2026/05/13 - 05:00:17pm

Kickoff HARVEST 2.0 di Larantuka: Ketika Iman, Ekologi, dan Pemberdayaan Umat Berjalan Bersama

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

Di tengah semangat Gereja yang terus mendorong pemberdayaan umat dan perawatan bumi sebagai rumah bersama, Caritas Indonesia melalui Divisi Pengembangan Ekologi Integral bersama PSE Caritas Keuskupan Larantuka melangkah dalam sebuah gerakan baru yang penuh harapan. Program HARVEST 2.0 resmi diluncurkan di Larantuka pada 30 April – 2 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya membangun ketangguhan iklim melalui ketahanan pangan, memperkuat ekonomi masyarakat, serta merawat lingkungan hidup secara berkelanjutan. Program ini bukan sekadar proyek pertanian, tetapi perjalanan bersama yang mengintegrasikan iman, solidaritas, dan kearifan lokal.

Rangkaian kegiatan kickoff dan induksi HARVEST 2.0 berlangsung di Rumah Unio Patris Corde Keuskupan Larantuka serta komunitas dampingan di Desa Bugalima dan Desa Dani Bao. Pertemuan ini mempertemukan banyak pihak: Caritas Indonesia, Keuskupan Larantuka, PSE Caritas Larantuka, pemerintah desa, tokoh Gereja, para suster tarekat, hingga kelompok masyarakat dampingan. Semua hadir dengan satu tujuan yang sama: membangun masa depan komunitas yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Sejak hari pertama, suasana kebersamaan dan kolaborasi sudah terasa kuat. Tim Caritas Indonesia bersama PSE Caritas Larantuka melakukan koordinasi intensif untuk menyamakan langkah dalam implementasi program. Dalam berbagai sesi diskusi, ditekankan bahwa keberhasilan Program HARVEST 2.0 sangat bergantung pada tata kelola yang transparan, akuntabel, dan partisipatif. Karena itu, sesi-sesi penguatan kapasitas diberikan kepada tim program dan keuangan, mulai dari tata kelola keuangan, sistem procurement, monitoring program berbasis evidence, hingga penguatan administrasi dan pelaporan program.

Namun lebih dari sekadar penguatan teknis, Program HARVEST 2.0 membawa semangat yang lebih mendalam: membangun kesadaran bahwa pelayanan kemanusiaan Gereja harus berakar pada martabat manusia dan penghormatan terhadap ciptaan. Dalam sesi pembelajaran bersama, Caritas Indonesia menegaskan bahwa tata kelola yang baik bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga bentuk kesaksian moral Gereja dalam pelayanan kepada masyarakat.

Pendekatan yang digunakan dalam program ini adalah Asset-Based Community Development (ABCD), yaitu pendekatan pembangunan yang berangkat dari kekuatan dan aset yang telah dimiliki masyarakat. Desa Bugalima dan Desa Dani Bao menjadi contoh nyata bagaimana komunitas memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Di Desa Bugalima, masyarakat memiliki kekuatan pada komoditas mete, kelapa, hortikultura organik, ternak kambing, serta inovasi pupuk organik dan eco enzyme. Sementara di Desa Dani Bao atau Riang Duli, masyarakat mengembangkan persawahan beririgasi, kakao, pisang, peternakan kambing, serta pengolahan MOL dari pisang busuk. Potensi-potensi lokal ini menjadi dasar penyusunan program agar masyarakat tidak bergantung pada bantuan semata, melainkan bertumbuh dari kekuatan mereka sendiri.

Puncak kegiatan berlangsung pada 1 Mei 2026 melalui Perayaan Ekaristi peluncuran Program HARVEST 2.0 yang dipimpin langsung oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Dalam suasana doa yang khidmat, umat diajak menyadari bahwa karya pemberdayaan masyarakat adalah bagian dari perjalanan iman bersama Kristus.

Dalam homilinya, Uskup Yohanes Hans Monteiro menegaskan bahwa tidak ada yang sia-sia di hadapan Tuhan. Ia mengajak umat untuk percaya bahwa setiap upaya kecil dalam merawat bumi, mendampingi sesama, dan membangun kesejahteraan bersama merupakan bagian dari karya keselamatan Allah. Program HARVEST 2.0 dipandang bukan sekadar program ekonomi, tetapi juga ungkapan iman yang hidup di tengah masyarakat.

 

Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, memberikan homili dalam Perayaan Ekaristi peluncuran Program HARVEST 2.0. Dok Caritas Larantuka 

 

Semangat itu semakin dipertegas dalam sambutannya ketika beliau mengangkat kearifan lokal Lamaholot yang memandang bumi sebagai ibu yang melahirkan, menyusui, dan membesarkan manusia. Pandangan ini sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ yang menyerukan tanggung jawab bersama untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama. Menurut beliau, krisis lingkungan yang terjadi saat ini merupakan akibat dari manusia yang semakin jauh dari rasa hormat terhadap alam. Karena itu, Gereja dipanggil untuk hadir dan mengajak umat kembali membangun relasi yang harmonis dengan ciptaan.

“Panen” dalam Program HARVEST 2.0, kata Uskup, bukan hanya soal hasil pertanian, tetapi juga panen kehidupan, panen syukur, dan panen harapan. Melalui program ini, Gereja ingin menumbuhkan semangat baru bahwa pemberdayaan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kehidupan iman tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Dalam kesempatan tersebut, PSE Caritas Keuskupan Larantuka mengajak masyarakat untuk mulai meninggalkan ketergantungan pada penggunaan pupuk yang tidak alami dan beralih pada metode pertanian alami yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya penting untuk menjaga kesuburan tanah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan generasi mendatang sebagai satu kesatuan keutuhan ciptaan.

Melalui kickoff ini, tampak jelas bahwa Program HARVEST 2.0 bukan hanya tentang pertanian atau bantuan ekonomi. Program ini adalah gerakan bersama yang mempertemukan iman, solidaritas, dan kepedulian ekologis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Gereja hadir bukan hanya untuk berbicara tentang harapan, tetapi berjalan bersama umat menumbuhkan harapan itu dari tanah, dari komunitas, dan dari kehidupan yang nyata.

Di Larantuka, benih-benih harapan itu kini mulai ditanam. Dan bersama masyarakat, Gereja percaya bahwa suatu hari nanti, benih itu akan tumbuh menjadi panen kehidupan yang membawa kesejahteraan, keadilan, dan keberlanjutan bagi semua.

 

Salam Belarasa

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua