Ruang pertemuan di Wisma Tabor, Paroki Pusat Damai, terasa lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Setelah tiga hari diisi misa, refleksi, dan kunjungan lapangan, hari keempat pertemuan Sub Regio Kalimantan Barat membawa wajah-wajah baru: para pengurus dan tim Credit Union dari berbagai wilayah, duduk berdampingan dengan penggerak PSE Caritas dari empat keuskupan, Pontianak, Sanggau, Sintang, dan Ketapang. Untuk pertama kalinya dalam rangkaian acara itu, dua dunia yang selama ini berjalan paralel, pelayanan pastoral dan lembaga keuangan mikro, duduk satu meja untuk bicara serius tentang satu hal: bagaimana umat kecil bisa benar-benar lepas dari jerat kemiskinan.
RD. Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, membuka dialog dengan sebuah penegasan yang mengubah cara banyak orang di ruangan itu memandang Credit Union selama ini. Bagi sebagian umat, CU mungkin masih dilihat sederhana sebagai tempat menabung dan meminjam uang. Namun dalam kerangka pastoral yang dipaparkannya, CU adalah jauh lebih dari itu: ia adalah wadah solidaritas, pusat pendidikan ekonomi, inkubator bagi usaha mikro kecil dan menengah, sekaligus instrumen nyata pengentasan kemiskinan menuju kemandirian umat yang selaras dengan alam.
“CU bukan sekadar lembaga simpan pinjam, melainkan wadah solidaritas dan instrumen pastoral.”
Yang menarik, gagasan ini tidak datang tiba-tiba. RD. Fredy menelusuri benang merahnya jauh ke belakang, merujuk pada rangkaian Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) sejak tahun 2000 hingga 2025, mulai dari penguatan komunitas basis, ekonomi kerakyatan lewat CU dan koperasi, ekologi integral, ekonomi berbagi, hingga semangat sinodalitas yang menjadi tema besar SAGKI 2025. Benang merah itu sederhana namun kuat: pemberdayaan ekonomi umat bukan kegiatan sampingan Gereja, melainkan bagian integral dari cara Gereja mewartakan Injil di tengah kehidupan nyata umatnya.
Ozagma Lorenzo Simorangkir, Koordinator Integral Ecology Development Caritas Indonesia,dalam paparannya mengenai ABCD. Doc. Caritas Indonesia
Sesi berikutnya membawa peserta pada cerita-cerita konkret dari lapangan. Ozagma Lorenzo Simorangkir, Koordinator Integral Ecology Development Caritas Indonesia, membagikan bagaimana pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) telah mengubah wajah pendampingan masyarakat di sejumlah keuskupan. Alih-alih mulai dari daftar kekurangan sebuah komunitas, pendekatan ini mengajak warga melihat dulu apa yang sudah mereka miliki, lalu memetakannya, menyusun visi bersama, dan merancang langkah ke depan secara mandiri. Hasilnya terlihat di lapangan: keluarga yang dulu sekadar penerima bantuan kini menjadi penggerak pembangunan di desanya sendiri, usaha pertanian subsisten tumbuh menjadi investasi keluarga yang berkelanjutan, dan banyak di antaranya digerakkan oleh tangan-tangan perempuan.
Tetapi yang paling membekas dari sesi itu bukan angka-angka produksi atau pendapatan. Lorenzo menekankan bahwa keberhasilan sejati justru terletak pada hal-hal yang tidak selalu terlihat di laporan: tumbuhnya kepercayaan diri, menguatnya solidaritas kelompok, lahirnya kepemimpinan lokal, dan kesadaran ekologis yang perlahan mengakar. Di titik inilah, kata-kata Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ yang ia kutip terasa pas, bahwa setiap wilayah dipanggil menemukan solusinya sendiri, sesuai budaya dan sumber daya yang mereka miliki, bukan mengikuti satu resep yang sama untuk semua tempat.
Diskusi memuncak pada sesi pleno, ketika lima kelompok Credit Union dan satu kelompok gabungan PSE Caritas dari empat keuskupan duduk merumuskan langkah konkret bersama. Dari ruangan itu lahir sejumlah kesepakatan yang terdengar sederhana di atas kertas, namun berpotensi besar mengubah cara kerja kedua pihak: PSE Caritas akan diundang sebagai “kompas moral” dalam penyusunan rencana strategis dan bisnis CU, dilibatkan dalam rapat anggota tahunan, serta berperan sebagai penghubung jaringan pemasaran bagi produk-produk anggota. Forum CU tingkat keuskupan disepakati dibentuk sebagai pusat konsolidasi, dan setiap anggota CU ke depan diwajibkan mengikuti pendidikan dasar serta literasi keuangan.
Bagi banyak peserta yang hadir, hari itu menandai sesuatu yang lebih dalam: bahwa Gereja dan Credit Union, dua lembaga yang selama ini sering berjalan di jalur masing-masing, akhirnya sepakat untuk berjalan beriringan, yang satu menjaga arah moral dan keberpihakan pada yang kecil dan terpinggirkan, yang satu lagi menggerakkan roda ekonomi nyata di tengah umat. Dan dari pertemuan dua dunia itulah, harapan baru bagi ekonomi umat di Kalimantan Barat mulai dirajut.
Salam Belarasa