2026/06/22 - 11:58:40am

Safeguarding, Garda Perlindungan Terdepan

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

Bagi Helen Sitinjak, kata safeguarding awalnya hanyalah deretan huruf asing yang singgah di telinganya. Sebagai orang yang belum pernah bersentuhan langsung dengan penanganan kasus kekerasan pada anak maupun perempuan, istilah itu terasa seperti kabut tebal yang membingungkan dan mencemaskan. Tidak pernah terbersit sekalipun bahwa nantinya dia akan memasuki kabut tebal itu.

Pada program pemulihan EA Sibolga, dia diberi tugas sebagai Focal Point Safeguarding. Tanpa sempat mengikuti pelatihan formal atau pembekalan sebagai focal point, dia berusaha belajar dengan membawa mandat besar, yaitu memastikan tidak boleh ada satu pun warga terdampak yang menjadi terluka atau tereksploitasi oleh program Caritas. Bagi seorang pemula, ada kegelisahan yang menyelinap di hati, "Dari mana saya harus memulai?”

 

Memulai Keberanian

Helen Sitinjak, “Pertama kali mendengar kata safeguarding saat bergabung dengan Caritas, lebih tepatnya saat Kak Susi datang ke Sibolga memberikan pelatihan safeguarding. Selama ini aku belum pernah terlibat dalam isu penanganan kasus kekerasan pada anak dan perempuan. Perasaanku dari awal sampai saat ini campur aduk tidak bisa dikatakan dalam satu kalimat.”

Ujian pertama untuk Helen adalah membangun kepercayaan diri. Dia harus berdiri di depan rekan sejawat, relawan, komunitas hingga staf senior untuk membawakan Safeguarding Briefing. Suaranya sempat bergetar, hatinya dipenuhi keragu-raguan. Namun dia memilih untuk terus mempelajari naskah safeguarding briefing hingga akhirnya mampu melakukannya untuk pertama kalinya. Dalam hidupnya, berbicara soal batasan perilaku kepada orang yang lebih berpengalaman membutuhkan nyali yang besar.

Ujiannya yang kedua adalah ketika harus melakukan adendum semua kontrak dan perjanjian dengan vendor, dengan relawan, dengan pemerintah desa yang sebelumnya tidak memasukkan klausul safeguarding. Tugas ini tidak mudah dilakukan. Dimulai dari kebingungan mengapa harus diaddendum, apa isi addendum, bagaimana cara mengkomunikasikannya, dan bagaimana cara meminta tanda tangan para pihak lagi. Dan sekali lagi, Helen memilih untuk melakukannya sampai tuntas. Bukan sebagai bentuk kecurigaan, melainkan sebagai pengingat adanya sebuah janji tertulis untuk melindungi mereka yang paling rentan.

 

Mendengar Suara Anak

Ujian sesungguhnya terjadi saat kegiatan dia diminta untuk menyelesaikan misi safeguarding anak dalam kegiatan sunatan massal yang tidak dapat diselesaikannya. Helen kewalahan ketika dihadapkan pada kebutuhan safeguarding untuk melengkapi lembar persetujuan anak dan orang tua yang akan mengikuti kegiatan, lembar pernyataan para tenaga kesehatan bahwa mereka tidak pernah melakukan kekerasan, hingga survei umpan balik untuk anak-anak. Sungguh melelahkan.

Namun seperti sebelumnya, Helen memilih untuk tidak menyerah. Sebagai kompensasi dari misi pertamanya yang tidak selesai, Helen mengambil peluang untuk menyelesaikannya saat tim kesehatan melakukan layanan psikososial untuk anak. Dia siapkan lembar pernyataan kode etik untuk ditandatangani fasilitator psikososial, dia berkeliling bersama tim kesehatan untuk mendapatkan 100 tanda tangan kesediaan anak dan persetujuan orang tua untuk mengikuti kegiatan, hingga melakukan audit keselamatan sebelum kegiatan dimulai. Dia memeriksa apakah toilet cukup terang dan aman, apakah ada ruang tersembunyi yang berisiko, hingga memastikan tidak ada kabelkabel listrik yang berserakan di area kegiatan. Audit ini mengubah cara pandangnya, yang mana lokasi yang dulunya dianggap biasa saja kini dia melihat melalui lensa perlindungan.

 

Survei safeguarding kegiatan distribusi logistik dalam respon kebencanaan di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Dok. Caritas Indonesia.

 

Melindungi Kerahasiaan

Saat menerima aduan dan umpan balik dari berbagai kanal aduan, Helen menyadari bahwa tugas seorang Focal Point bukan hanya sekadar berkeliling dengan daftar ceklist, tetapi juga menjadi telinga yang aman bagi mereka yang gelisah. Semua data yang dia terima diberlakukannya sebagai kotak hitam yang menjaga integritas program yang sedang dijalankan.

Dengan tangan yang kini telah cekatan, Helen menginput semua data aduan, keluhan, umpan balik, saran, masukan ke dalam logbook dengan sangat teliti. Dia memastikan setiap informasi masuk ke dalam kolom yang tepat, termasuk siapa, apa, kapan, dan di mana. Dia juga memastikan nama-nama yang tercantum hanya akan diketahui oleh tim safeguarding, sebelum meneruskannya kepada para pihak berwenang untuk menindaklanjuti laporan tersebut.

Bagi Helen, mencatat aduan bukan sekadar mengisi kolom. Tugas ini adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap keberanian seseorang untuk bicara. Melalui logbook, dia memastikan tidak ada suara yang hilang ditelan angin, dan tidak ada keluhan yang berakhir di tempat sampah.

 

Karakter di Balik Peran

Selama melaksanakan tugasnya, Helen dibimbing oleh Caritas Indonesia melalui proses learning by doing jarak jauh. Namun sebenarnya, bimbingan dan perangkat teknis itu hanyalah alat. Penggerak sesungguhnya adalah karakter personal sang focal point. Ketelitian, sikap empati, dan sifatnya yang aktif bertanya mengubah instruksi statis menjadi dialog yang hidup. Dia juga tidak menelan informasi dan instruksi dengan mentah-mentah, melainkan menggali "mengapa" dan "bagaimana" hingga dia benar-benar paham.

Kini, Helen Sitinjak tidak lagi diliputi keragu-raguan. Perjalanannya membuktikan bahwa safeguarding yang paling tangguh tidak lahir dari ruang kelas saja, melainkan dari sikap pantang menyerah untuk mengimplementasikannya di lapangan.

Bagi Helen, perlindungan bukan sekadar prosedur administratif, melainkan sebuah pilihan untuk peduli, teliti dalam bertindak, dan berani untuk melindungi. Helen menjadi budaya safeguarding yang hidup kapanpun dan dimanapun dia berada.

 

Salam Belarasa

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua