Labuan Bajo — Suasana hangat penuh persaudaraan dan kekayaan budaya lokal menyambut kedatangan Presiden Caritas Internationalis, Cardinal Tarcisio Isao Kikuchi, di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, pada Minggu siang, 17 Mei 2026. Kedatangan ini menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan Yubileum 75 Tahun Caritas Internationalis dan 20 Tahun Caritas Indonesia yang berlangsung di Keuskupan Labuan Bajo.
Sejak siang hari, suasana Bandara Internasional Komodo tampak berbeda. Sejumlah tokoh Gereja, pemerintah daerah, panitia kegiatan, dan masyarakat telah hadir menanti kedatangan delegasi internasional tersebut. Kehadiran Cardinal Tarcisio tidak hanya dipandang sebagai kunjungan seremonial, tetapi juga sebagai simbol persaudaraan global yang mempertemukan Gereja universal dengan komunitas-komunitas lokal di Flores.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mendapat kehormatan menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam agenda penyambutan resmi di bandara. Mewakili pemerintah daerah, Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, hadir secara langsung untuk menyambut Presiden Caritas Internationalis beserta rombongan.
Penyambutan berlangsung khidmat dengan balutan budaya khas Manggarai yang sarat makna penghormatan dan persaudaraan. Setibanya di area kedatangan, Cardinal Tarcisio Isao Kikuchi disambut melalui ritual adat “Tuak Curu”, sebuah tradisi penerimaan tamu kehormatan dalam budaya Manggarai. Ritual ini menjadi simbol keterbukaan hati, penghormatan, serta penerimaan penuh persaudaraan kepada tamu yang datang.
Nuansa budaya lokal terasa begitu kuat. Senyum hangat masyarakat, sapaan penuh hormat, serta simbol-simbol adat yang dihadirkan mencerminkan identitas Flores yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan penghormatan terhadap tamu. Momen tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana nilai budaya lokal dapat berjalan harmonis dengan semangat pelayanan kemanusiaan universal yang dihidupi Caritas.
Turut hadir dalam penyambutan tersebut sejumlah pemimpin Gereja dari wilayah Flores. Di antaranya Mgr. Sipri Hormat, Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo RD. Ricard Manggu, Vikep Labuan Bajo RD. Yuvens Rugi, serta sejumlah imam dan panitia penyelenggara kegiatan internasional tersebut.
Kehadiran para pemimpin Gereja dan pemerintah daerah dalam satu ruang penyambutan memperlihatkan eratnya kolaborasi antara Gereja dan pemerintah dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih manusiawi dan berkeadilan. Momentum ini juga menjadi tanda bahwa karya kemanusiaan yang dijalankan Caritas tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama masyarakat, budaya, dan berbagai elemen sosial di daerah.
Dari Bandara Internasional Komodo, rombongan Presiden Caritas Internationalis kemudian bergerak menuju rumah Keuskupan Labuan Bajo. Perjalanan tersebut berlangsung meriah dan penuh antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung kedatangan salah satu pemimpin penting dalam jaringan kemanusiaan Gereja Katolik dunia.
Di rumah keuskupan, Cardinal Tarcisio Isao Kikuchi dijadwalkan bertemu dengan Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, sebelum mengikuti berbagai agenda perayaan dan pertemuan internasional yang telah disiapkan selama beberapa hari ke depan.
Kunjungan ini menjadi momentum bersejarah, bukan hanya bagi Gereja lokal di Labuan Bajo, tetapi juga bagi masyarakat Flores secara umum. Perayaan Yubileum 75 Tahun Caritas Internationalis dan 20 Tahun Caritas Indonesia menghadirkan kesempatan bagi komunitas lokal untuk memperlihatkan wajah Indonesia yang kaya akan budaya, solidaritas, dan semangat gotong royong kepada dunia internasional.
Lebih dari sekadar agenda organisasi, kehadiran delegasi internasional Caritas di Labuan Bajo membawa pesan penting tentang persaudaraan global dan perhatian terhadap komunitas-komunitas kecil di berbagai wilayah dunia. Dari Flores, semangat kemanusiaan itu diperteguh kembali: bahwa pelayanan kasih selalu bertumbuh dari perjumpaan, penghormatan budaya, dan kedekatan dengan masyarakat kecil.
Dalam kesederhanaan ritual adat Manggarai yang menyambut kedatangan tamu kehormatan tersebut, tersimpan pesan mendalam bahwa kemanusiaan sejati lahir dari hati yang terbuka untuk menerima, berjalan bersama, dan saling menguatkan. Labuan Bajo pun menjadi saksi bagaimana nilai budaya lokal dan semangat pelayanan global bertemu dalam satu perayaan penuh makna.
Salam Belarasa