Akhir November 2025, siklon Tropis Senyar membawa hujan yang tak kunjung reda, memicu banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang meluluhlantakkan permukiman warga. Dalam hitungan hari, lebih dari 990 nyawa melayang dan sekitar 400.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Rumah runtuh, jalan terputus, dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat lumpuh seketika.
Di tengah duka yang mendalam itu, Caritas Indonesia (KARINA KWI) bersama jaringan Caritas Keuskupan bergerak cepat. Tim asesmen diterjunkan ke wilayah-wilayah terdampak untuk memetakan kebutuhan mendesak masyarakat. Dari hasil asesmen itulah lahir Program EA 23-2025, sebuah respons kemanusiaan yang dirancang bukan hanya untuk meringankan penderitaan sesaat, tetapi juga untuk menuntun masyarakat melewati masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan yang berkelanjutan.
Sibolga, Salah Satu Titik Harapan
Wilayah Keuskupan Sibolga, yang meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Kabupaten Tapanuli Selatan, menjadi salah satu fokus utama pelaksanaan program ini. Di sinilah sekitar 5.700 rumah tangga penerima manfaat menaruh harapan mereka pada uluran tangan Caritas dan jaringan Gereja.
Program EA 23/2025 dirancang menyeluruh, menjangkau berbagai sektor kehidupan yang paling terdampak: penyediaan Air Bersih, Sanitasi, dan Promosi Kebersihan (WASH); layanan kesehatan bagi warga yang rentan; pemulihan mata pencaharian (livelihood) bagi mereka yang kehilangan sumber penghidupan; perbaikan hunian bagi rumah-rumah yang rusak berat maupun ringan; serta penguatan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman di masa depan.
“Bukan sekadar bantuan darurat, melainkan jembatan menuju pemulihan yang bermartabat.”
Mengapa Pendampingan Lapangan Begitu Penting
Namun, program sebesar ini tidak akan berjalan tanpa tangan-tangan yang hadir langsung di tengah masyarakat. Caritas Indonesia menyadari bahwa keberhasilan EA 23-2025 sangat bergantung pada dukungan sumber daya manusia yang memadai, para petugas lapangan yang membantu koordinasi kegiatan, mendampingi kelompok masyarakat, mengumpulkan data, memantau perkembangan, dan menyusun laporan program secara akurat.
Kehadiran tenaga pendamping ini menjadi jembatan antara rencana besar di atas kertas dan kenyataan di lapangan. Merekalah yang duduk bersama warga di bawah pohon untuk mengambil data administrasi, yang berdialog dengan pemerintah desa soal legalitas lahan, dan yang memastikan setiap keluarga penerima manfaat benar-benar mendapatkan haknya.
Toufin, staf Divisi ER-DRR melakukan assesmen kepada warga terdampak. Dok Caritas Indonesia
Dengan dukungan sumber daya manusia yang optimal, Caritas Indonesia berharap pelaksanaan program dapat berjalan lebih tepat waktu, target-target kegiatan tercapai sesuai rencana, dan yang terpenting, manfaat program dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat yang telah kehilangan begitu banyak akibat bencana.
Lima Tujuan, Satu Cita-Cita
Secara garis besar, kehadiran Caritas Indonesia di Sibolga melalui Program EA 23-2025 bertumpu pada lima tujuan utama: memastikan kelancaran pelaksanaan program di wilayah terdampak bencana, mempercepat pencapaian target kegiatan sesuai rencana, memperkuat koordinasi dan pendampingan kepada kelompok serta masyarakat penerima manfaat, mendukung pengumpulan data dan pelaporan yang akurat, serta pada akhirnya meningkatkan efektivitas dan kualitas layanan bagi masyarakat yang terdampak.
Semua itu bermuara pada satu cita-cita sederhana namun mendalam: memastikan bahwa mereka yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman akibat bencana hidrometeorologi November lalu, tidak berjalan sendirian dalam proses pemulihannya. Caritas Indonesia, bersama Keuskupan Sibolga, pemerintah daerah, dan masyarakat, berjalan bersama, langkah demi langkah, menuju kehidupan yang kembali pulih.
Salam Belarasa