2026/08/05 - 09:58:24am

Rumah Baru, Harapan Baru: Warga Kampung Babo Terima Kunci Hunian Tetap Pascabencana

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

Kuala Simpang — Pagi itu, halaman aula huntara Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, dipenuhi warga yang datang dengan wajah berbinar. Lagu Indonesia Raya dan Hymne Aceh berkumandang, menandai dimulainya sebuah momen yang telah dinanti hampir setahun sejak bencana hidrometeorologi meluluhlantakkan wilayah pesisir timur Sumatera pada akhir 2025. Hari itu, lima keluarga menerima kunci rumah baru mereka, Hunian Tetap (HUNTAP) hasil kerja sama Caritas Indonesia (Yayasan KARINA-KWI) dan Keuskupan Agung Medan.

Banjir dan kerusakan infrastruktur yang menyertai bencana tersebut merenggut tempat tinggal, memutus akses layanan dasar, dan melumpuhkan roda ekonomi keluarga-keluarga di Aceh Tamiang. Dari hasil kajian mendalam yang dilakukan Caritas pada Maret–April 2026, kebutuhan akan hunian yang aman dan tahan bencana muncul sebagai prioritas utama. Program pemulihan pun disusun, mencakup pembangunan 50 unit HUNTAP, dukungan penghidupan, bantuan pendidikan, rehabilitasi rumah rusak sedang, hingga peningkatan akses air bersih dan sanitasi.

Pembangunan diawali dengan lima unit rumah contoh sebagai model teknis sebelum 45 unit berikutnya dikerjakan secara serentak. Selama dua pekan menjelang serah terima, tim monitoring Caritas turun langsung ke lapangan, menyusuri jalan menuju Kuala Simpang dan Kampung Babo, duduk berdiskusi di warung kopi bersama vendor pelaksana, menemui Datuk Babo dan Camat Bandar Pusaka, hingga meninjau satu per satu progres pengecatan dan pemasangan atap rumah contoh. Tidak semua berjalan mulus: keterbatasan tenaga tukang yang juga merupakan penyintas, serta cuaca yang tak menentu, sempat membuat sejumlah pekerjaan finishing molor dari jadwal semula.

 

Kolaborasi Lintas Pihak

Keberhasilan tahap awal ini tidak lepas dari sinergi banyak pihak. Bank Syariah Indonesia (BSI) turut hadir membantu pembukaan 50 rekening bagi para penerima manfaat tanpa biaya administrasi, sekaligus merancang mekanisme pembayaran bertahap kepada vendor sesuai capaian pembangunan, sebuah sistem yang dirancang agar dana benar-benar mengalir sesuai kemajuan fisik di lapangan. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), juga menerbitkan rekomendasi verifikasi zona aman bagi lokasi-lokasi lahan mandiri warga, memastikan rumah-rumah baru ini berdiri jauh dari ancaman risiko bencana susulan.

“Kualitas konstruksinya jauh lebih baik dibanding bantuan yang pernah kami terima saat banjir tahun 2006 dulu,” ujar salah satu penerima manfaat, mengenang pengalamannya menghadapi bencana berulang di kampung halamannya. Testimoni-testimoni semacam ini mengemuka ketika Pastor Fredy Rante Taruk, yang hadir mewakili delegasi, berbincang langsung dengan warga sebelum acara seremoni dimulai.

 

Simbol Inklusi dan Harapan

Puncak acara berlangsung sederhana namun penuh makna. Setelah penandatanganan Dokumen Kesepakatan Bersama antara Caritas Keuskupan Agung Medan dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, kunci rumah diserahkan secara simbolis kepada lima perwakilan penerima manfaat. Prosesi pengguntingan pita sengaja dilaksanakan di rumah salah satu penerima manfaat, seorang lansia penyandang disabilitas — sebuah pilihan yang menegaskan bahwa program pemulihan ini berpihak pada mereka yang paling rentan.

Usai serah terima lima unit rumah contoh, acara dilanjutkan dengan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan 45 unit HUNTAP berikutnya, yang ditargetkan rampung dalam 120 hari ke depan. “Kami berharap 45 rumah berikutnya bisa selesai dalam tiga bulan saja,” ungkap Pastor Fredy dalam sambutannya, mencerminkan optimisme sekaligus tekad untuk mempercepat pemulihan warga yang masih tinggal di huntara.

Di tengah sukacita itu, tim Caritas juga mengakui bahwa perjalanan ke depan masih panjang. Sistem monitoring partisipatif tengah disiapkan agar warga sendiri turut mengawasi setiap tahap pembangunan, mulai dari progres 25 persen hingga rampung 100 persen, melalui Buku Pemantauan Partisipatif yang dibagikan kepada setiap keluarga penerima manfaat. Selain itu, seorang inspektur shelter baru telah direkrut untuk mengawal pembangunan harian di lapangan, agar pengawasan teknis dapat berjalan lebih konsisten menuju target penyelesaian.

 

Menatap ke Depan

Bagi warga Kampung Babo, hari itu bukan sekadar seremoni serah terima rumah. Ia adalah penanda bahwa hidup bisa dibangun kembali, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara martabat dan harapan. Caritas Indonesia bersama Keuskupan Agung Medan menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi proses pembangunan 45 unit HUNTAP berikutnya, sembari memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, mitra perbankan, dan yang terpenting, masyarakat sendiri sebagai pemilik masa depan rumah-rumah ini.

Dengan semangat gotong royong yang menjadi nilai dasar pelayanan Gereja Katolik Indonesia melalui Caritas, pembangunan hunian tetap di Aceh Tamiang diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara Gereja, pemerintah, sektor perbankan, dan masyarakat dapat menghadirkan pemulihan yang aman, tangguh, dan bermartabat bagi keluarga-keluarga terdampak bencana.

 

Salam Belarasa

 

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua