Di dua komunitas yang hidup berdampingan dengan alam—Tanjung dan Terusan—sebuah proses panjang sedang berlangsung. Bukan proses instan, melainkan perjalanan tiga tahun pendampingan yang perlahan menumbuhkan kepercayaan diri, keterampilan, dan harapan baru bagi warga. Inilah yang menjadi latar kegiatan Monitoring Development Program Caritas Indonesia bersama Caritas PSE Keuskupan Ketapang.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda administratif, tetapi menjadi ruang refleksi bersama untuk menengok kembali langkah-langkah yang telah diambil, perubahan yang mulai terasa, serta tantangan yang masih harus dihadapi menjelang berakhirnya program pada 2026.
Dua Komunitas, Dua Cerita Kemandirian
Di Komunitas Tanjung, aroma kopi Liberika kini bukan lagi sekadar hasil kebun rumahan. Melalui pendampingan berkelanjutan, kelompok kopi mulai memahami praktik budidaya yang lebih baik, meningkatkan kualitas panen, hingga mencoba memasarkan produk mereka di lingkungan sekitar dan berbagai pameran lokal.
Sementara itu, di Komunitas Terusan, anyaman purun menjadi simbol ketekunan dan identitas lokal. Sanggar anyaman yang dibangun bersama tidak hanya menjadi ruang produksi, tetapi juga ruang belajar—tempat para anggota kelompok saling berbagi pengetahuan, menjaga kualitas, dan perlahan memperluas jangkauan pasar.
Kedua komunitas ini menunjukkan hal yang sama: ketika potensi lokal dipelihara dan didukung dengan pendekatan yang tepat, kemandirian bukan lagi mimpi yang jauh.
Ruang Belajar Bersama
Selama proses monitoring, tim Caritas PSE Keuskupan Ketapang dan Caritas Indonesia berdiskusi secara mendalam, serta melakukan refleksi internal atas capaian dan tantangan program. Dari proses ini, terlihat bahwa kelompok-kelompok dampingan telah terbentuk dengan baik dan aktif menjalankan kegiatan utama. Praktik produksi—baik kopi maupun anyaman—mengalami peningkatan kualitas, didukung oleh sarana produksi yang kini telah tersedia dan dimanfaatkan oleh kelompok.
Namun, monitoring juga mengungkap pekerjaan rumah yang masih perlu dituntaskan, seperti penguatan pencatatan data produksi, konsistensi pemasaran lokal, serta peningkatan kapasitas organisasi kelompok agar mampu berjalan lebih mandiri tanpa pendampingan intensif.
Menatap Keberlanjutan Program
Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah memastikan bahwa dampak program tidak berhenti ketika pendanaan berakhir. Oleh karena itu, sejumlah rekomendasi disusun untuk masa transisi Juli–Desember 2026, mulai dari penguatan satu komoditas unggulan per komunitas, pendampingan teknis lanjutan sesuai kebutuhan lokal, hingga integrasi kegiatan kelompok ke dalam struktur paroki dan keuskupan.
Pendekatan adaptif yang selama ini digunakan—menyesuaikan program dengan konteks lokal dan kalender musim—diakui sebagai kekuatan utama yang perlu terus dipertahankan. Dengan dukungan kelembagaan yang semakin kuat, diharapkan komunitas mampu melanjutkan praktik baik ini secara swadaya dan berkelanjutan.
Monitoring Development Program di Ketapang mengingatkan bahwa pembangunan berbasis komunitas bukan hanya soal indikator dan target, tetapi tentang proses pendampingan—dengan segala dinamika, pembelajaran, dan pertumbuhannya.
Melalui kopi Liberika dan anyaman purun, Caritas Indonesia bersama Caritas PSE Keuskupan Ketapang terus berjalan bersama komunitas, menjaga harapan, dan menumbuhkan kemandirian dari akar rumput.
Salam Belarasa