Di tengah hamparan hijau Desa Sungai Lais, Kabupaten Sintang, sebuah gerakan perubahan tengah tumbuh bersama semangat warga dan pendamping PSE Caritas Keuskupan Sintang. Melalui monitoring Program Pertanian Padi Organik yang berlangsung 12–16 Januari 2026, kami menyaksikan langsung transformasi yang menegaskan, perubahan itu nyata bila dijalankan dengan kebersamaan dan ketulusan hati.
Lebih dari sekadar tren, pertanian organik adalah upaya nyata menjaga keseimbangan alam dan pangan sehat untuk keluarga desa. Komunitas dampingan, baik kelompok bapak maupun ibu, kini tak hanya piawai mengelola sawah, tapi juga berani berinovasi—mulai dari pengelolaan alat pertanian modern hingga membangun kebun sayur mandiri yang memperkaya dapur dan ekonomi rumah tangga.
Yang patut dicatat, kekuatan utama justru lahir dari kebersamaan. Inisiatif arisan kelompok, gotong royong, hingga retret bersama adalah praktik-praktik baik yang membuat kelompok semakin solid. Pengelolaan keuangan dimulai dengan sistem kas sederhana, sebagai langkah awal membangun kemandirian ekonomi. Semua proses ini memperlihatkan nilai-nilai kearifan lokal: kerukunan, musyawarah mufakat, dan saling peduli.
Bukan tanpa tantangan, namun semangat warga Sungai Lais membuktikan bahwa perubahan tidak harus selalu datang dari atas. Dari diskusi hangat, pembagian peran yang jelas, hingga tanggung jawab menjaga aset bersama, semua dirajut dalam suasana penuh kekeluargaan. Monitoring kali ini bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi menjadi ruang refleksi dan apresiasi atas perjuangan komunitas lokal.
Perjalanan program ini masih panjang. Namun, fondasi yang telah dibangun bersama—dengan dukungan Caritas Indonesia dan Caritas PSE Keuskupan Sintang—memberikan harapan, bahwa ketahanan pangan dan kemandirian desa bukan isapan jempol. Mari terus bergandeng tangan, menebar inspirasi dari desa untuk Indonesia yang lebih lestari dan berdaulat secara pangan.
Salam Belarasa