NUSA TENGGARA TIMUR — Suasana hangat penuh sukacita menyelimuti Paroki Santa Theresia Calcuta Datak pada Senin, 18 Mei 2026. Dalam rangkaian perayaan 75 Tahun Caritas Internationalis dan 20 Tahun Caritas Indonesia, sebuah delegasi besar yang terdiri dari pimpinan Gereja, jejaring Caritas nasional dan internasional, serta para mitra kemanusiaan melakukan kunjungan lapangan ke komunitas dampingan di wilayah tersebut.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Kehadiran delegasi menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung bagaimana semangat pelayanan kasih Gereja diterjemahkan menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang nyata, berakar pada kehidupan umat, dan bertumbuh bersama komunitas.
Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 09.00 WITA dan langsung disambut meriah oleh masyarakat setempat melalui tarian adat Manggarai “Tiba Meka” yang sarat makna persaudaraan dan penerimaan tamu. Selendang Songke dikalungkan kepada para tamu sebagai simbol penghormatan sekaligus ungkapan syukur masyarakat atas kunjungan keluarga besar Caritas ke tengah kehidupan mereka.
Anak-anak, kaum muda, para ibu, hingga tokoh adat tampak memenuhi halaman paroki dengan wajah penuh antusias. Nuansa budaya lokal berpadu harmonis dengan semangat persaudaraan universal yang menjadi ruh pelayanan Caritas di berbagai belahan dunia.
Dalam sambutannya, perwakilan komunitas menyampaikan bahwa kehadiran Caritas selama ini tidak hanya membantu masyarakat menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kesadaran untuk membangun kehidupan bersama secara mandiri.
“Caritas datang bukan untuk menggantikan masyarakat, tetapi berjalan bersama kami. Kami belajar mengelola lahan, mengatur kelompok, menabung, dan saling mendukung dalam komunitas,” ungkap salah satu anggota kelompok dampingan.
Agenda utama kunjungan diisi dengan dialog interaktif antara delegasi dan komunitas dampingan. Para peserta berbagi pengalaman mengenai proses pemberdayaan yang mereka jalani selama beberapa tahun terakhir, mulai dari pengembangan pertanian berkelanjutan, penguatan ekonomi keluarga, hingga pengorganisasian komunitas berbasis lingkungan hidup.
Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, dalam presentasinya menegaskan bahwa komunitas merupakan pelaksana nyata misi Caritas. Menurutnya, kekuatan pelayanan kemanusiaan Gereja sesungguhnya lahir dari akar komunitas yang hidup dan bergerak bersama.
“Paroki-paroki menjadi ujung tombak pemberdayaan. Ketika umat bergerak bersama, saling mendukung, dan memiliki kepedulian terhadap sesama serta lingkungan, di situlah misi Caritas sungguh hidup,” jelas Romo Fredy.
Dalam kesempatan tersebut, Romo Fredy juga memperkenalkan program HARVEST (Holistic Agriculture Resilient Vision Empowerment Sustainability and Transformation), sebuah pendekatan pemberdayaan masyarakat yang telah dikembangkan bersama mitra internasional sejak tahun 2015. Program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kapasitas komunitas lokal, serta membangun kepemimpinan masyarakat yang berkelanjutan.
Melalui HARVEST, masyarakat diajak untuk mengembangkan pola pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, memanfaatkan sumber daya lokal secara bijaksana, dan membangun sistem ekonomi komunitas yang lebih tangguh. Program ini juga menempatkan perempuan, kaum muda, dan kelompok rentan sebagai bagian penting dalam proses pembangunan komunitas.
Bagi masyarakat Datak, dampak program tersebut mulai dirasakan secara nyata. Sejumlah kelompok tani kini mampu mengelola lahan secara lebih produktif dengan pendekatan pertanian organik dan konservasi lingkungan. Beberapa keluarga juga mulai memiliki sumber pendapatan tambahan melalui pengolahan hasil pertanian dan usaha kecil berbasis komunitas.
Tidak hanya berbicara mengenai hasil program, kunjungan ini juga menjadi ruang pembelajaran bersama. Delegasi internasional mendengarkan langsung cerita perjuangan masyarakat menghadapi tantangan perubahan iklim, keterbatasan akses ekonomi, hingga ancaman kerusakan lingkungan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, komunitas Datak menunjukkan bahwa solidaritas dan gotong royong tetap menjadi kekuatan utama. Semangat inilah yang dinilai sejalan dengan visi Caritas Internationalis dalam membangun dunia yang lebih manusiawi, adil, dan berkelanjutan.
Salah satu momen yang paling berkesan dalam kunjungan tersebut adalah ketika delegasi diajak mengunjungi lahan pertanian dan melihat praktik-praktik pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh kelompok dampingan. Para anggota komunitas dengan bangga memperlihatkan hasil kebun, sistem pengairan sederhana, hingga teknik pengolahan kompos yang mereka pelajari melalui pendampingan program.
Bagi banyak delegasi, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil di tingkat komunitas. Kehadiran masyarakat yang tetap berjuang menjaga kehidupan, merawat bumi, dan memperkuat solidaritas sosial menjadi tanda harapan di tengah dunia yang menghadapi berbagai krisis kemanusiaan dan ekologis.
Perayaan 75 Tahun Caritas Internationalis dan 20 Tahun Caritas Indonesia tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan pelayanan, tetapi juga kesempatan untuk mempertegas kembali panggilan Gereja dalam menghadirkan kasih yang nyata dan membebaskan.
Kunjungan ke Datak menjadi cermin bahwa pelayanan Caritas bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan proses panjang membangun martabat manusia, memperkuat komunitas, dan menumbuhkan harapan bersama.
Di tanah Flores Timur yang sederhana itu, semangat kasih menemukan wajahnya: hadir dalam kerja bersama, dalam keberanian komunitas untuk bertumbuh, dan dalam keyakinan bahwa perubahan dapat dimulai dari akar rumput.
Salam Belarasa