2026/07/03 - 03:35:49pm

Dari Penjara hingga Utang Negara: Ketika Kesehatan Menjadi Soal Keadilan

Berita, Kabar Karina, Kilas Berita by Caritas Indonesia

Roma — Ada sesuatu yang berbeda di hari terakhir CI Health Conference. Kalau dua hari sebelumnya banyak bicara soal teknologi dan iklim, pada hari terakhir justru menggali hal-hal yang lebih jarang dibicarakan: apa yang terjadi pada orang sakit yang tak punya suara, tak punya uang, dan tak punya pilihan. Narapidana yang terjangkit TBC. Anak-anak dengan disabilitas yang tak punya akses layanan kesehatan layak. Dan negara-negara miskin yang harus memilih antara membayar cicilan utang atau membiayai rumah sakit. Tiga topik berbeda, satu benang merah: kesehatan, pada akhirnya, adalah soal keadilan.

 

TBC di Balik Jeruji

Dr. Yormahmad membuka sesi pagi dengan angka yang langsung membuat peserta terdiam: di Tajikistan, angka kejadian TBC dalam penjara bisa mencapai sepuluh kali lipat dibanding masyarakat umum. Sel yang sesak, sirkulasi udara yang buruk, gizi yang pas-pasan, semua itu membentuk lingkungan yang hampir sempurna untuk penularan penyakit. Dan di tengah kondisi itulah Caritas Tajikistan memilih untuk masuk.

Yang dilakukan Caritas bukan sekadar membagi obat. Mereka membangun kepercayaan, dengan narapidana, dengan keluarganya, bahkan dengan otoritas penjara yang awalnya penuh resistensi. Program Prison Kindergarten hadir untuk mendampingi anak-anak yang tumbuh di bayang-bayang sistem peradilan. Pendampingan psikososial diberikan karena sakit bukan hanya soal tubuh. Pesan Dr. Yormahmad sederhana tapi menghunjam: TBC tidak mengenal tembok.

Hanna Monika Dias dari WHO memperdalam diskusi dengan mengingatkan bahwa TBC dan kesehatan mental saling memperparah satu sama lain. Hampir separuh penderita TBC mengalami depresi, dan stigma yang mereka terima sering kali membuat mereka berhenti minum obat di tengah jalan. Francesca Merico dari Rome Paediatric HIV & TB Action Plan lalu membawa kabar yang membuat ruangan semakin sunyi: hanya 64 persen anak dengan HIV yang tahu status mereka sendiri. Hanya 54 persen yang mendapat pengobatan. "Anak-anak tidak bisa menunggu," katanya. Bukan kalimat retoris, itu pernyataan darurat.

 

Satu dari Enam Orang, Tapi Sering Tak Terlihat

Satu dari enam orang di dunia hidup dengan disabilitas. Itu lebih dari 1,3 miliar manusia. Tapi Alessandra Aresu dari Humanity & Inclusion memulai paparannya dengan kenyataan yang jauh lebih pahit dari angka itu: kelompok ini rata-rata meninggal dua puluh tahun lebih cepat. Bukan karena kondisi disabilitas itu sendiri, melainkan karena sistem yang tak pernah benar-benar dirancang untuk mereka.

Hambatannya berlapis. Ada yang fisik, gedung tanpa atap, formulir yang tak bisa dibaca. Ada yang kultural, tenaga kesehatan yang tidak tahu cara berkomunikasi, atau malah meremehkan. Ada yang struktural, kebijakan yang menulis kata "inklusif" tapi lupa menganggarkan dananya. Alessandra menegaskan bahwa organisasi seperti Caritas punya modal yang jarang dimiliki institusi besar: kepercayaan masyarakat, jaringan yang sudah ada, dan komitmen pada martabat manusia yang bukan sekadar slogan.

Sesi ini juga menyentuh krisis nutrisi global yang tak kalah pelik. Data dari Caritas Venezuela dan CRS menunjukkan paradoks yang nyata: di dunia yang sama, 149 juta anak mengalami stunting sementara 3 miliar orang kelebihan berat badan. Pola makan buruk kini menjadi akar dari hampir semua bentuk malnutrisi, dan biaya tersembunyi yang ditimbulkannya diperkirakan mencapai 10 triliun dolar AS, jauh melampaui apa yang bisa dijangkau oleh sistem kesehatan manapun sendirian.

 

 

Para panelis dalam berbagai sesi diskusi CI Health Conference, Roma, 25 Juni 2026. (Dok. Caritas Indonesia)

 

Ketika Utang Membunuh

Sesi penutup hari itu mungkin yang paling berat. Chloe Dahaleen dari Partners In Health memperlihatkan data yang baru dirilis UNDP: negara-negara dengan beban utang tinggi mencatat peningkatan angka kematian ibu sebesar 32,5 persen. Tujuh puluh tujuh perempuan tambahan meninggal per 100.000 kelahiran. Bukan karena penyakit yang tak bisa diobati. Tapi karena rumah sakit tidak punya dana, karena uangnya sudah habis untuk bayar utang.

Sr Maamalifar M. Poreku dari Komisi USG-UISG JPIC mengingatkan bahwa di balik angka-angka itu ada manusia-manusia yang diciptakan menurut citra Allah dan berhak atas kehidupan yang layak. Miranda Ngwerume, pemuda Katolik dari Afrika Selatan, hadir bukan dengan teori tapi dengan realita generasinya: hampir 41 persen pemuda Afrika bergulat dengan masalah emosional dan perilaku, angka ide bunuh diri hampir menyentuh 24 persen. "Bagi kami, utang tidak diukur dalam dolar," katanya. "Utang diukur dalam peluang yang hilang."

Alfonso Apicella dari Caritas Internationalis menutup konferensi tiga hari ini dengan memaparkan kampanye Turn Debt into Hope, sebuah seruan yang kini didukung lebih dari 316 organisasi di 92 negara dan lebih dari 232.000 tanda tangan petisi. Kampanye ini berakar dari tradisi Yobel: pembebasan dari beban yang tak adil, pemulihan martabat bagi yang tertindas. Di dunia yang sistem keuangannya terus menghasilkan ketidakadilan yang sama, Caritas memilih untuk tidak diam, dan mengajak semua pihak untuk ikut bersuara.

 

Salam Belarasa

 

Donasi ke Caritas Indonesia

Amal Kasih untuk anak-anak di Kodi Utara

Lihat Detail
Lihat Semua