Medan - Di tengah upaya pemulihan pascabencana banjir di Sumatera Utara dan Aceh, harapan tidak hanya dibangun dari bantuan yang datang, tetapi juga dari kekuatan yang telah lama hidup di dalam komunitas itu sendiri. Semangat inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Lokakarya Induksi Program RISE HOME dan Training of Trainers (ToT) Asset Based Community Development (ABCD) yang diselenggarakan oleh Caritas PSE Keuskupan Agung Medan di Pusat Pengembangan Umat, Siantar, pada 8–10 April 2026.
Kegiatan ini mempertemukan para fasilitator lapangan dari berbagai paroki, tim Caritas PSE Keuskupan Agung Medan, serta perwakilan Caritas Indonesia dalam sebuah ruang pembelajaran bersama, untuk satu tujuan: membangun pemahaman yang sama tentang bagaimana pemulihan pascabencana dapat dilakukan secara berkelanjutan, partisipatif, dan berakar pada kekuatan komunitas.
Program RISE HOME sendiri merupakan inisiatif pemulihan yang mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat terdampak, mulai dari pembangunan hunian layak, pemulihan ekonomi keluarga, dukungan pendidikan, hingga penyediaan akses air bersih dan sanitasi. Namun lebih dari sekadar program bantuan, RISE HOME membawa pendekatan yang berbeda—yakni melihat masyarakat bukan sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai subjek utama perubahan.
RP. Stefanus Sihotang OFM.Cap, Direktur Caritas PSE Medan, dalam sesi pembukaan Lokakarya Induksi Program RISE HOME dan Training of Trainers (ToT) Asset Based Community Development (ABCD)
Dalam sesi pembukaan, Direktur Caritas PSE Medan, RP. Stefanus Sihotang OFM.Cap menegaskan bahwa pelayanan kemanusiaan harus berjalan selaras dengan nilai-nilai Gereja: kasih, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas. Ia mengingatkan bahwa pemulihan yang sejati tidak hanya berbicara tentang membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga tentang memulihkan martabat dan harapan masyarakat.
“Pendekatan berbasis aset menjadi kunci,” demikian ditegaskan dalam arahan tersebut. Artinya, setiap proses pemulihan harus dimulai dengan mengenali dan menguatkan potensi yang sudah dimiliki oleh komunitas—baik itu keterampilan individu, jaringan sosial, sumber daya alam, maupun nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Memasuki hari kedua, para peserta diajak Fasilitator ABCD Caritas Indonesia untuk menyelami lebih dalam metodologi dan pendekatan ABCD. Dalam sesi ini, suasana belajar tidak lagi satu arah. Melalui diskusi, simulasi, dan role play, para fasilitator belajar bagaimana menggali potensi komunitas secara partisipatif. Mereka berlatih menjadi pendengar yang aktif, penggerak dialog, sekaligus pendamping yang mampu membangun kepercayaan.
Pendekatan ini membuka perspektif baru bagi banyak peserta. Salah satu fasilitator mengungkapkan bahwa selama ini kerja-kerja kemanusiaan sering dipandang sebagai upaya memberi bantuan. Namun melalui ABCD, mereka mulai melihat bahwa komunitas sebenarnya memiliki kekuatan besar yang sering kali belum disadari.
“Komunitas bukan penerima pasif, tetapi produsen perubahan,” menjadi salah satu refleksi yang menguat dalam proses ini.
Dalam praktiknya, para peserta diajak mengidentifikasi berbagai jenis aset yang dimiliki komunitas. Mulai dari aset manusia seperti keterampilan dan pengalaman warga, aset sosial berupa kelompok dan jaringan, hingga aset alam dan fisik seperti lahan, air, dan fasilitas yang ada. Bahkan, mereka juga menggali aset budaya—nilai gotong royong, tradisi lokal, dan praktik sosial—yang terbukti menjadi perekat kuat dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu temuan menarik muncul ketika peserta memetakan aspek keuangan komunitas menggunakan alat sederhana yang disebut “ember bocor”. Dari sini, mereka menyadari bahwa banyak sumber daya ekonomi masyarakat yang “bocor” melalui pengeluaran yang tidak efisien, seperti ketergantungan pada pupuk kimia. Kesadaran ini membuka peluang untuk mencari alternatif yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi.
Namun, perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Para fasilitator juga dihadapkan pada berbagai realitas di lapangan, seperti rendahnya partisipasi masyarakat, harapan akan bantuan instan, hingga dinamika konflik dalam komunitas. Di sinilah peran fasilitator menjadi sangat penting—bukan sebagai pemberi solusi, tetapi sebagai pendamping yang mampu membangun ruang dialog, mendorong partisipasi, dan menjaga semangat kebersamaan.
Suasana Lokakarya Induksi Program RISE HOME dan Training of Trainers (ToT) Asset Based Community Development (ABCD)
Hari ketiga menjadi momen refleksi sekaligus perencanaan ke depan. Berdasarkan hasil pemetaan aset, masing-masing paroki menyusun rekomendasi program yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan komunitas mereka. Proses ini menegaskan bahwa setiap komunitas memiliki jalan pemulihan yang unik, sesuai dengan potensi dan tantangan yang mereka hadapi.
Di akhir kegiatan, satu pesan penting kembali ditekankan: bahwa pendekatan ABCD bukanlah proses instan. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan keterlibatan yang sungguh dari semua pihak. Namun, justru dalam proses itulah tumbuh rasa kepemilikan, kemandirian, dan keberlanjutan.
Lokakarya ini juga menghasilkan sejumlah rencana tindak lanjut yang konkret. Para fasilitator berkomitmen untuk mengintegrasikan pendekatan ABCD dalam pelaksanaan Program RISE HOME maupun program PSE di paroki masing-masing. Selain itu, penguatan sistem tata kelola—baik dalam aspek keuangan, pengadaan, maupun monitoring—menjadi bagian penting untuk memastikan akuntabilitas dan keberlanjutan program.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi ruang pembentukan cara pandang baru dalam pelayanan kemanusiaan. Bahwa di balik setiap keterbatasan, selalu ada potensi yang bisa dihidupkan. Bahwa dalam setiap komunitas, selalu ada kekuatan yang bisa digerakkan.
Dengan semangat ini, para fasilitator diutus kembali ke komunitas masing-masing—bukan hanya membawa pengetahuan, tetapi juga membawa harapan. Harapan bahwa pemulihan tidak harus dimulai dari luar, tetapi bisa tumbuh dari dalam. Dari tangan-tangan masyarakat itu sendiri, dari kebersamaan, dan dari keyakinan bahwa mereka mampu bangkit.
Seperti yang diingatkan dalam semangat Santo Fransiskus: mulai dari apa yang perlu, lalu lakukan apa yang mungkin, dan pada akhirnya, yang tampak mustahil pun dapat menjadi nyata.
Salam Belarasa