2026/05/11 - 04:48:35pm

Menjaga Asa di Kaki Bukit Barisan: Evaluasi Real-Time Respons Kemanusiaan Caritas Indonesia di Sibolga

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

SIBOLGA, SUMATERA UTARA – November 2025 menjadi catatan kelam ketika Siklon Tropis Senyar memicu hujan ekstrem, mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan wilayah Aceh hingga Sumatera Barat. Keuskupan Sibolga menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, mencakup Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, hingga Tapanuli Selatan.  Merespons krisis tersebut, Caritas Indonesia (KARINA-KWI) segera mengaktifkan Protokol Darurat Level III dengan mengerahkan Core Response Team (CRT) untuk mendampingi masyarakat melalui Program EA 23/2025 Sibolga. Kini, setelah beberapa bulan masa respons berjalan, Caritas Indonesia melakukan langkah krusial: Real Time Evaluation (RTE). 

Mengapa Evaluasi "Real-Time" Begitu Penting?

Berbeda dengan evaluasi akhir program, RTE dilakukan saat intervensi masih berlangsung (18 April – 09 Mei 2026). Tujuannya jelas: memastikan setiap rupiah donasi dan setiap paket bantuan sampai ke tangan yang tepat dengan cara yang paling efektif.  "Dalam bencana skala besar, koordinasi antar-organisasi menjadi kunci. RTE membantu kami melihat apa yang sudah berjalan baik dan apa yang harus segera diperbaiki sebelum fase transisi dimulai," ungkap perwakilan tim evaluasi dalam rapat koordinasi di Kantor Program Kristoforus. Fokus utama evaluasi ini mencakup aspek kepemimpinan, akuntabilitas kepada masyarakat terdampak, serta kualitas teknis program mulai dari hunian (shelter) hingga layanan kesehatan. 

Catatan Perjalanan: Dari Meja Koordinasi ke Lapangan

Perjalanan tim dimulai dari Jakarta menuju Bandara Silangit, dilanjutkan dengan lima jam perjalanan darat melintasi kelokan tajam menuju Sibolga. Minggu-minggu berikutnya diisi dengan aktivitas yang intens, membedah setiap detail program bersama para pemangku kepentingan, termasuk BNPB, pemerintah daerah, hingga para Pastor Paroki di wilayah Tapanuli.  Salah satu momen paling menyentuh terjadi pada 1 Mei 2026, saat dilakukan serah terima Rumah Belarasa (Hunian Tetap) ke-6 yang didonasikan oleh Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ.

 

Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ melakukan serah terima Rumah Belarasa (Hunian Tetap) ke-6. Dok. Caritas Indonesia

 

Di tengah terik matahari Sibolga, kehadiran Uskup Sibolga beserta jajaran pemerintah setempat menjadi simbol nyata sinergi antara Gereja dan negara dalam memulihkan martabat manusia.  Namun, tantangan teknis tidak bisa dihindari. Di lapangan, tim Shelter masih bergelut dengan dinamika legalitas lahan dan proses line clearing yang menantang. Sementara itu, tim WASH (Air, Sanitasi, dan Kebersihan) terus menyisir data untuk memastikan distribusi hygiene kit tepat sasaran, seperti yang dilakukan di Paroki Tapian Nauli dengan penyaluran ratusan dus sabun dan detergen. 

Membangun Budaya Kesiapsiagaan

Caritas Indonesia menyadari bahwa bantuan fisik saja tidak cukup. Masyarakat harus menjadi subjek yang tangguh. Itulah sebabnya, di sela-sela evaluasi, dilaksanakan pula peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2026 di Huntara Pinangsori.  Sebanyak 55 KK pengungsi terlibat aktif dalam simulasi gempa bumi. Melalui pengeras suara dan uji sinyal bersama BNPB, warga belajar kapan harus berlari dan bagaimana menyelamatkan diri. "Pendekatan berbasis komunitas dan kesiapsiagaan terbukti efektif untuk meminimalisir dampak risiko di masa depan," tertulis dalam catatan pembelajaran tim. 

 

Pembelajaran untuk Keberlanjutan

Rangkaian kegiatan RTE ini menghasilkan beberapa poin refleksi penting bagi Caritas Indonesia:

  • Penguatan Sistem Internal: Administrasi, keuangan, dan sistem monitoring (MEAL) harus diperkuat sejak hari pertama respons. 
  • Integrasi Lintas Sektor: Keberhasilan pemulihan bergantung pada seberapa baik sektor kesehatan, shelter, dan mata pencaharian saling terhubung. 
  • Kasih Allah yang Inklusif: Sejalan dengan visi Caritas, seluruh bantuan harus dipastikan menjangkau kelompok rentan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.

 

Kegiatan RTE. Dok. Caritas Indonesia

 

Sebagai penutup, seluruh upaya ini adalah wujud nyata dari Strategis Caritas Indonesia: "Kerja sama dalam Persaudaraan untuk Ketangguhan dan Keberlanjutan". Perjalanan di Sibolga mungkin masih panjang, namun dengan evaluasi yang jujur dan komitmen yang teguh, Caritas Indonesia memastikan bahwa "Kasih Allah bagi Keutuhan Ciptaan" bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang dirasakan oleh setiap penyintas di bumi Tapanuli.

 

Salam Belarasa

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua