Exit Strategy Dalam Pendampingan OM PRB – Caritas Indonesia – KARINA

Exit Strategy Dalam Pendampingan OM PRB

23/10/2012

Penyerahan Tongkat Kepada Desa Sebagai ‘Exit Strategy’  Dalam Pendampingan OM PRB. Istilah OM di kalangan pelaku Pengurangan Resiko Bencana (dimenejemeni) Oleh Masyarakat (PRBOM/CMDRR) bukanlah barang asing. Namun dalam praktek bentuk dan peranannya sangat berbeda di satu keuskupan dengan keuskupan yang lain. Hal ini sangat wajar karena situasi dan keadaan masyarakat yang berbeda

Tulisan ini mau membahas tentang peran OM yang dilahirkan dalam proses PRBOM dan peluang untuk diintegrasikan dalam kehidupan desa/kelurahan, sebagai Lembaga Kemasyarakatan dalam bidang penanggulangan bencana.

OM dalam rangkaian proses PRBOM menjadi Lembaga Pemasyarakatan Desa
Dalam Panduan fasilitasi CMDRR yang dikeluarkan oleh IIRR Philipina, maupun yang sudah diadopsi Karina pembentukan OM menjadi bagian integral dari aksi PRB yang dihailkan dari seluruh rangkaian Kajian Resiko Bencana. Kalau mengikuti proses secara ketat 10 Langkah PRBOM, pembentukan OM baru dipikirkan dan diwujudkan mulai langkah ke tiga setelah kajian resiko bencana selesai dan menghasilkan aksi PRB baik dalam lingkup pencegahan dan mitigasi maupun dalam membangun ketahanan dan kesiapsediaan. Dengan kata lain organisasi dibentuk setelah tahu dan disepakati apa yang akan dikerjakan. Bukan sebaliknya organisasi dibentuk baru mencari pekerjaan. Selanjutnya pendampingan diarahkan pada penguatan dan pengembangan organisasi masyarakat agar semakin professional dan berkesinambungan dalam aksi penanggulangan bencana di komunitas/desa.

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005, tentang Desa,  pasal 89:’Di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan. Pembentukan lembaga kemasyarakatan ditetapkan dengan Peraturan Desa’, serta pasal 90: ‘Lembaga kemasyarakatan mempunyai tugas membantu Pemerintah Desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa’, bisa menjadi dasar hokum bahwa OM PRB yang diinisiasi dalam PRBOM menjadi lembaga resmi di desa.

Apalagi ditegaskan oleh Keputusan Kepala BNPB no. 1/2012 tentang Desa Tangguh Bencana: ‘ Sesuai UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab penyelenggaran penanggulangan bencana. Pengembangan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana pada hakikatnya merupakan bagian dari pelaksanaan tanggung jawab ini yang pengaturannya diserahkan kepada desa/kelurahan, dan menjadi tanggung jawab Pemerintah Desa atau Kelurahan.’

Singkatnya ada peluang, apa yang dikerjakan oleh Keluarga Karitas dalam mengimplementasikan program PRBOM dapat menjadi dukungan yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat desa.

Lembaga Karitas dalam menfasiliasi Pengembangan Organisasi Masyarakat  PRB, dapat diseleraskan dengan tujuan khusus pengembangan Desa/Kelurahan Tangguh bencana ini yakni:

  1. Melindungi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bahaya dari dampak-dampak merugikan bencana
  2. Meningkatkan peran serta masyarakat, khususnya kelompok rentan, dalam pengelolaan sumber daya dalam rangka mengurangi risiko bencana
  3. Meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya dan pemeliharaan kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana
  4. Meningkatkan kapasitas pemerintah dalam memberikan dukungan sumber daya dan teknis bagi pengurangan risiko bencana
  5. Meningkatkan kerjasama antara para pemangku kepentingan dalam PRB, pihak pemerintah daerah, sektor swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi masyarakat dan kelompok-kelompok lainnya yang peduli

Pengintegrasian OM PRB yang diinisiasi oleh PRBOM tidak hanya untuk kepentingan desa tetapi juga untuk OM PRB sendiri, yakni memperoleh status hukum dan dapat mengakses dana dari pemerintah desa, kecamatan maupun kabupaten untuk kepentingan Penanggulangan Bencana di desa. Dengan demikian keberlanjutan organisasi mendapat jaminan.  Dan keterikatan OM PRB kepada Karitas menjadi ikatan kemitraan.

Musrenbangdes dalam Penanggulangan Kebencanaan
Dalam tata kelola Desa, biasanya ada Musyawarah Rencana Pembangunan Desa, yang diadakan pada awal tahun. Ada yang bertujuan untuk  menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (untuk jangka waktu lima tahun), ada pula untuk membuat Rencana Kerja Pembangunan Desa yang akan dikerjakan dalam satu tahun sebagai turunan dari RPJM tsb.

OM yang telah memperoleh mandate dari komunitas untuk menjalankan aksi masyarakat, membawa rencana aksi itu dalam ranah desa melalui munsrenbang, agar secara resmi Rencana Aksi PRB yang dihasilkan dalam Kajian Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas yang dikonsolidasikan dalam Analisa resiko bencana mejadi aksi resmi desa, melalui pengesyahan dari Kepala Desa, dalam bentuk Surat Keputusan. Maka salah satu agenda dalam penguatan OM PRB untuk pengembangan strategi  adalah mendukung OM dan aparat desa serta Lembaga Desa (BPD dan LKMD) untuk menyiapkan penyelenggaraan musrenbang yang keluarannya adalah keputusan resmi Kepala Desa.  Demikian alur yang ditentukan dalam Peraturan Pemendgrino 66 /TAHUN 2007Tentang 
Perencanaan Pembangunan Desa.

Kesimpulan
Program pengarusutamaan Pengurangan Resiko Bencana  Karina yang diimplementasikan oleh Karitas Dioses bukan untuk kepentingan Karina atau Karitas sendiri melainkan untuk kepentingan masyarakat, terutama yang miskin dan rentan terhadap bencana.

Pendekatan PRBOM lebih besar memberi kepercayaan kepada masyarakat sendiri untuk menjadi pemilik dan actor utama pembangunan yang berwawasan kebencanaan. Masyarakat memeproleh kesempatan untuk  menentukan apa yang akan dibuat sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Ada perubahan yang mendasar bahwa kebaikan hati sinterklas menjadi penguatan dan pemberdayaan yang bersumber pada kemampuan dan sumber daya masyarakat sendiri.

Organisasi Mayarakat PRB yang dibentuk dan dihasilkan oleh PRBOM bukan lagi menjadi anak buah atau kepanjangan dari karitas tetapi menjadi mitra bagi karitas. Dorongan dan bantuan agar OM PRB diakui dan dijadikan lembaga resmi Kemasyarakatan Desa, untuk  ‘exit strategy’ dari Karitas dan untuk menjamin kemandirian dan keberlanjutan dari OM PRB itu sendiri.

Untuk mengakhiri tulisan ini saya mengutip ajaran Lao Tsuyang diterjemahkan secara bebas untuk kita resapi bersama.

Pergilah ke rakyat
Hiduplah  diantara mereka;
Cintaolah  mereka;
Belajarlah  dari mereka;
Mulaikah  dari apa yang ada pada mereka;
Bekerjalah  dengan mereka;
Kembangkanlah  apa yang mereka miliki.

Sebagai  pemimpin-pemimpin yang terbaik,
Saat tugas telah tuntas,
Saat pekerjaan telah usai,
Semua rakyat menyatakan:
“Kita telah menyelesaikannya sendiri”

Salam Bela Rasa Kita
budhipr

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta