Kangkung berwarna hijau cerah terhampar di depan halaman Gereja St. Teresia Kalkuta, Datak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Pada suatu siang yang cerah itu, kangkung-kangkung itu seakan ikut menyambut rombongan tamu yang hadir. Tak hanya dari Indonesia, mereka datang dari pelbagai negara.
Hari itu, 18 Mei 2026, Gereja St. Teresia Kalkuta Datak menjadi tuan rumah dua perayaan penting ulang tahun ke-75 Caritas Internationalis dan ulang tahun ke-20 Caritas Indonesia. Caritas Internationalis lahir pada 12 Desember 1951, sedangkan Caritas Indonesia lahir pada 17 Mei 2006.
Dengan memilih tempat di Datak, ungkapan syukur ini menjadi sebuah “Perayaan bersama Komunitas”. Caritas hadir di tengah komunitas yang mereka layani, dan bersama mereka merayakan kelahiran Caritas di dunia dan di Indonesia. Beberapa uskup dari Indonesia hadir dalam perayaan ini.
Perayaan Syukur ini juga dihadiri jajaran pengurus Yayasan Karina KWI, para direktur Caritas-PSE Keuskupan dari wilayah Nusa Tenggara, dan para anggota komite Caritas Indonesia.
Ekologi Integral
Pemilihan Datak sebagai tempat perayaan ini dikarenakan di sini menjadi salah satu lokasi berjalannya Program Holistic Agriculture Resilience Empowerment Sustainability and Transformation (HARVEST) yang didukung juga oleh Development and Peace (Caritas Canada). Program ini awalnya digulirkan di Keuskupan Ruteng, sejak beberapa tahun lalu. Setelah Keuskupan Labuan Bajo berdiri, Program HARVEST kemudian juga dikembangkan di wilayah pastoral keuskupan ini. Selain di Datak, Program HARVEST juga dijalankan di Paroki St. Yosep Pekerja, Lengkong Cepang.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk sebagai kata penutup dalam presentasinya di Datak mengatakan, bahwa karya Caritas telah menunjukkan arti “caritas” atau “cinta kasih” Allah itu benar-benar ada dan nyata.
Kehadiran Caritas telah menjadi bukti nyata kehadiran Allah dan Gereja di tengah komunitas. “Caritas itu nyata, kasih Allah itu nyata, dari Vatikan hingga ke komunitas,” ujarnya.
Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi SVD disambut di Paroki Datak, 18 Mei 2026. Dok. Caritas Indonesia
Sekretaris Jenderal Caritas Internationalis, Alistair Dutton mengatakan, perayaan syukur HUT Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia ini erat terkait dengan eksistensi Gereja universal. Ia mengatakan, “tidak ada Gereja tanpa Caritas, demikian sebaliknya, tidak ada Caritas tanpa Gereja. Ia menjelaskan, perayaan ini diadakan di Datak, yang berarti dirayakan di tengah komunitas, sebab di tempat inilah Caritas bekerja.
“Komunitas di mana kita bekerja, komunitas di mana Caritas Indonesia bekerja, komunitas inilah bagian dari keluarga Caritas, maka perayaan ini juga menjadi perayaan seluruh keluarga Caritas,” ujarnya.
Percakapan Tulus
Sebagai sebuah keuskupan, Keuskupan Labuan Bajo baru berusia dua tahun, dan dengan demikian menjadi keuskupan termuda di Indonesia. Namun, program Caritas sudah dijalankan di beberapa paroki di keuskupan ini, ketika wilayah pastoral di keuskupan ini masih masuk dalam wilayah Keuskupan Ruteng. Dengan demikian, meskipun Caritas Keuskupan Labuan Bajo juga baru berusia dua tahun, kehadirannya telah memberi warna pada umat dan masyarakat.
Ketua Badan Pengurus Yayasan KARINA - KWI, Mgr. Pius Riana Prapdi mengatakan, rasa syukur 75 tahun Caritas Internationalis dan 20 tahun Caritas Indonesia yang dirayakan bersama komunitas, telah menunjukkan suatu “perjumpaan dan percakapan yang tulus sebagai saudara”. Dalam kebersamaan semacam ini, terbangunlah kesatuan hati sebagai bagian yang utuh dari Gereja, tubuh Kristus.
Sementara itu sebagai tuan rumah, Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus mengucap terima kasih atas kepercayaan Caritas Internationalis untuk melaksanakan rangkaian kegiatan pertemuan di Keuskupan Labuan Bajo.
“Sebagai Keuskupan baru, ini adalah kepercayaan dan dukungan bagi kami. Kami menyambut baik semua tamu terutama Presiden Caritas Internationalis yang hadir langsung. Kami berharap semoga pertemuan ini membawa manfaat jangka panjang terutama dalam kolaborasi berkelanjutan, dan para peserta dapat menikmati atmosfer Keuskupan Labuan Bajo sebagai salah satu pusat keindahan pariwisata”.
Era Kecerdasan Buatan
Memaknai ini, Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi, SVD memulai dengan mengenang masa awal kelahiran Caritas Internationalis. Ia mengatakan, Gereja telah menjadi Gereja berbelas kasih sejak awal kehadirannya di dunia. Seiring waktu, tindakan karitatif ini berubah.
Setelah Perang Dunia II, kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika, maka Gereja melihat, bahwa karya belas kasih saja tidak cukup, disini, upaya untuk pembangunan manusia menjadi perhatian baru. Perhatian ini berlandaskan kesadaran, bahwa pribadi manusia adalah Gambaran dan Citra Allah.
“Kita Katolik, pembangunan manusia menjadi fokus, karena pribadi manusia juga merupakan ‘Citra Allah’. Kita, Gereja Katolik, harus ada di barisan terdepan dalam upaya pembangunan manusia ini,” ujar Kardinal Kikuchi.
Sejak promulgasi Laudato Si’ oleh Paus Fransiskus, dokumen ini menjadi pedoman Caritas dalam pelbagai karya di dunia, termasuk di Indonesia. Saat Paus Leo XIV mulai memimpin
Gereja, warisan Paus Fransiskus ini terus dilanjutkan. Kemampuan menjaga bumi sangat penting dan menjadi pondasi untuk semua tindakan manusia yang lain. Namun, untuk melindungi bumi menjadi tanggung jawab semua. Kardinal Kikuchi mengatakan, komunitas lokal memiliki peran sangat penting, apa yang dikerjakan di level komunitas lokal ini, nyatanya menjadi fondasi untuk semua.
“Sebelumnya, manusia berpikir bahwa kemajuan teknologi menjadi solusi untuk masalah-masalah dunia. Namun ada kesadaran baru, bahwa ini bukanlah satu-satunya solusi untuk dunia yang lebih baik (paradigma teknokratis).
Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi SVD melakukan panen bersama hasil pertanian organik di lahan contoh program HARVEST di halaman Gereja Paroki St. Teresia Kalkuta Datak, 18 Mei 2026. Dok. Komsos Labuan Bajo
”Kardinal Kikuchi mengatakan, bahwa apa yang dilakukan, misalnya dalam program pembangunan manusia, Caritas perlu menyadari bahwa untuk setiap keputusan, perlu dilakukan oleh manusia, bukan AI. Ia melihat, situasi sosial kemanusiaan akan terus berubah, situasi 10 tahun lalu, berbeda dengan sekarang dan akan berubah terus di masa depan.
Ingat Rerum Novarum
Puncak perayaan Syukur 75 tahun Caritas Internationalis dan 20 tahun Caritas Indonesia ditandai dengan Misa Syukur di Katedral Roh Kudus, Labuan Bajo, sore hari, 18 Mei 2026. Misa Syukur ini dipimpin Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi, SVD. Ia didampingi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC dan beberapa uskup yang hadir dari beberapa negara anggota Caritas Internationalis dan para uskup dari Indonesia. Misa Syukur ini juga dihadiri para anggota Representative Council (RepCo) dari pelbagai negara anggota Konfederasi Caritas Internationalis.
Perjalanan 20 tahun Caritas Indonesia adalah ekspresi nyata dari Kasih Kristus. Dalam setiap karya kemanusiaan Caritas Indonesia merupakan perwujudan perintah Yesus untuk “mengasihi satu dengan yang lain”.
Ketua KWI, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC merefleksikan, bahwa selama ini, Caritas Indonesia telah menjadi bagian integral dari misi Gereja Indonesia untuk melayani masyarakat, terutama yang miskin dan membutuhkan, serta pelayanan untuk para penyintas bencana. Ia berharap, momen syukur ini akan menjadi semangat yang mengobarkan dan menggerakan.
Ketua Badan Pembina Yayasan KARINA - KWI, Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF mengingatkan kembali ensiklik Rerum novarum, yang diterbitkan oleh Paus Leo XIII pada tanggal 15 Mei 1891. Pesan yang menjadi perhatian utama adalah kebutuhan untuk mengurangi kemiskinan bagi kelas pekerja. Ia lalu mengingatkan kembali akan pesan Yesus, “orang miskin selalu ada padaKu”. Pesan inilah menjadi landasan bagi Caritas dalam melaksanakan karya perutusannya.
Anggota Badan Pembina Yayasan KARINA - KWI, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ mengajak untuk melihat generasi yang berbeda-beda. Pelayanan Caritas perlu diterjemahkan sehingga memiliki nilai transformasi bagi setiap generasi. “Hal yang cepat dalam hidup adalah perubahan, kalau tidak menyesuaikan, kita akan ketinggalan. Caritas perlu berpikir menghadapi perubahan ini.”
Ketua Badan Pengurus Yayasan KARINA - KWI, Mgr. Pius Riana Prapdi kemudian melanjutkan refleksi ini dengan memperhatikan pentingnya “Caritas Paroki”. Eksistensi Caritas tidak akan menjadi nyata, kalau tidak sampai menghadirkan Caritas di paroki. “Baik kalau mewujudkan visi misi itu dalam konteks Caritas Paroki.”
Kasih nampak dalam pelayanan kepada sesama dan semesta. Caritas akan menjadi nyata, dalam pastoral kemanusiaan, “membawa Allah kepada manusia, dan membawa manusia kepada Allah.”
Salam Belarasa