Di Wismalat Podomoro, Banyuasin, Sumatera Selatan, selama lima hari, dari tanggal 1 hingga 5 Juni 2026, sembilan belas utusan dari berbagai Keuskupan di Indonesia — dari Pontianak hingga Tanjung Karang, dari Sintang hingga Medan — duduk bersama, belajar, dan berlatih untuk satu tujuan yang sama: menjadikan pelayanan kemanusiaan Gereja lebih aman bagi semua orang, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Kegiatan ini, yang diselenggarakan oleh Caritas Indonesia (KARINA-KWI), sebagai bagian dari upaya memenuhi Standar Manajemen Caritas Internationalis (CIMS), khususnya standar safeguarding yang telah diberlakukan oleh Caritas Internationalis sejak tahun 2021. Setelah kajian CIMS pada 2023 menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas, Caritas Indonesia menyusun modul pelatihan safeguarding dan mengujinya, sebelum akhirnya melangkah ke tahap diseminasi kebijakan dan Training of Trainers (ToT) yang digelar di Palembang ini.
Sebelum para peserta berkumpul, tim fasilitator terlebih dahulu memetakan pemahaman calon peserta melalui asesmen daring pada akhir Mei. Hasilnya menarik, pengetahuan dasar safeguarding peserta sudah cukup baik, namun praktik di lapangan dan persepsi antarpribadi masih beragam, terutama terkait akomodasi yang layak, pengenalan tanda-tanda grooming, dan prinsip zero tolerance. Temuan ini menjadi peta jalan bagi fasilitator dalam merancang pelatihan yang benar-benar menjawab kebutuhan nyata, bukan sekadar menyampaikan teori.
Hari pertama dibuka misa pagi dan arahan dari Rm. Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, yang menitipkan harapan agar peserta tak hanya memahami modul, tetapi juga menyusun rencana aksi nyata bagi keuskupan masing-masing. Sepanjang hari, peserta diajak membedah modul safeguarding sembari mempelajari Teknik Koneksi Emosional, Teknik Cerita Pihak Ketiga, dan Teknik Body Mapping.
Hari kedua, calon trainer mensimulasikan alat-alat pelatihan, mulai dari Power Walk, Profil Kerentanan, Mekanisme Umpan Balik dan Kanal Aduan, Psychological First Aid (PFA), maupun Role Play. Di sesi yang sama, fasilitator dengan hati-hati menyisipkan latihan menghadapi situasi sensitif, yaitu merespons peserta pelatihan yang tiba-tiba menangis, mengalami trauma, atau ingin melapor di tengah sesi.
Hari ketiga para calon trainer melakukan micro-teaching dengan mempraktikkan teknik lima langkah segmentasi 90 menit yang telah mereka pelajari. Pembagian kelas dibagi menjadi kelas inklusi dan kelas reguler. Kelas Inklusi diampu oleh Keuskupan Agung Palembang, yang melakukan praktik fasilitasi kepada peserta non disabilitas dan lansia disabilitas dalam satu ruangan.
Suasana kegiatan Pelatihan untuk Pelatih Safeguarding. Dok. Caritas Indonesia
Dari sembilan belas peserta yang dinilai, sebagian besar telah memahami konsep dan mampu menggunakan teknik lima langkah, meski beberapa masih perlu mengasah kelancaran penyampaiannya. Tigabelas dari sembilan belas peserta secara terbuka menyampaikan bahwa teknik lima langkah segmentasi 90 menit sungguh membantu mereka kelak saat memberikan pelatihan di keuskupan masing-masing. Setiap keuskupan pun pulang membawa rencana aksi (action plan) yang terbagi dalam tujuh area intervensi, yaitu Policy and Procedure, Risk Management, Staff Care, Survivor Service Mapping, KIE, Community Engagement, Monitoring Signs of Abuse — yang akan dijalankan bertahap sepanjang empat kuartal tahun ini.
Kegiatan ditutup pada 5 Juni 2026 dengan misa penutupan yang dipimpin oleh Rm. Rakidi, sebelum para peserta kembali ke keuskupan masing-masing — bukan sebagai peserta pelatihan semata, melainkan sebagai trainer yang siap menyebarluaskan nilai-nilai safeguarding ke lingkup kerja mereka. Caritas Indonesia menegaskan bahwa kehadiran modul ini tidak menggantikan otoritas atau kebijakan safeguarding yang sudah dimiliki tiap keuskupan, melainkan menjadi alat kerja standar yang dapat diadopsi untuk memperkuat budaya pelayanan yang aman, bertanggung jawab, dan berpihak pada mereka yang paling rentan.
Karena pada akhirnya, melindungi sesama adalah cara Gereja mempertanggungjawabkan pelayanannya di hadapan Allah dan manusia.
Salam Belarasa