Ada masa ketika Kampung Babo, sebuah desa tenang di Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, hanya menyisakan cerita tentang air yang naik terlalu cepat dan rumah-rumah yang tak lagi bisa ditempati. Bagi warga yang selamat, hari-hari sesudahnya diisi oleh sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar membersihkan lumpur: menata ulang harapan tentang rumah, tentang rasa aman, tentang masa depan.
Kini, memasuki awal Juli 2026, secercah harapan itu mulai berwujud nyata. Di atas tanah yang sama tempat mereka pernah kehilangan segalanya, lima unit pertama dari 50 rumah yang dijanjikan hampir rampung. Dinding sudah berdiri, kusen sudah terpasang, dan sentuhan akhir sedang dikerjakan, bukan sekadar bangunan, tapi bukti bahwa mereka tidak ditinggalkan.
Pembangunan Hunian Tetap (Huntap) ini digagas oleh Caritas Indonesia (KARINA KWI) bersama Caritas Keuskupan Agung Medan (KAM), sebagai bagian dari upaya pemulihan jangka panjang bagi penyintas banjir. Kelima rumah pertama itu akan menjadi rumah contoh, cetak biru yang akan menuntun pembangunan 45 unit berikutnya, satu demi satu, hingga seluruh warga yang kehilangan tempat tinggal kembali memiliki rumah.

Datok (Kepala Kampung) Babo menjelaskan kepada warga mengenai kriteria penerima manfaat dan sebaran 50 lahan mandiri Huntap yang akan dibangun Caritas.
Membangun Lebih dari Sekadar Dinding dan Atap
Bagi tim Caritas, proyek ini bukan sekadar soal kecepatan menyelesaikan bangunan. Rabu (1/7), di aula hunian sementara (huntara) Kampung Babo, warga duduk bersama perwakilan Caritas untuk membahas sesuatu yang tak kalah penting: nota kesepahaman dengan para penerima manfaat, serta kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk mekanisme penyaluran dana.
Adi Rusprianto, perwakilan Caritas Indonesia, menjelaskan bahwa bantuan disalurkan bertahap, mengikuti detak progres pembangunan itu sendiri, 25 persen, 50 persen, 75 persen, hingga rumah benar-benar berdiri utuh. “Pada Jumat ini, lima unit rumah yang telah selesai akan diserahterimakan sekaligus diresmikan oleh Bupati Aceh Tamiang,” ujarnya, sebuah kalimat sederhana yang menyimpan makna besar bagi keluarga yang telah lama menunggu.
Sementara itu, Manager Program Caritas KAM, Sagrina Bangun, menekankan bahwa keberhasilan program ini diukur bukan hanya dari jumlah rumah yang berdiri, melainkan dari sejauh mana warga memahami dan turut memiliki proses itu sendiri. “Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima rumah yang layak huni, tetapi juga memahami setiap tahapan program,” jelasnya. Karena itu, komunikasi dengan penerima manfaat terus dijaga, langkah demi langkah, hingga seluruh 50 unit rumah selesai dibangun.
Harapan itu juga terasa jelas dalam suara Datok Khairi, Kepala Kampung Babo. Ia menyampaikan terima kasih kepada Caritas Indonesia, Caritas KAM, dan semua pihak yang telah berdiri bersama warganya sejak hari-hari tergelap pascabanjir. “Bantuan pembangunan rumah ini menjadi harapan baru bagi warga kami untuk kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak,” katanya, sembari berharap 45 unit berikutnya bisa segera menyusul, agar seluruh keluarga dapat menempati rumah baru mereka.

Tim Caritas berfoto bersama pihak Bank Syariah Indonesia (BSI) di aula huntara, membahas mekanisme pembayaran pembangunan Huntap, Rabu (1/7).
Gotong Royong yang Menembus Sekat
Di balik layar, sebuah kerja tenang juga tengah berlangsung. Tim Emergency Response–Disaster Risk Reduction (ER-DRR) Caritas KAM menyusun instrumen pemantauan pembangunan dan mekanisme pembayaran, sementara permohonan rekomendasi zona aman tengah diajukan melalui Camat Bandar Pusaka kepada BPBD Kabupaten Aceh Tamiang, langkah hati-hati yang memastikan 45 rumah berikutnya berdiri di tanah yang benar-benar aman dari ancaman bencana.
Kolaborasi ini sudah dirintis lebih awal. Pada 29 Juni 2026, Caritas Indonesia dan Caritas KAM bertemu dengan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Tamiang, Iman Suheri, untuk memperkuat koordinasi percepatan pembangunan. BPBD pun telah mengeluarkan rekomendasi zona aman untuk 50 lahan mandiri yang akan menjadi rumah bagi para penyintas.
“Kolaborasi antara pemerintah, Caritas, dan masyarakat merupakan wujud nyata semangat gotong royong dalam mempercepat pemulihan,” ujar Iman Suheri, menegaskan komitmen pemerintah kabupaten dalam hal koordinasi, perizinan, dan pendampingan teknis. Ia berharap seluruh pembangunan selesai tepat waktu, agar warga segera memiliki rumah yang aman dan nyaman untuk memulai kembali hidup mereka.
Lima rumah yang berdiri hari ini di Kampung Babo mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang akan segera menempatinya, setiap dinding adalah bukti bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa sulit. Dan bagi 45 keluarga lain yang masih menunggu, rumah-rumah ini adalah janji, bahwa pemulihan itu nyata, dan sedang menuju ke arah mereka, satu unit demi satu unit.
Salam Belarasa