraan adalah jantung dari kerja kemanusiaan,” tegas Dutton, oleh karena itu semua pihak diharapkan untuk memandangnya bukan sebagai strategi sementara, melainkan sebagai cara hidup yang mencerminkan solidaritas, keadilan, dan kasih terhadap sesama.
Salam Belarasa