Sejak 23 November 2025, curah hujan tinggi yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor di 19 kabupaten/kota di Sumatera Utara dan 18 kabupaten/kota di Aceh. Puncak bencana terjadi pada 27 November 2025 ketika sungai-sungai meluap dan merendam permukiman warga. Infrastruktur publik rusak, akses jalan terputus, jembatan ambruk, serta lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat ikut terdampak.
Di wilayah pelayanan Keuskupan Agung Medan, dampak signifikan terjadi di Paroki Pakkat, Tarutung, Dolok Sanggul, Pangkalan Brandan, Banda Aceh, dan Lawedesky. Sebanyak 3.763 kepala keluarga (10.945 jiwa) terdampak langsung. Selain kerusakan hunian, bencana ini juga mengganggu mata pencaharian ratusan keluarga serta berdampak pada keberlanjutan pendidikan 166 mahasiswa. Tercatat pula 24 bangunan gereja di 10 paroki mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
Respon Tanggap Darurat dan Transisi
Melalui koordinasi terpadu bersama Caritas Indonesia, respon kemanusiaan dilaksanakan dengan semangat One Caritas, One Response.
Pada fase tanggap darurat (28 November–31 Desember 2025), bantuan kebutuhan dasar disalurkan kepada masyarakat terdampak di 17 paroki dan komunitas. Bantuan mencakup sektor pangan, hunian (shelter), perlengkapan kebersihan, perlengkapan dapur, serta paket air bersih dan sanitasi (WASH).
Memasuki fase transisi (Januari 2026), dilakukan kajian kebutuhan untuk merancang program pemulihan jangka menengah dan panjang. Kajian tersebut mengidentifikasi kebutuhan utama pada sektor pemulihan ekonomi keluarga, bantuan pendidikan, rehabilitasi dan pembangunan hunian, serta akses air bersih dan sanitasi. Hasil kajian menunjukkan 639 keluarga mengalami gangguan mata pencaharian, puluhan rumah mengalami kerusakan sedang hingga berat, serta kebutuhan hunian tetap mendesak di wilayah Aceh Tamiang.
Program RISE HOME: Pemulihan Berbasis Ketahanan dan Kemandirian
Sebagai tindak lanjut, diluncurkan Program RISE HOME (Resilient Inclusive Sustainable Economic & Housing for Empowerment). Program ini bertujuan meningkatkan ketahanan dan kemandirian masyarakat terdampak melalui pendekatan pemulihan yang terpadu dan berkelanjutan.
Komponen Utama Program
1. Pemulihan Ekonomi dan Bantuan Pendidikan
2. Hunian Layak dan Akses WASH
Pembangunan hunian mengacu pada standar keselamatan dan pengurangan risiko bencana, serta dilaksanakan dalam koordinasi dengan pemerintah daerah agar selaras dengan kebijakan setempat. Monitoring dan evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan kualitas pelaksanaan dan pencapaian target.
Melalui sinergi ini, pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas dan ketangguhan komunitas. RISE HOME menjadi langkah nyata Gereja dalam menghadirkan harapan, memulihkan martabat, dan membangun masa depan yang lebih tangguh bagi masyarakat terdampak banjir dan longsor di Sumatera Utara dan Aceh.
Salam Belarasa