2026/02/18 - 01:25:01pm

Pesan Paus Leo XIV untuk Masa Prapaskah 2026 “Mendengarkan dan Berpuasa: Prapaskah sebagai Waktu Pertobatan”

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

Saudara-saudari terkasih,

Masa Prapaskah adalah waktu ketika Gereja, dengan perhatian keibuan, mengajak kita menempatkan kembali misteri Allah di pusat hidup kita, agar iman kita diperbarui dan hati kita tidak dikuasai oleh kecemasan serta gangguan kehidupan sehari-hari.

Setiap jalan pertobatan dimulai dengan membiarkan Sabda Allah menyentuh hati kita dan menerimanya dengan sikap yang taat. Ada hubungan antara Sabda, penerimaan kita, dan perubahan yang dihasilkannya. Karena itu, perjalanan Prapaskah adalah kesempatan untuk mendengarkan suara Tuhan dan memperbarui komitmen kita mengikuti Kristus, menyertai-Nya menuju Yerusalem, tempat misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya digenapi.

 

Mendengarkan

Tahun ini, saya ingin menekankan pentingnya menyediakan ruang bagi Sabda melalui sikap mendengarkan. Kesediaan untuk mendengar adalah langkah pertama untuk membangun relasi.

Dalam penyingkapan diri-Nya kepada Musa di semak yang menyala, Allah menunjukkan bahwa mendengarkan adalah ciri khas-Nya: “Aku telah memperhatikan kesengsaraan umat-Ku... Aku telah mendengar seruan mereka” (Kel 3:7). Mendengar jeritan mereka yang tertindas adalah awal dari sebuah kisah pembebasan, di mana Tuhan memanggil Musa dan mengutusnya untuk membuka jalan keselamatan bagi anak-anak-Nya yang telah diperbudak.

Allah kita adalah Allah yang ingin melibatkan kita. Bahkan hingga saat ini, Ia membagikan kepada kita apa yang ada di dalam hati-Nya. Karena itu, mendengarkan Sabda dalam liturgi mengajarkan kita untuk mendengarkan kebenaran realitas. Di tengah begitu banyak suara dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, Kitab Suci membantu kita mengenali dan menanggapi jeritan mereka yang dilanda kesedihan dan penderitaan. Untuk menumbuhkan keterbukaan batin dalam mendengarkan, kita harus membiarkan Allah mengajar kita bagaimana mendengar seperti Dia mendengar. Kita perlu menyadari bahwa “kondisi kaum miskin adalah sebuah jeritan yang, sepanjang sejarah umat manusia, terus-menerus menantang hidup kita, masyarakat kita, sistem politik dan ekonomi kita, dan tidak terkecuali, Gereja.

 

Berpuasa

Jika Masa Prapaskah adalah waktu untuk mendengarkan, maka puasa adalah cara konkret untuk mempersiapkan diri menerima Sabda Allah. Menahan diri dari makanan merupakan praktik asketis kuno yang penting dalam perjalanan pertobatan. Justru karena melibatkan tubuh, puasa memudahkan kita mengenali apa yang sebenarnya kita “laparkan” dan apa yang kita anggap perlu bagi keberlangsungan hidup kita. Selain itu, puasa membantu kita mengenali dan menata “hasrat” kita, menjaga agar rasa lapar dan haus akan keadilan tetap hidup, serta membebaskan kita dari sikap puas diri. Dengan demikian, puasa mengajarkan kita untuk berdoa dan bertindak secara bertanggung jawab terhadap sesama.

Dengan kebijaksanaan rohani, Santo Agustinus membantu kita memahami ketegangan antara saat ini dan pemenuhan di masa depan yang menjadi ciri penjagaan hati. Ia mengatakan: “Dalam perjalanan hidup di dunia ini, laki-laki dan perempuan dipanggil untuk lapar dan haus akan keadilan, tetapi kepuasan sepenuhnya adalah bagian dari kehidupan yang akan datang. Para malaikat dipuaskan oleh roti ini, makanan ini. Umat manusia, sebaliknya, merindukannya; kita semua tertarik kepadanya dalam hasrat kita. Kerinduan yang terarah ini memperluas jiwa dan menambah kapasitasnya.” Dipahami demikian, puasa bukan hanya memungkinkan kita mengendalikan hasrat, memurnikannya dan membuatnya lebih bebas, tetapi juga memperluasnya agar terarah kepada Allah dan kepada perbuatan baik.

Namun, agar puasa dijalankan sesuai dengan semangat Injil dan terhindar dari godaan kesombongan, puasa harus dihayati dalam iman dan kerendahan hati. Puasa harus berakar dalam persekutuan dengan Tuhan, karena “mereka yang tidak mampu memberi makan diri dengan Sabda Allah tidak berpuasa dengan benar.” Sebagai tanda nyata dari komitmen batin kita untuk berpaling dari dosa dan kejahatan dengan bantuan rahmat, puasa juga harus mencakup bentuk-bentuk pengendalian diri lainnya yang membantu kita hidup lebih sederhana, sebab “hanya dengan hidup asketis kehidupan Kristiani menjadi kuat dan otentik.”

Dalam hal ini, saya ingin mengajak Anda pada bentuk pantang yang sangat praktis namun sering diabaikan: menahan diri dari kata-kata yang menyinggung dan melukai sesama. Mari kita mulai dengan melucuti bahasa kita, menghindari kata-kata kasar dan penghakiman yang tergesa-gesa, menjauhi fitnah serta tidak membicarakan keburukan mereka yang tidak hadir dan tidak dapat membela diri. Sebaliknya, marilah kita berusaha menimbang kata-kata kita dan menumbuhkan kebaikan serta rasa hormat dalam keluarga, di antara sahabat, di tempat kerja, di media sosial, dalam perdebatan politik, di media, dan dalam komunitas Kristiani. Dengan demikian, kata-kata kebencian akan memberi jalan bagi kata-kata harapan dan damai.

 

Bersama

Akhirnya, Masa Prapaskah menegaskan dimensi komunal dari mendengarkan Sabda dan berpuasa. Kitab Suci sendiri menekankan dimensi ini dalam berbagai cara. Misalnya, Kitab Nehemia menceritakan bagaimana umat berkumpul untuk mendengarkan pembacaan hukum secara publik, mempersiapkan diri untuk mengakui iman dan beribadah melalui puasa, guna memperbarui perjanjian dengan Allah (lih. 9:1–3).

Demikian pula, paroki, keluarga, kelompok gerejani, dan komunitas religius kita dipanggil untuk menempuh perjalanan bersama selama Prapaskah, di mana mendengarkan Sabda Allah serta jeritan kaum miskin dan bumi menjadi bagian dari kehidupan bersama, dan puasa menjadi dasar pertobatan yang tulus. Dalam konteks ini, pertobatan tidak hanya menyangkut suara hati pribadi, tetapi juga kualitas relasi dan dialog kita. Pertobatan berarti membiarkan diri kita ditantang oleh kenyataan dan mengenali apa yang sungguh mengarahkan keinginan kita—baik dalam komunitas Gereja maupun dalam menghadapi dahaga umat manusia akan keadilan dan rekonsiliasi.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita memohon rahmat agar Prapaskah ini menuntun kita pada perhatian yang lebih besar kepada Allah dan kepada mereka yang paling kecil di antara kita. Marilah kita memohon kekuatan yang lahir dari puasa yang juga menyentuh cara kita menggunakan kata-kata, agar ucapan yang melukai semakin berkurang dan memberi ruang lebih besar bagi suara orang lain. Marilah kita berusaha menjadikan komunitas kita tempat di mana jeritan mereka yang menderita disambut, dan di mana sikap mendengarkan membuka jalan menuju pembebasan, sehingga kita siap dan bersemangat untuk turut membangun peradaban kasih.

Saya menyampaikan berkat tulus saya kepada Anda semua dan perjalanan Prapaskah Anda.

 

Dari Vatikan, 5 Februari 2026, Peringatan Santo Agata, Perawan dan Martir.

LEO PP. XIV

https://community.caritas.org/knowledgebase/articles/2169/message-of-pope-leo-xiv-for-lent-2026

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua