Bangkit Berkarya dalam Keterbatasan – Caritas Indonesia – KARINA

Bangkit Berkarya dalam Keterbatasan

30/10/2015

Saya dulu terlahir normal. Saya menjalani hidup seperti orang kebanyakan dan sempat bekerja pada sebuah perusahaan periklanan di Jakarta. Namun, pada tahun 2000 saya mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan saya harus menggunakan kursi roda, kata Partoyo (42 tahun). Setelah kecelakaan tersebut, Mas Partoyo masih tetap berada di Jakarta untuk mendapatkan serangkaian proses pengobatan yang ditanggung oleh perusahaan. Hingga pada akhir tahun 2001 ia memutuskan untuk pulang ke Klaten, Jawa Tengah.

Memulai hidup baru di Klaten, ia belum juga mendapatkan pekerjaan tetap sampai tahun 2006. Peristiwa gempa besar yang terjadi di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tahun 2006 mempertemukan Mas Partoyo dengan KARINAKAS (Caritas Indonesia Keuskupan Agung Semarang). Banyak kegiatan pendampingan dari KARINAKAS yang ia ikuti hingga tahun 2009. Karena dianggap memiliki keterampilan lebih, Mas Partoyo dan empat orang lainnya diajak oleh KARINAKAS untuk mengikuti pelatihan mengelas di sebuah bengkel.

Bengkel las tersebut bernama ‘Bangkit’ yang terletak di Kutu, Sumyang, Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah. Selain menerima pesanan untuk mengelas pagar dan teralis, bengkel ini mempunyai kekhususan untuk memperbaiki kursi roda dan memodifikasi motor aksesibel untuk para pengendara difabel. Modifikasi yang dilakukan misalnya dengan mengubah motor roda dua menjadi tricycle ataupun menambahkan kereta samping pada motor (sespan) sehingga pengendara yang menggundakan kursi roda bisa ‘diangkut’. Yang istimewa dari desain modifikasi ini adalah para pengendara difabel berkursi roda dapat naik dan mengendarai motor tersebut tanpa bantuan orang lain.

Para pekerja di bengkel las ini berjumlah enam orang dan kesemuanya adalah para difabel. Salah satunya adalah Sanyoto (40 tahun). Ia bergabung di bengkel las ini sejak tahun 2014. Pada usia 2 tahun Mas Sanyoto mengalami demam tinggi yang pada akhirnya membuat fisiknya mengalami keterbatasan. Bagian tubuh sebelah kiri, yaitu syaraf wajah, tangan dan kaki kirinya tidak berfungsi secara maksimal. Walaupun berbagai cara pe-ngobatan sudah ditempuh, ia tidak dapat pulih sepenuhnya. Hal ini tidak membuatnya menyerah pada keadaan dirinya. Aktifitas harian, yaitu beternak kambing dan bekerja di tempat cuci motor-mobil milik adiknya, tetap ia jalani seperti halnya orang lain.

Saat ini Bengkel Las Bangkit terus berkembang dan semakin banyak yang mengenal. Pemesan motor aksesibel ini tidak hanya datang dari wilayah Klaten, namun juga dari luar kota. Berbagai varian telah mereka hasilkan, seperti motor modifikasi untuk difabel ‘paraplegi (mereka yang mengalami kelumpuhan separuh tubuh ke bawah). Mas Partoyo mengendarai motor modifikasi paraplegi yang belum bisa untuk berjalan mundur. Sehingga untuk memundurkan motornya masih membutuhkan bantuan orang lain. Namun sekarang ini, mereka sudah bisa membuat varian motor modifikasi yang dapat dikendarai mundur.

Pengerjaan 1 unit motor modifikasi ini membutuhkan waktu 3 4 minggu dengan biaya 4 – 6,5 juta rupiah (di luar unit motor). Bagi pemesan dari luar kota dapat mengirimkan motornya ke bengkel ini dan kemudian jika sudah jadi akan dikirim ke alamat pemesan. Bengkel ini pun melayani sistem ‘jemput bolakepada para konsumennya.


Belum lama ini, motor modifikasi karya Bengkel Las Bangkit dipamerkan di acara Pameran Pengurangan Resiko Bencana yang diadakan di Benteng Vastenburg, Solo pada tanggal 16-18 Oktober 2015. Mas Partoyo dan Mas Sanyoto bergabung dengan KARINA dalam pameran yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperingati Bulan Pengurangan Resiko Bencana sedunia. Hasil karya motor modifikasi dan semangat mereka berdua selama pameran menarik minat banyak pengunjung. Kunjungan yang paling berkesan adalah ketika
Gubernur Jawa Tengah, Bapak H. Ganjar Pranowo, M.IP serta Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Bapak Ir. Bernardus Wisnu Widjaja, M.Sc. menyatakan apresiasi atas apa yang telah dikerjakan oleh Mas Partoyo dan Mas Sanyoto. Hal ini membuktikan bahwa mereka tetap berdaya dalam keterbatasan fisik dengan karya-karya yang dihasilkan dan membuat hidup mereka menjadi lebih bermartabat.    

Ketika ditanya apa pendorong semangat mereka dalam berkarya, Mas Partoyo dan Mas Sanyoto sepakat menjawab bahwa mereka tidak mau menjadi beban bagi orang lain. ‘Masak sudah kondisi seperti ini masih mau merepotkan orang lain mas?’ kata Mas Partoyo. Mereka berdua tidak mau keterbatasan fisik membatasi mereka untuk berkarya dan beraktifitas. Saya tetap bisa mandiri dan kemana saja tanpa merepotkan orang lain,’ sambung Mas Sanyoto.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta