2026/08/06 - 01:57:01pm

Membangun "Generasi Bakhita": Ketika Anak Muda Katolik Jakarta Bergerak Melawan Perdagangan Orang

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

Di sebuah ruang aula sederhana di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur, sekelompok anak muda duduk melingkar. Sebagian dari mereka datang dari komunitas Katolik di berbagai paroki, sebagian lagi tergabung dalam Jaringan Talitha Kum. Selama tiga hari, mereka tidak sekadar mendengarkan ceramah. Mereka menangis mendengar kesaksian, berdiskusi sampai larut, dan pada akhirnya, memutuskan untuk membentuk sebuah gerakan bersama.

Lokakarya bertajuk "Generasi Pemulih: Orang Muda Bergerak Melawan TPPO di Era Krisis Iklim" ini diselenggarakan oleh Caritas Indonesia (Yayasan KARINA) bersama Jaringan Talitha Kum Jakarta pada 17–19 Juli 2026. Bukan tanpa alasan, kegiatan ini lahir dari keprihatinan yang semakin nyata: kejahatan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Indonesia terus meningkat, dan korbannya kian beragam.

"Perdagangan orang bukan lagi sekadar kisah tentang mereka yang miskin dan tidak berpendidikan," ungkap salah satu narasumber dalam sesi Gambaran Umum TPPO. Kini, jaringan pelaku bahkan mengintai masyarakat kelas menengah ke atas, memanfaatkan media sosial dan teknologi digital sebagai pintu masuk untuk menjerat korban baru.

 

"Setiap individu diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah. TPPO merampas martabat itu dengan menjadikan manusia sebagai komoditas."

 

Semangat itu menggema dari ensiklik terbaru Paus Leo XIV, Magnifica Humanitaria, yang menjadi salah satu rujukan utama dalam lokakarya ini. Dokumen tersebut memperkenalkan istilah "kolonialisme digital" untuk menggambarkan bagaimana algoritma, data pribadi, dan teknologi canggih kini disalahgunakan para pelaku kejahatan untuk memanipulasi dan menjebak kelompok rentan, termasuk lewat modus penipuan daring atau online scamming yang belakangan marak terjadi.

Peserta juga diajak memahami keterkaitan yang selama ini jarang dibicarakan: hubungan antara krisis iklim dan perdagangan orang. Ketika mata pencaharian hancur akibat bencana dan perubahan cuaca ekstrem, banyak orang terpaksa meninggalkan kampung halaman tanpa persiapan matang. Kondisi itulah yang dimanfaatkan pelaku TPPO dengan iming-iming pekerjaan palsu atau jalur migrasi instan. Tanpa disadari, banyak pengungsi iklim berakhir terjebak dalam kerja paksa.

Mengacu pada semangat Laudato Si' karya Paus Fransiskus, para peserta diajak memahami bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan sains, melainkan juga soal keadilan. Dampaknya paling dulu dan paling keras dirasakan oleh mereka yang miskin dan terpinggirkan. Konsep ekologi integral yang diperkenalkan dalam dokumen tersebut menegaskan bahwa kerusakan alam selalu berimbas pada tatanan hidup manusia, baik secara sosial, ekonomi, maupun politik.

 

Kesaksian yang Mengubah Cara Pandang

Momen paling menyentuh datang saat sesi berbagi bersama seorang penyintas TPPO. Perempuan yang disebut dengan nama Angel ini membagikan pengalamannya dipaksa bekerja di sebuah kamp penipuan online di Filipina. Ia bersaksi tentang kekerasan yang dialaminya dan sesama korban lain di kamp tersebut, sebuah kenyataan pahit yang jarang terekspos ke permukaan.

Kesaksian itu, dipadukan dengan diskusi film dokumenter "Through the Screen" dari IOM Indonesia dan film "No More Bets", membuka mata para peserta bahwa TPPO bukan sekadar berita di layar kaca. Ia adalah tragedi nyata yang bisa menimpa siapa saja, termasuk teman sebaya mereka sendiri.

Selama tiga hari, materi disampaikan secara berlapis: mulai dari pemahaman dasar tentang migrasi dan faktor-faktor yang mendorong seseorang bermigrasi, peran media dan jurnalisme warga dalam mengungkap kasus TPPO, hingga waspada terhadap kejahatan digital lain yang kini turut memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menipu korban. Narasumber dari Bareskrim Polri, Yayasan Integritas Justisia Madani Indonesia (IJMI), Talitha Kum Indonesia, Gerakan Laudato Si' Indonesia, hingga Kompas turut membekali peserta dengan perspektif hukum, pendampingan, dan jurnalistik.

Yang membedakan lokakarya ini dari sekadar seminar adalah tindak lanjutnya. Peserta tidak dilepas begitu saja setelah tiga hari berdiskusi. Mereka dibekali kerangka "Dari Isu ke Aksi", diajak merumuskan langkah konkret yang bisa mereka lakukan di komunitas masing-masing.

 

Lahirnya Generasi Bakhita

Di penghujung kegiatan, lahirlah sebuah nama baru: Generasi Bakhita, kelompok anak muda lintas lembaga yang bertekad bergerak bersama melawan TPPO. Nama itu diambil dari Santa Josephine Bakhita, seorang penyintas perbudakan asal Sudan yang kemudian dikenal sebagai santa pelindung para korban perdagangan manusia.

Dalam satu tahun ke depan, Generasi Bakhita berkomitmen menjalankan berbagai kegiatan edukasi dan kampanye kewaspadaan terhadap bahaya TPPO di lingkup Keuskupan Agung Jakarta. Mereka akan menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing, entah lewat edukasi sebaya, promosi anti-TPPO, maupun pendampingan bagi mereka yang berisiko menjadi korban.

"Orang muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan di komunitas," demikian salah satu pesan kunci yang terus digaungkan sepanjang lokakarya. Anak muda diharapkan mampu membentengi diri, keluarga, teman-teman, dan lingkungan mereka dari jebakan perdagangan orang, sekaligus menjadi corong yang menyuarakan suara para korban yang sering kali tak terdengar.

Kegiatan ini menegaskan satu hal: melawan TPPO bukan pekerjaan satu pihak saja. Ia membutuhkan jejaring antar lembaga, dari Gereja, penegak hukum, media, hingga komunitas akar rumput, karena modus kejahatan ini terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Seperti pesan penutup yang bergema di akhir lokakarya, generasi muda sebagai penerus bangsa perlu membuka mata, hati, tangan, dan telinga untuk berpartisipasi aktif melawan TPPO di Indonesia.

Dari Wisma Samadi, Klender, sebuah harapan baru bersemi: bahwa anak-anak muda yang datang sebagai peserta lokakarya, kini pulang membawa identitas baru sebagai bagian dari Generasi Pemulih.

 

Salam Belarasa

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua