Belajar Membuat Film Dokumenter di Nangahure – Caritas Indonesia – KARINA

Belajar Membuat Film Dokumenter di Nangahure

18/07/2016
RD. Andre Lanus dan RD. Yohanes Kiri saat pengambilan gambar di Desa Hewuli (Foto: M. Dody Kumoro)

Semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, mendorong banyak pihak, termasuk Caritas, untuk memanfaatkan teknologi itu semaksimal mungkin. Munculnya berbagai bentuk media sosial yang mudah diakses, memungkinkan kita untuk menyampaikan informasi dalam bentuk tulisan, foto dan film sekaligus. Dalam membangun relasi dengan mitranya, KARINA juga memanfaatkan artikel berita yang disertai foto atau film dalam setiap publikasi melalui media sosial. Setiap foto yang ditampilkan dibuat sedemikian rupa sehingga mampu bercerita dan menunjang isi berita yang ditampilkan.

Setelah beberapa kali menyelenggarakan lokalatih fotografi tentang “foto bercerita”, dalam kesempatan yang lain KARINA diminta oleh Forum Caritas Regio Nusra untuk memfasilitasi lokalatih media, khususnya pembuatan film dokumenter. Lokalatih ini diadakan di Gading Beach, Nangahure, Alok Barat, Maumere pada tanggal 8-12 Juni 2016. Para peserta yang mengikuti lokalatih berjumlah 21 orang yang mewakili keanggotaan Forum Caritas Regio Nusra plus Sintang, yaitu Keuskupan Maumere, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Atambua, Keuskupan Weetebula, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Denpasar, dan Keuskupan Sintang.

DSCF7811
Suasana Pelatihan Media di Gading Beach Hotel, Maumere, NTT. (Foto: Y. Baskoro)

Fasilitator utama dalam lokalatih pembuatan film dokumenter ini adalah Jhonny Anthony, staf Caritas PSE Keuskupan Maumere (CPSE-KM), yang sudah banyak menghasilkan film dokumenter untuk CPSE-KM. Salah satu karyanya tentang gerakan penghijauan di Bukit Kajuwulu sempat memenangkan penghargaan “best video of the week” dari NET TV pada tahun 2015. Sementara itu, karya lainnya yang mendapat apresiasi dari publik adalah film “Bentara Cahaya 1 & 2” tentang pengiriman tenaga pendidik ke Pulau Besar, bekerjasama dengan Indosiar dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selain Jhonny, staf Divisi NAC KARINA menjadi fasilitator pendamping dalam lokalatih selama 3 hari tersebut.

Romo Siprianus Sadipun, Pr selaku koordinator Caritas Keuskupan Regio Nusra, membuka lokalatih dan dilanjutkan oleh Pater Klaus Naumann, SVD yang memberikan ucapan selamat datang kepada para peserta lokalatih. Sebagai pengantar, para peserta diajak untuk mempelajari tentang prinsip-prinsip dasar penggunaan kamera dan pengambilan gambar. Mengingat latar belakang peserta yang beragam, maka materi ini dianggap perlu untuk disampaikan karena pada dasarnya pengambilan gambar bergerak juga menggunakan prinsip dasar fotografi. Prinsip dasar yang dimaksud adalah EDFAT (entire, detail, framing, angle and time) untuk mendapatkan komposisi gambar yang baik.

Jhonny Anthony (tengah) sedang menunjukkan cara setting kamera yang digunakan untuk mengambil gambar kepada peserta. (Foto: M. Dody Kumoro)
Jhonny Anthony (tengah) sedang menunjukkan cara setting kamera yang digunakan untuk mengambil gambar kepada peserta. (Foto: M. Dody Kumoro)

Setelah memahami prinsip-prinsip dasar tersebut, kemudian para peserta mempelajari tentang teknik-teknik pengambilan gambar bergerak yang disampaikan oleh Jhonny. Ia memperagakan teknik-teknik dasar dengan menggunakan beberapa peralatan, seperti kamera yang ditayangkan langsung melalui proyektor. Ia juga menayangkan beberapa film sebagai contoh kasus dari setiap materi yang disampaikannya. Para peserta terlihat cukup antusias di hari pertama ini dengan melontarkan banyak pertanyaan kepada para fasilitator.

Berbekal pengetahuan dasar pengambilan film pada hari pertama, para peserta kemudian mempraktikkannya di hari kedua. Pukul 08.00 pagi, para peserta sudah siap dengan peralatannya masing-masing untuk melakukan pengambilan gambar di Desa Hewuli, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT. Cerita yang mau difilmkan adalah tentang salah seorang pengungsi Rokatenda yang mengungsi ke Desa Hewuli dan memulai hidup baru di sana. Tokoh utama dari cerita ini adalah Bapak Bronfile Wero, yang menjadi tukang kayu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya di tempat pengungsian dengan berbekal modal seadanya.

Suasana pengambilan gambar di rumah Bapak Bronfile Wero di Desa Hewuli. (Foto: Y. Baskoro)
Suasana pengambilan gambar di rumah Bapak Bronfile Wero di Desa Hewuli. (Foto: Y. Baskoro)

Pada saat proses pengambilan gambar, para peserta menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan kelompoknya. Ada sekelompok orang yang mengambil gambar dari berbagai sudut, ada yang menyiapkan logistik dan wardrobe, ada yang menjadi soundman, ada yang menjadi pewawancara, dan ada yang mengabadikan kegiatan ini ke dalam foto. Seluruh proses pengambilan gambar di bawah arahan Jhonny, sebagai sang sutradara. Proses pengambilan gambar berhenti sejenak untuk jeda makan siang dan dilanjutkan kembali untuk mengambil gambar wilayah Desa Hewuli secara keseluruhan dengan menggunakan drone.

Bapak Bronfile Wero, tokoh utama dalam praktek pembuatan film dokumenter. (Foto: Y. Baskoro)
Bapak Bronfile Wero, tokoh utama dalam praktek pembuatan film dokumenter. (Foto: Y. Baskoro)

Setelah selesai melakukan proses syuting, para peserta kemudian melakukan proses pemilahan dan pengeditan film. Pada hari terakhir ini, para peserta diajak untuk melihat secara langsung proses editing yang dilakukan oleh Jhonny dan tiga orang peserta yang bertugas sebagai editor. Supaya dapat melibatkan para peserta ke dalam proses belajar, maka dibentuk empat kelompok untuk mencoba melakukan editing atas hasil gambar-gambar yang ada dengan alur cerita yang dipilih oleh masing-masing kelompok. Walaupun terkendala oleh beberapa perangkat laptop peserta, namun proses tetap dapat berjalan dengan baik. Pada sesi terakhir sebelum acara penutupan, hasil editing dari para peserta kemudian ditayangkan untuk mendapat masukan dari peserta dan fasilitator. (Film bisa dilihat pada tautan ini: http://karina.or.id/video-pelatihan-membuat-film-dokumenter-regio-nusra/)

Berdasarkan masukan dari para peserta, proses lokalatih selama tiga hari ini belumlah cukup. Sebab, sebagian besar dari para peserta tidak mempunyai latar belakang media sama sekali, khususnya untuk fotografi dan sinematografi. Mereka berharap adanya pelatihan lanjutan yang dapat membantu mereka untuk memperdalam kemampuan membuat film dokumenter ini. Jhonny, sebagai seorang film maker, juga mendorong para peserta untuk terus berlatih dan mempraktikkan apa yang mereka dapatkan dalam lokalatih yang pendek ini. Latihan demi latihan akan mengasah keterampilan dan mengolah rasa para peserta dalam menghasilkan karya film yang lebih baik. Pepatah bijak mengatakan, “never stop doing your best just because someone does not give you credit.” ▪ MDK

DOD_4867
Para peserta Pelatihan Media setelah selesai proses pengambilan gambar, berfoto bersama di depan rumah Bapak Bronfile Wero. (Foto: M. Dody Kumoro)
Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta