Jaban, Yogyakarta, 20-23 Juli 2026 – sebanyak 53 orang mengikuti Pelatihan Managing Yourself for Others (MYFO) IV, sebuah program yang, sejak digagas tahun 2022, telah menemani sekitar 160 pelayan kemanusiaan Gereja untuk berhenti sejenak dan menoleh ke dalam. Kegiatan yang diikuti oleh staf Caritas Indonesia, para pegiat KKP-PMP, KGPP, JPIC, dan Komisi Lingkungan Hidup Keuskupan, anggota Core Response Team, penggerak Program THRIVE, hingga pekerja Caritas-PSE dari berbagai keuskupan.
MYFO bukan pelatihan manajemen biasa, melainkan merupakan pelatihan untuk bisa benar-benar melayani orang lain, seseorang perlu terlebih dahulu berani mengenal dan mengelola dirinya sendiri. Bagi para pemimpin pelayanan, baik imam, relawan, maupun staf lembaga kemanusiaan, pelatihan ini menjadi ruang jujur untuk melihat kembali perjalanan hidup, mengakui luka dan hambatan yang selama ini tersembunyi, lalu merumuskan arah baru bagi karya pelayanan mereka.
Hari pertama dibuka dengan kesederhanaan: perkenalan, pembagian buku kerja, lalu misa yang dipimpin RD. Fredy Rante Taruk didampingi RD. I Wayan Sugiarta. Malam harinya, dalam kelompok-kelompok kecil yang dibentuk berdasarkan asal wilayah pelayanan, Regio Jawa, Regio Sumatera-Kalimantan, hingga Nusra, Manado, Amboina, dan Makassar, peserta diminta menggambar karikatur manusia yang menggambarkan sosok pelayan kemanusiaan ideal. Sederhana di atas kertas, tapi setiap goresan sesungguhnya adalah cermin: seperti apa aku ingin dikenang oleh orang-orang yang kulayani?
Hari kedua materi yang dibahas semakin dalam dan menarik. Peserta diajak menelusuri kembali fakta hidup mereka masing-masing, merenungkan perjalanan yang telah dilalui, lalu membagikannya kepada dua atau tiga teman dalam kelompok kecil selama dua puluh menit, tanpa penghakiman, hanya mendengarkan. Ada yang untuk pertama kalinya menceritakan pergulatan yang selama ini dipendam sendirian. Sesi berlanjut dengan analisis SWOT pribadi, mencari potensi, kelemahan, ancaman, dan kesempatan emas dalam hidup masing-masing, sebelum sore harinya mereka mulai menuliskan tujuan hidup, nilai utama, dan visi pribadi yang menyentuh kesehatan, keluarga, karier, spiritualitas, hingga panggilan pelayanan.
Hari ketiga menjadi puncak yang paling berat sekaligus paling membebaskan. Dipimpin misa oleh Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, peserta diajak menghadapi hambatan-hambatan diri yang selama ini menggagalkan langkah mereka mewujudkan visi hidup, lalu merumuskan sasaran yang berakar dari hambatan itu. Karena begitu banyak imam turut hadir sebagai peserta, ruang refleksi ini terasa istimewa, sejumlah pendamping bahkan membagikan testimoni nyata bagaimana MYFO mengubah cara mereka menjalani panggilan pelayanan. Hari itu ditutup bukan dengan kelegaan sesaat, melainkan dengan makan malam dan rekreasi bersama, dalam suasana persaudaraan yang hangat dan riang, seolah semua beban yang dibongkar siang tadi menemukan tempatnya untuk beristirahat.
Pada hari terakhir, 23 Juli, dengan misa yang dipimpin RD. Rohendi S. M. Marpaung, peserta menyusun strategi dan rencana tindakan konkret: langkah-langkah jangka pendek yang bisa segera dijalankan begitu mereka kembali ke keuskupan dan lembaga masing-masing, lengkap dengan alat monitoring untuk terus mengecek kemajuan diri. Sebelas modul yang mereka lalui dalam empat hari itu pun genap, dari mengenali fakta diri hingga menyusun rencana nyata untuk dua sampai lima tahun ke depan.
“MYFO menuntut kita untuk berani menyapa sedalam-dalamnya dan mengelola diri kita. Sebab, pelayanan yang sejati tidak lahir dari kesombongan, tetapi dari kerendahan hati,” demikian pesan penutup Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, Wakil Pembina Yayasan KARINA-KWI, kepada seluruh peserta. “Sehingga orang-orang yang kita layani mengalami kehangatan yang hakiki.”
Bagi banyak peserta, empat hari ini terasa singkat, beberapa bahkan mengusulkan agar waktu pelatihan diperpanjang, mengingat betapa dalamnya materi yang harus direfleksikan, dan perlunya ruang tersendiri untuk pengakuan dosa mengingat banyaknya imam yang hadir. Ada pula harapan agar forum berbagi cerita antar alumni MYFO gelombang I hingga IV bisa terus hidup secara daring, menjaga api yang telah dinyalakan selama empat hari di Jaban tetap menyala hingga kembali ke ladang pelayanan masing-masing.
Sebab pada akhirnya, MYFO bukan sekadar pelatihan empat hari yang berakhir begitu peserta check out dari resort. Ia adalah undangan yang terus bergema: bahwa pelayanan yang bermakna bagi sesama selalu dimulai dari keberanian untuk lebih dulu jujur pada diri sendiri.
Salam Belarasa