Labuan Bajo sering kali memukau dunia lewat lanskap lautnya yang biru dan pesona Pulau Komodo yang eksotis. Namun, jika kita melangkah sedikit lebih jauh ke wilayah perbukitan dan pedesaan Manggarai Barat, ada sebuah riak perubahan yang sedang tumbuh senyap namun pasti. Riak itu bukan tentang pariwisata, melainkan tentang kedaulatan pangan, tentang bagaimana para petani lokal sedang jatuh cinta kembali pada tanah mereka melalui cara yang paling murni: pertanian organik.
Melalui Program HARVEST (Holistic, Agriculture, Resilience, Vision, Empowerment, Sustainability and Transformation) 2.0, Caritas Keuskupan Labuan Bajo yang berkolaborasi dengan Caritas Indonesia sedang merajut mimpi besar dan didukung Development and Peace Caritas Canada. HARVEST mengubah ketergantungan menjadi kemandirian, dan mengubah tantangan iklim menjadi ketangguhan komunitas. Dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), Caritas memandu masyarakat untuk menemukan aset, dan mengembangkannya menjadi lebih bernilai.
Menemukan Potensi
Setiap komunitas dipercaya memiliki modal berharga, ABCD berangkat dari pemahaman ini. Hal ini juga berlaku untuk para peserta program di Paroki St. Teresia Kalkuta Datak dan Paroki Hati Kudus Yesus Lando. Terletak di wilayah Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, di kedua paroki ini ada potensi pengembangan pertanian, khususnya budidaya padi, jagung, vanili, dan aneka sayuran.
Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Romo Yuvens Rugi mengatakan, proses ABCD membawa peserta program untuk menemukan “aset” lain di sekitar mereka. Dari dinamika dalam kelompok, dan dengan pengalaman dari Caritas Indonesia melakukan pendampingan di keuskupan lain, peserta program diajak untuk mengembangkan pertanian organik.
Kebersamaan peserta program HARVEST di Paroki Datak saat meninjau kondisi rumah bibit yang berada di kebun kelompok. Dok. Caritas Indonesia.
Selama ini, peserta program memahami pertanyan hanya bersawah dan berladang, maka, dalam program ini mereka dikenalkan dengan produksi barang lain: Mikro Organisme Lokal (MOL) sebagai starter kesuburan tanah; Pupuk Organik Cair (POC); Pupuk Organik Padat (POP); dan Pestisida Alami.
“Saya melihat melihat antusias dari peserta program, yang tadinya produksi mereka hanya sebatas padi dan sayuran, kini mereka tahu bahwa mereka juga dapat memproduksi pupuk dan pestisida mandiri,” ujar Romo Yuvens.
Di kedua lokasi ini, masing-masing sebanyak 40 peserta program ikut serta (total 80 peserta). Selama setahun, mereka akan semakin memperdalam semua hal seputar pertanian organik dan pengembangannya di sektor yang lain.
Kepala Paroki Datak, Romo Yohanes Fredy Saldi merasa bahagia melihat antusias umatnya dalam program ini. Ia mengakui, sebagian besar umatnya adalah petani. Selama ini, petani bergantung pada pupuk kimia. Dengan program ini, ia berharap ada dampak ekonomi, Kesehatan, dan lingkungan yang diperoleh umatnya.
“Saya berharap, dengan program ini, umat akan meningkat ekonominya dan menciptakan lingkungan yang semakin sehat,” ujarnya.
Pengembangan Lanjutan
Sekitar 80 kilometer ke timur dari Labuan Bajo, Caritas Keuskupan Ruteng mulai menjalankan program ketahanan pangan ini sejak tahun 2012. Awalnya, program ini menyasar “ibu-ibu migran”. Saat itu, kaum ibu yang ditinggal oleh suaminya merantau, dibekali dengan keterampilan dan pemahaman tentang pertanian organik. Seiring waktu, program untuk ibu migran ini terus berkembang dengan mengembangkan pertanian organik, namun juga micro finance dan kalender tanam.
Dampak signifikan terlihat seiring berjalannya program, ibu-ibu yang awalnya menggantungkan harapan hidup dari kiriman uang anggota keluarga yang bekerja di luar negeri atau luar kota, akhirnya menemukan sumber pendapatan baru. Dalam banyak kasus, beberapa pekerja migran akhirnya memilih pulang karena mendapat kesadaran baru akan potensi pertanian organik yang menjanjikan secara ekonomi.
Salah satu dialami Vinsensius Enga bersama istrinya, Ruri Indarti, yang tidak menyangka, keputusan mereka untuk kembali ke kampung menjadi keputusan tepat yang membuka kehidupan baru dan lebih baik. Ia sebelumnya bekerja di Bali. Umat Paroki Santo Monfort Poco itu dapat memproduksi empat karung (400 kg) pupuk organik padat setiap bulan. Selanjutnya, ia juga mendapat hasil dari penjualan pupuk cair, eco enzim, dan pembasmi hama organik.
Vinsensius Enga memperlihatkan pupuk organik produksinya. Dok. Caritas Indonesia
Ditambah hasil bertani sayuran organik, maka mereka setidaknya dapat menghasilkan sekitar Rp. 2.5 juta setiap bulan. Jumlah ini lebih tinggi dibanding upah minimum Kabupaten Manggarai yang pada tahun 2025 sebesar Rp 2.328.969,-.
Kalender Tanam
Kalender tanam menjadi capaian keberhasilan lain untuk program ketahanan pangan di Ruteng. Kegiatan ini merupakan pendekatan ketahanan iklim yang dikembangkan bersama kelompok tani yang didampingi Caritas Keuskupan Ruteng.
Simfonia Linda menyadari, ada perubahan terjadi dengan cuaca di tempat tinggalnya. Ia ingat, pada bulan Maret sampai April, hujan masih sesekali turun sehingga air tersedia cukup mengairi sawah milik keluarganya. Itu lah mengapa, menanam padi masih dimungkinkan. Apa yang dialami Simfonia dulu dan kini nyatanya berbeda. Perkiraan-perkiraan yang menjadi bagian dari cara orang dulu dalam memperhitungkan masa tanam, nyatanya tidak selalu berhasil, saat diaplikasikan di masa saat ini.
Sering, ia melihat hujan tidak tentu turun, sehingga masa tanam kadang harus diundur. Ketika ketersediaan air kurang, Simfonia terpaksa memulai masa tanam dengan ketersediaan air yang terbatas, sehingga panen menurun. Perubahan iklim, nyatanya sudah berpengaruh dan merubah alam. Kesadaran dan pengetahuan manusia terlambat untuk beradaptasi. Pada situasi inilah, Caritas Keuskupan Ruteng bersama kelompok-kelompok dampingan mengenalkan “Kalender Tanam”, sebagai pendekatan adaptasi perubahan iklim.
Tujuan dari Kalender Tanam ini untuk memberi pemahaman, pengetahuan, dan teknik mengidentifikasi iklim sehingga dapat memberi informasi tentang cuaca dan curah hujan. Dengan pengetahuan ini, maka petani dapat menentukan waktu memulai masa tanam, dan menentukan komoditas yang cocok untuk di tanam, sesuai dengan gambaran curah hujan dalam satu tahun.
Penyusunan Kalender Tanam oleh peserta Program HARVEST di Keuskupan Ruteng. Dok. Caritas Indonesia
Caritas Keuskupan Ruteng memulai kegiatan Kalender Tanam ini sejak tahun 2024, berangkat dari kesadaran bahwa iklim telah berubah dan perlu menyesuaikan. Dari temuan di lapangan, masyarakat pun dapat mengalami gagal panen, meskipun curah hujan dalam satu tahun sangat tinggi. Kalender Tanam menawarkan teknik untuk “membaca iklim” yang bermanfaat bagi petani untuk menentukan awal masa tanam, dan jenis komoditas yang kan ditanam.
Direktur Caritas Keuskupan Ruteng, Romo Benediktus Gaguk mengatakan, dampak utama dari Program HARVEST adalah terbentuknya kesadaran ekologis dalam diri penerima manfaat baik kelompok dampingan maupun anak dan remaja yang dilibatkan dalam implementasi program. Peserta program semakin sadar dampak lingkungan program ini, sebagaimana diamanatkan Laudato Si’.
“Selain itu ada penguatan spiritual, yang diwujudkan melalui misa, doa, dan katekese, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, dan ketekunan dalam bekerja.”
Micro finance memudahkan anggota kelompok mengakses pinjaman keuangan. Ini adalah salah satu jawaban dari kritik yang disampaikan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, “Dunia keuangan melumpuhkan ekonomi riil. Kita belum belajar dari krisis keuangan global, dan kita terlambat belajar dari kerusakan lingkungan.” (LS, 109) Sistem ekonomi dan keuangan dunia tidak pernah belajar dari pelbagai krisis yang terjadi, di mana pertumbuhan ekonomi justru memperlebar kesenjangan, alih-alih semakin menyejahterakan lebih banyak orang.
Salam Belarasa