Gereja Katedral Roh Kudus dipenuhi suasana khidmat dan penuh sukacita pada Senin, 18 Mei 2026, ketika ratusan umat, para imam, biarawan-biarawati, delegasi internasional, serta jejaring kemanusiaan Gereja berkumpul dalam Perayaan Ekaristi Syukur memperingati 75 Tahun Caritas Internationalis dan 20 Tahun Caritas Indonesia. Perayaan ini menjadi salah satu puncak rangkaian kegiatan internasional yang berlangsung di Keuskupan Labuan Bajo dan menghadirkan wajah persaudaraan Gereja universal yang hidup dalam semangat pelayanan kasih.
Misa syukur dipimpin langsung oleh Presiden Caritas Internationalis sekaligus Uskup Agung Tokyo, Cardinal Tarcisio Isao Kikuchi. Ia didampingi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, serta sejumlah uskup dari Indonesia dan berbagai negara anggota Caritas Internationalis.
Sejak awal perayaan, nuansa doa dan persaudaraan begitu terasa. Lagu-lagu liturgi menggema memenuhi katedral, menyatukan umat lokal dengan para delegasi internasional yang datang dari berbagai belahan dunia. Kehadiran 33 anggota Representative Council (RepCo) dan perwakilan Caritas Asia semakin menegaskan bahwa perayaan ini bukan hanya milik satu negara, melainkan bagian dari perjalanan panjang Gereja universal dalam melayani mereka yang miskin, rentan, dan tersisih.
Dalam homilinya, Cardinal Tarcisio Isao Kikuchi menyampaikan refleksi mendalam mengenai identitas dan panggilan Caritas di tengah dunia modern yang menghadapi begitu banyak tantangan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa Caritas bukan sekadar organisasi sosial atau lembaga bantuan kemanusiaan, melainkan bagian hakiki dari iman Gereja.
“Caritas adalah wujud nyata bahwa Allah adalah kasih,” ungkap Kardinal Kikuchi di hadapan umat dan delegasi yang memenuhi Gereja Katedral Roh Kudus.
Menurutnya, pelayanan kasih yang dijalankan Caritas lahir dari iman dan panggilan Gereja untuk menghadirkan belas kasih Allah di tengah dunia. Karena itu, Caritas tidak dapat dipahami hanya sebagai pekerjaan sosial semata, tetapi sebagai kesaksian iman yang hidup melalui tindakan nyata kepada sesama.
Dalam refleksinya, Kardinal Kikuchi menyoroti lima pokok penting mengenai perjalanan dan misi Caritas. Pertama, ia menegaskan bahwa Caritas adalah fondasi iman, bukan sekadar organisasi. Kehadiran Caritas merupakan bagian dari misi Gereja untuk mewujudkan kasih Allah secara konkret melalui pelayanan kepada masyarakat yang menderita.
Kedua, ia mengajak seluruh jejaring Caritas untuk menjadi saksi kasih, bukan hanya pekerja sosial. Pelayanan kemanusiaan, menurutnya, harus selalu dilandasi relasi personal, penghormatan terhadap martabat manusia, dan semangat berjalan bersama mereka yang mengalami penderitaan.
Ketiga, Kardinal Kikuchi menekankan pentingnya profesionalisme dalam karya kemanusiaan yang tetap berakar pada nilai kemanusiaan. Di tengah kompleksitas krisis global saat ini, Caritas dituntut bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel, tanpa kehilangan wajah belas kasih dan kedekatan dengan masyarakat kecil.
Keempat, ia mengingatkan bahwa kekuatan Caritas sesungguhnya lahir dari akar rumput. Komunitas-komunitas kecil, relawan, paroki, dan masyarakat lokal menjadi sumber utama kekuatan pelayanan Caritas di berbagai negara. Dari komunitas-komunitas sederhana itulah solidaritas tumbuh dan harapan dipelihara.
Kelima, Kardinal Kikuchi mengakui bahwa tantangan kemanusiaan dunia belum selesai. Krisis ekologis, kemiskinan, konflik, migrasi, dan ketidakadilan sosial masih menjadi luka besar umat manusia. Karena itu, Caritas dipanggil untuk terus memperkuat solidaritas global dan membangun dunia yang lebih adil dan manusiawi.
“Misi kita adalah mewujudkan dunia yang adil, di mana semua orang mengalami kasih, belas kasihan, dan kehidupan yang penuh,” ujar Kardinal Kikuchi.
Ia juga menegaskan bahwa melalui karya kemanusiaan Caritas, Gereja hadir mendampingi masyarakat dalam berbagai situasi sulit, mulai dari bencana alam, kemiskinan, hingga persoalan sosial lainnya.
“Melalui pekerjaan ini, kita bertemu dengan orang-orang, membangun hubungan antar-manusia, dan menciptakan harapan berdasarkan kasih Tuhan,” katanya.
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, dalam homilinya
Sementara itu, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur karena Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah perayaan 75 Tahun Caritas Internationalis. Ia menyebut momentum ini sebagai tanda nyata persaudaraan universal Gereja yang melampaui batas negara, budaya, dan bahasa.
“Perayaan syukur ini menunjukkan persaudaraan universal Gereja dan semangat berjalan bersama dalam kasih dan pelayanan,” ungkapnya.
Ia berharap perayaan tersebut semakin mengobarkan semangat pelayanan, solidaritas, dan keberpihakan kepada masyarakat miskin dan terpinggirkan. Menurutnya, Gereja dipanggil untuk terus hadir bersama mereka yang lemah dan menjadi tanda harapan di tengah dunia yang penuh tantangan.
Di akhir perayaan, suasana haru menyelimuti katedral ketika Cardinal Tarcisio Isao Kikuchi menerima token simbolis berupa “Sayap Malaikat” dari Caritas Indonesia sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pelayanan kemanusiaannya bagi Gereja dan masyarakat dunia.
Momentum tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih atas kepemimpinan dan komitmennya dalam memperkuat gerakan kemanusiaan Caritas di tingkat global.
Bagi Keuskupan Labuan Bajo, yang merupakan keuskupan termuda di Indonesia, perayaan internasional ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan panggilan Gereja lokal dalam membela martabat manusia dan menjaga keutuhan ciptaan. Kehadiran para pemimpin Gereja dunia di Flores membawa pesan kuat bahwa komunitas kecil di daerah pinggiran pun memiliki tempat penting dalam perjalanan Gereja universal.

Perayaan syukur 75 Tahun Caritas Internationalis dan 20 Tahun Caritas Indonesia di Labuan Bajo akhirnya bukan hanya menjadi perayaan sejarah organisasi, melainkan juga peneguhan kembali panggilan Gereja untuk terus menghadirkan kasih Allah melalui tindakan nyata kepada sesama. Dari Labuan Bajo, semangat pelayanan kasih itu kembali diutus ke seluruh dunia: menjadi harapan bagi mereka yang terluka, menjadi sahabat bagi yang tersingkir, dan menjadi tanda nyata bahwa Allah terus hadir melalui karya kasih umat-Nya.
Salam Belarasa