Berkonferensi dan Belajar Tani di Sekolah Sawah – Caritas Indonesia – KARINA

Berkonferensi dan Belajar Tani di Sekolah Sawah

17/05/2016
Anak-anak SD Kanisius Prontakan menyambut peserta “Farmers’ Conference Caritas Asia” dengan musik tradisional Jawa yang dimainkan dengan gamelan (Foto: Martin Dody K.).

Setiap tahunnya, Caritas Asia mengadakan pertemuan regional tingkat Asia bagi para petani. Kurang lebih setahun yang lalu, konferensi untuk para petani ini diselenggarakan di Nepal dan ‘ditutup’ oleh gempa besar yang mengguncang negara tersebut. Tahun ini, pelaksanaan konferensi mengambil tempat di Kota Yogyakarta dan berlangsung sejak tanggal 19-22 April 2016. Konferensi ini diikuti oleh lembaga Caritas-caritas dari Nepal, Myanmar, Bangladesh, Sri Lanka, Phillipines, India, Vietnam, Thailand, Indonesia, Cambodia, dan Pakistan. Pertemuan ini juga dihadiri oleh KARINAKAS, Komisi PSE Keuskupan Agung Semarang, dan SPTN HPS.

Selama empat hari, para peserta berbagi pengalaman tentang kegiatan pertanian organik yang mereka lakukan dan kembangkan di negara masing-masing dengan pendampingan dari lembaga Caritas. Setiap perwakilan negara diberi kesempatan untuk mempresentasikan good-practices dari kegiatan pertanian yang mereka lakukan selama ini. Bapak Anselmus Raja, perwakilan KARINA yang berasal dari Maumere, menampilkan alat pengukur curah hujan yang dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana seperti jerigen, corong, gelas ukur dan batang kayu. Alat ini sangat membantu warga untuk mengetahui pola curah hujan selama 30 hari.

Pak Anselmus Raja, wakil Caritas Keuskupan Maumere, menjelaskan alat pengukur curah hujan sederhana kepada Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OMF. Cap dan RD. Alexius Dwiariyanto (Foto: Y. Baskoro)
Pak Anselmus Raja, wakil Caritas Keuskupan Maumere, menjelaskan alat pengukur curah hujan sederhana kepada Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OMF. Cap dan RD. Alexius Dwiariyanto (Foto: Y. Baskoro)

 

Sementara itu, Ibu Maria Suel, perwakilan KARINA yang berasal dari Ruteng, menunjukkan alat sederhana untuk mengukur tingkat kesuburan tanah. Alat ini dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti batang kayu, kabel, lampu 20 Watt dan batang besi. Dengan menggunakan alat ini, kita bisa mengetahui apakah tanah yang akan kita tanami cukup baik atau diperlukan unsur-unsur lain, seperli mikro-organisme lokal (MOL), untuk meningkatkan kesuburannya. Presentasi dari Pak Anselmus dan Bu Maria mendapat apresiasi yang tinggi dari para peserta konferensi. Banyak dari mereka yang memperhatikan sungguh paparan dari para petani Indonesia ini.

Selain berbagi pengalaman antar para petani di dalam ruangan pertemuan, para peserta konferensi juga diberi kesempatan untuk belajar pertanian organik di ‘Sekolah Sawah’ SD Kanisius Prontakan di Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Sekolah Sawah ini berada kurang lebih 8 Km dari puncak Gunung Merapi. Masyarakat setempat bekerjasama dengan Kepala Sekolah, Sr. Rosary, mencoba memperkenalkan dunia pertanian melalui pendidikan di sawah yang diikuti oleh anak-anak kelas 3 s/d 6. Tim Sekolah Sawah yang berjumlah 12 orang, bergantian memberikan materi pelajaran mulai dari pengenalan tanaman, pengolahan tanah, pembibitan, peternakan hingga pembuatan pupuk organik.

Ibu Maria Suel menunjukkan cara kerja alat pendeteksi unsur hara kepada para peserta. (Foto: Martin Dody K.)
Ibu Maria Suel menunjukkan cara kerja alat pendeteksi unsur hara kepada para peserta. (Foto: Martin Dody K.)

 

Pada saat kunjungan lapangan, para peserta konferensi dibagi kedalam empat kelompok untuk belajar tentang pencangkokan dan stek, peternakan, pembibitan dan pembuatan pupuk organik. Suasana belajar di sawah cukup menggembirakan walaupun siang itu cukup terik. Hal ini terjadi karena anak-anak bermain gamelan dan bernyanyi bersama sebelum turun ke sawah. Para peserta merasakan suasana penuh kegembiraan ini sambil mempraktekkan cara bertani yang baik bersama dengan anak-anak. Untuk menambah kesemarakan acara, para peserta dijamu dengan makan siang ‘nasi berkat’ yang berisi sayur dan lauk-pauk yang dibungkus dengan nasi yang panas. Nilai filosofi dari nasi berkat ini adalah bahwa setiap butir nasi yang dimakan mengandung doa dari para petani untuk kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang.

Selama konferensi berlangsung, kegiatan kunjungan lapangan ini mendapat apresiasi yang sangat baik dari para peserta. Adanya Sekolah Sawah ini menunjukkan bagaimana masyarakat dan sekolah mengembangkan sistem pendidikan yang baik untuk anak-anak. Le van Quan, dari Caritas Vietnam, mengatakan bahwa ‘sustainable agriculture dapat terwujud bila anak-anak mau belajar tentang pertanian’. Hal ini disadari bahwa di sebagian negara peserta, melibatkan anak-anak di sawah adalah hal yang tidak lazim. Maka dari itu, Sekolah Sawah ini memberi inspirasi tentang upaya mengajarkan tani sejak dini kepada anak-anak. ‘Dengan berada di sawah, anak-anak dapat menghargai pekerjaan ayah-ibunya,’ ucap Patricia Wai, dari Caritas Myanmar.

(Kiri) Para peserta mendapatkan penjelasan tentang sistem irigasi 'water drip' yang menggunakan selang. (Kanan) Dr. Haridas (kiri) bersama anggota Tim Sekolah Sawah membuat mikro organisme lokal (MOL)
(Kiri) Para peserta mendapatkan penjelasan tentang sistem irigasi ‘water drip’ yang menggunakan selang. (Kanan) Dr. Haridas (kiri) bersama anggota Tim Sekolah Sawah membuat mikro organisme lokal (MOL)

 

Lebih jauh lagi, masyarakat Desa Ngargomulyo sangat menghormati alam sebagai sumber rejeki dan tempat tinggalnya. Mereka menggunakan bahan-bahan lokal yang tersedia dari alam untuk mengembangkan pertanian dan membuat pupuknya. Kekayaan tradisi ini juga dilihat oleh para peserta sebagai hal yang positif. Jebamalai Sagarayaj, dari Caritas Sri Lanka, mengatakan, ‘untuk membuat dunia yang lebih baik, kita harus bertahan pada pertanian organik. Tradisi ini harus diturunkan kepada generasi yang akan datang.’ Sementara itu Zar Gomes, dari Caritas Asia, mengatakan bahwa, ‘anak-anak adalah masa depan pertanian organik dan apa yang dilakukan di Sekolah Sawah ini sungguh mengesankan.’

Demikian pula, proses kegiatan konferensi untuk para petani ini diselenggarakan dengan baik dan tanpa hambatan yang berarti. Para peserta juga membagikan benih-benih tanaman lokal dari negaranya masing-masing kepada para petani dan tim Sekolah Sawah SD Kanisius Prontakan. Benih-benih tersebut, bersama dengan teknologi pertanian lokal, sempat dipamerkan selama pelaksanaan konferensi di Hotel Puri Artha, Yogyakarta.

Selain untuk berbagi pengalaman, salah satu tujuan dari konferensi ini adalah untuk saling belajar teknologi pertanian lokal yang tepat guna, khususnya untuk pertanian organik. Seperti halnya bagaimana Ensiklik Laudato Si’ yang mengajak kita semua untuk mencintai alam yang semakin rusak dan terganggu oleh perubahan iklim. Sehingga para petani akan semakin dikayakan untuk lebih memilih bahan-bahan organik, demi menjaga kelangsungan ekosistem dan lingkungan. ?YB

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta