2026/06/19 - 12:05:49pm

Rumah Belarasa untuk Sumatra

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

Jaringan Caritas Indonesia (KARINAKWI) resmi memulai "Gerakan Rumah Bela Rasa” di Keuskupan Sibolga pada 26 Februari 2026. Launching ditandai dengan penyerahan dua hunian yang sudah selesai dibangun kepada dua keluarga penyintas bencana di Desa Pangaribuan dan Desa Sijungkang, keduanya di Kec. Andam Dewi, Tapanuli Tengah.

Program ini merupakan upaya pemulihan hunian bagi penyintas bencana banjir yang terjadi di Sumatra pada akhir November 2025. Bencana banjir dan tanah longsor tersebut mengakibatkan kerusakan masif di tiga provinsi. Dampak banjir ini memaksa ribuan keluarga tinggal di pengungsian dalam waktu lama. Kehilangan rumah berdampak buruk pada keamanan dan kesehatan keluarga.

Program ini merupakan kerja sama lintas keuskupan di Indonesia. Target utama adalah membangun atau merehabilitasi 1.000 unit rumah bagi penyintas bencana banjir di Sumatra. Serah terima hunian ini dihadiri Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sinaga; Sekretaris Badan Pembina Yayasan KARINA - KWI, Mgr. Siprianus Hormat; dan Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk.

Sejak terjadinya bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025, Caritas Indonesia bersama Caritas Keuskupan Sibolga fokus memberikan bantuan kemanusiaan darurat bagi masyarakat terdampak. Respons yang dilakukan mencakup pemenuhan kebutuhan dasar seperti bantuan pangan, air bersih, layanan kesehatan, dukungan psikososial, serta penyediaan hunian sementara bagi para penyintas.

Pada sektor hunian dan permukiman, Caritas Indonesia bersama Keuskupan Sibolga sejak Desember 2025 menginisiasi pengungsian terpadu di Desa Kebun Pisang, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, sebagai tempat tinggal sementara yang aman dan layak bagi keluarga yang kehilangan rumah akibat bencana. Kehadiran fasilitas ini menjadi salah satu bentuk nyata pendampingan Gereja bagi masyarakat terdampak pada masa tanggap darurat.

Memasuki fase pemulihan pascabencana, Caritas Indonesia kemudian mengembangkan upaya yang lebih berkelanjutan melalui Program Rumah Belarasa, yaitu pembangunan hunian tetap bagi keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat atau hilang akibat banjir dan tanah longsor. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana tersebut menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 184.149 rumah, termasuk 31.643 rumah yang mengalami kerusakan berat. Kondisi ini membuat ribuan keluarga harus tinggal di pengungsian dalam waktu yang lama dan menghadapi berbagai kerentanan sosial maupun ekonomi.

 

Inisiasi Gerakan Rumah Belarasa di Kab. Tapanuli Tengah, 26 Februari 2026. Dok. Caritas Indonesia

 

Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, Caritas Indonesia (KARINAKWI) menggagas Gerakan Rumah Belarasa untuk Sumatra, sebuah gerakan kolaboratif lintas keuskupan di Indonesia yang didukung oleh keluarga besar Konfederasi Caritas, dan para donatur. Program ini menargetkan pembangunan atau rehabilitasi 1.000 unit rumah bagi penyintas bencana banjir di Sumatra dengan mengedepankan prinsip “Build Back Better” (membangun kembali dengan lebih baik dan lebih aman).

Caritas Indonesia (KARINA-KWI) resmi memulai "Gerakan Rumah Belarasa" pada 26 Februari 2026. yang ditandai dengan penyerahan dua hunian yang sudah selesai dibangun kepada dua keluarga penyintas bencanadi Desa Pangaribuan dan Desa Sijungkang, keduanya di Kec. Andam Dewi, Tapanuli Tengah. Hingga tahap awal pelaksanaan program, sebanyak enam unit Rumah Belarasa telah diserahterimakan kepada para penerima manfaat, sementara puluhan unit lainnya masih dalam proses pembangunan. Acara peluncuran dan serah terima rumah tersebut dihadiri oleh Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sinaga; Sekretaris Badan Pembina Yayasan KARINA - KWI, Mgr. Siprianus Hormat; Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk; serta perwakilan pemerintah daerah setempat.

 

Hunian Bermartabat

Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk menyampaikan, gerakan ini adalah wujud solidaritas untuk saudara-saudara yang terdampak bencana. Bantuan ini terutama untuk keluarga yang kehilangan tempat tinggal selama banjir terjadi. Rumah yang akan dibangun kana menjadi “benteng martabat dan rasa aman keluarga". Romo Fredy mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut terlibat aktif dalam mendukung berjalannya "Gerakan Rumah Bela Rasa" ini.

Caritas Indonesia menyadari, untuk mewujudkan rumah layak bukanlah tugas kecil. Oleh karena itu, gerakan ini merupakan ajakan terbuka bagi umat, masyarakat umum, sektor swasta, maupun dari komunitas yang berkehendak baik untuk ikut berpartisipasi mendukung para penyintas bencana untuk memiliki rumah layak.

"Ini adalah gerakan belarasa. Setiap bantuan yang diberikan, sangat berarti untuk membangun kembali kehidupan sesama kita di Sumatra yang terdampak bencana," kata Romo Fredy.

Gerakan ini bermula saat kunjungan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC ke lokasi respon kebencanaan Caritas Indonesia di Tapanuli Tengah, pada 23 Desember 2025. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan gagasannya untuk program pembangunan rumah permanen yang bermartabat, bagi warga Sumatra yang terdampak bencana.

 

Serah terima hunian yang sudah jadi di Kab. Tapanuli Tengah, 26 Februari 2026. Dok. Caritas Indonesia

 

Gayung bersambut, ide tersebut lalu bergulir menjadi gerakan bersama jaringan Caritas Indonesia, yang menyatukan semangat untuk mewujudkan hunian bagi para penyintas bencana. Rumah yang dibangun ini dibuat dengan desain “rumah tumbuh”. Desain rumah ini memungkinkan penerima manfaat untuk mengembangkan lebih lanjut desain rumah di masa depan. Pembangunan mengusung prinsip “Build Back Better” untuk membangun lebih baik. Desain rumah disesuaikan dengan risiko bencana di setiap wilayah.

Caritas Indonesia merencanakan pembangunan rumah ini akan berlangsung selama 18 bulan ke depan. Estimasi biaya pembangunan mencapai Rp 60.000.000 per unit rumah. Setiap rumah akan dibangun dengan tipe 36 yang dilengkapi 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Gambaran ini sesuai standar minimum hunian layak dari pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan  Bencana (BNPB).

 

Inklusif untuk Semua

Sibolga selama ini dikenal sebagai salah satu “potret toleransi” di Indonesia. Dari daftar 90 kota paling toleran di Indonesia, Sibolga menempati urutan ke-18 (Stara Institute, 2024). Nilai-nilai inklusifitas menjadi sesuatu yang dikedepankan dalam Gerakan Rumah Belarasa Caritas.

Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sinaga menyampaikan, kehadiran Gereja Katolik melalui Caritas Keuskupan Sibolga dan Caritas Indonesia, adalah untuk semua pihak. Ia mengatakan, Gereja Katolik berusaha memberi semua yang terbaik.

“Kehadiran dan bantuan dari Gereja Katolik diterima dengan baik oleh siapa saja yang terdampak bencana.”

 

Proses pembangunan hunian yang masuk dalam Gerakan Rumah Bela Rasa. Dok. Caritas Indonesia

 

Mgr. Fransiskus mengatakan, kehadiran Gereja akan mengedepankan sisi kemanusiaan, gotong-royong, peduli, dan bela rasa. Sisi kemanusiaan, Gereja membantu dan memberi perhatian pada martabat manusia.

“Kita harus bisa menjadi orangorang yang peduli, dan menunjukkan berbela rasa untuk mereka. Kita memperjuangkan martabat manusia, itulah yang perlu direnungkan, diterapkan di Indonesia.”

Sejak kejadian bencana, Caritas Keuskupan Sibolga bersama Caritas Indonesia sudah melakukan banyak hal yang menjadi wujud nyata kehadiran Gereja Katolik. Kehadiran ini pada gilirannya menumbuhkan penghargaan. Gereja hadir dan menemani para penyintas bencana.

“Sekarang, masyarakat di wilayah bencana, mereka sudah sangat mengenal Gereja Katolik, bahkan istilah-istilah Katolik pun mereka semakin tahu: ‘Caritas Sibolga’, ‘Caritas Indonesia’, ‘uskup’, ‘imam’, ‘suster’. Sebutan-sebutan itu semakin akrab di telinga masyarakat.”

Terakhir, Mgr. Fransiskus menceritakan kolaborasi dengan pemerintah di tiga wilayah (Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga) yang terkena bencana. Sinergitas-kolaborasi antara pemerintah dan Gereja Katolik, Caritas Sibolga-Caritas Indonesia, terjalin dengan baik. Ia mengatakan, semua bahu-membahu, memberi bantuan-bantuan supaya umat dan masyarakat bisa terbantu.

Mgr. Fransiskus berharap gerakan ini akan menggerakkan lebih banyak hal baik dalam kehidupan bersama di Sibolga. Melalui dialog dan kolaborasi, bantuan kemanusiaan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara tepat sasaran.

 

Salam Belarasa

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua