Dibalik Keindahan Renggarasi – Caritas Indonesia – KARINA

Dibalik Keindahan Renggarasi

19/01/2015

Desa Renggarasi merupakan satu dari delapan desa dan kelurahan yang berada di Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Perjalanan ke desa tersebut kami tempuh kurang lebih setengah hari dari Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang. Lepas dari Bandara Soekarno-Hatta selama 2 jam kami tiba di Bali untuk transit dan melanjutkan perlananan. Dengan menggunakan pesawat yang lebih kecil, kami terbang selama 2 jam untuk sampai ke Bandara Frans Seda, Maumere.

Dari sini, perjalanan akan ditempuh selama 1 hingga 2 jam dengan menggunakan mobil atau motor untuk sampai ke Renggarasi. Kesiapan kendaraan dan fisik yang prima sangat diperlukan untuk melalui jalan yang cukup berliku menuju ke desa ini. Setibanya di wilayah desa tersebut, jalanan semakin berliku, penuh tanjakan dan turunan. Kami harus ekstra hati-hati karena berjalan di sisi tebing dengan jurang yang cukup dalam pada sisi lainnya. Pada akhirnya, seluruh perjalanan itu terbayar dengan keindahan pemandangan desanya. Lanskap yang cantik lengkap dengan bukit, lembah, dan pepohonannya. Sementara di kejauhan nampak lautan luas yang sungguh dapat menjadi penghibur selama berada di sana.

Dusun yang kami tuju ini adalah Dusun Wolopara, yang letaknya cukup tinggi di atas perbukitan, dengan penghuni sekitar 84KK. Matapencaharian mayoritas warganya adalah bercocok tanam. Mereka membuka ladang-ladang di perbukitan. Salah satu yang coba dibudidayakan adalah tanaman sorgum. Selain bercocok tanam, ada sebagian warganya yang juga mencoba untuk berternak kambing. Usaha-usaha yang mereka lakukan bisa dibilang cukup berhasil dan mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.  Warga Dusun Wolopara sangat ramah, mereka menyambut semua tamu yang datang di sana dengan senyum yang merekah.

Namun, di balik semua keindahan dan keramahan tersebut, dusun ini pun menyimpan beberapa permasalahan yang membutuhkan perhatian serius. Permasalahan yang sering mereka hadapi, terutama di bulan Januari dan Februari adalah datangnya angin kencang. Angin kencang ini mengancam tidak hanya bangunan rumah warga namun juga merusak lahan pertanian dan perkebunan mereka. Tentu saja hal tersebut juga mengancam keselamatan para warga.

Berbagai macam usaha sudah mereka lakukan untuk mengurangi dampak dari angin kencang tersebut. Salah satunya adalah dengan kegiatan lokalatih tentang pembangunan dan penguatan rumah yang lebih tahan angin yang difasilitasi oleh KPSE Caritas Keuskupan Maumere, bekerja sama dengan KARINA (Caritas Indonesia). Kegiatan ini mendatangkan lembaga konsultan dari Humanitarian Benchmark Consultancy (HBC) Yogyakarta. Lokalatih ini mendapat tanggapan yang positif dari para peserta karena selain mendapatkan pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar rumah tahan angin, mereka juga dapat mempraktekkan bagaimana caranya mengurangi dampak dari angin kencang.

Selain permasalahan angin kencang, penerangan dengan menggunakan tenaga listrik juga belum masuk ke wilayah ini. Selama ini warga memanfaatkan generator listrik berbahan bakar premium (genset) sebagai sarana pemenuhan kebutuhan akan listrik dan penerangan. Namun demikian tidak semua warga memilikinya dan tidak setiap hari mereka menggunakan genset tersebut. Hal ini tentunya cukup memprihatinkan, terutama bagi mereka yang memiliki anak-anak yang bersekolah. Kegiatan belajar di rumah pun hanya bisa mengandalkan penerangan dari lampu minyak. Dalam perjalanan menuju dusun ini, memang kami melihat beberapa tiang listrik yang sudah terpasang. Namun tiang-tiang tersebut baru bisa dipasang di daerah bawah dan letaknya cukup jauh dari Dusun Wolopara. Tiang-tiang listrik yang baru terpasang di bawah itu setidaknya memberikan harapan akan segera masuknya listrik ke Dusun Wolopara.

Pada lain hal, air juga menjadi permasalahan pokok di sana. Ketika musim hujan belum datang, ketersediaan air dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Masyarakat biasanya mengantri di mata air yang letaknya tidak jauh dari dusun Wolopara. Namun karena debit air yang kecil, maka untuk mengisi satu jerigen isi 5 liter pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Kepala Dusun, Bapak Ardianus Ardi, dalam perbincangan bersama kami mengharapkan bantuan pipa untuk menyalurkan air dari wilayah lain ke dusun Wolopara. Kurangnya debit air ini mungkin ada kaitannya dengan semakin berkurangnya tanaman keras di bukit-bukit di sekeliling dusun tersebut.

Saat ini, semakin banyak kawasan pepohonan yang ditebang untuk kemudian diganti sebagai lahan berkebun atau bertani. Semakin gundulnya wilayah tersebut berpengaruh pada ketahanan suatu wilayah terhadap terjangan ancaman angin kencang. Karena menurut Dave Hodgkin, konsultan dari HBC, adanya vegetasi atau pepohonan di sekitar rumah dapat mengarahkan, memecah dan mengurangi kekuatan angin yang akan menerjang pemukiman penduduk. Ketika vegetasi di daerah tersebut kurang, maka akan tercipta lorong angin yang mengarahkan secara langsung angin kencang ke dusun tersebut. Kecuali itu, dengan semakin berkurangnya pepohonan atau tanaman keras di perbukitan, juga dapat mendatangkan ancaman baru, yaitu longsor di musim penghujan.

Dusun Wolopara menjadi tempat persinggahan kami untuk mempelajari banyak hal. Selain melihat keindahan desa dan keramahan warganya, terdapat juga beberapa hal yang berpotensi mengancam kelangsungan hidup di sana. Semuanya itu bisa dihadapi dengan kesadaran warga terhadap ancaman yang ada dan bagaimana mereka menghadapi ancaman itu dengan memperhatikan kearifan lokal dari kondisi dan adat istiadat masyarakat setempat. Semoga perjalanan mereka dalam membangun kehidupan yang lebih tangguh dan kuat dapat segera terwujud. ■ mdk

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta