Petani Tangguh Perubahan Iklim di Indramayu

Sudah sekitar satu dekade terakhir, Nurkilah meyakini, bahwa untuk memperoleh hasil panen melimpah, petani perlu tahu waktu yang tepat untuk mulai menanam. Petani tidak boleh asal tanam, ada perhitungan dan tertib-tertib yang perlu diikuti. Pemahaman Nurkilah ini tidak asal jadi, ia telah melalui saat-saat “ketidaktahuan”, namun dicerahkan berkat keterlibatannya dalam Klub Pengukur Curah Hujan (KPCH).

“Dulu kalau menanam ya asal tanam saja kalau dirasa waktunya sudah tepat, sekarang ada perhitungan-perhitungannya,” ujar Nur.

KPCH yang dimaksud Nurkilah adalah komunitas yang didampingi akademisi dari Universitas Indonesia melalui program pengembangan masyarakat sejak tahun 2009 di Indramayu, Jawa Barat. Belakangan, komunitas ini berganti nama menjadi Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI).

Foto-Tim Caritas Indonesia saat diskusi bersama anggota PPTPI di Indramayu

Mengapa nama komunitas memasukan kata “perubahan iklim”? Hal ini karena aktivitas dan ilmu-ilmu yang dikembangkan di kelompok tani ini memang menjadi satu cara untuk beradaptasi pada bumi yang semakin panas.

Adaptasi Perubahan Iklim

Komunitas PPTPI ini berawal dari inisiasi pendampingan program pengembangan masyarakat oleh Universitas Indonesia pada tahun 2009. Sebelumnya, komunitas ini telah mengalami beberapa kali pergantian nama. Nama, PPTPI digunakan tahun 2019 ketika resmi terdaftar di Kemenkumham.

Langkah adaptasi yang dilakukan para petani Komunitas PPTPI seperti kegiatan antisipatif, dengan fokus pada pengukuran curah hujan dan berbagai kegiatan pendampingan. Pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan omplong, alat standar BMKG yang telah terpasang dengan tinggi 220 mm dan diameter 110 mm, dan dikalibrasi.

Foto-Tim Caritas Indonesia mendengarkan penjelasan dari anggota PPTPI di Indramayu tentang “omplong” (alat pengukuran curah hujan)

Fungsi alat ini adalah untuk mencatat ketinggian air hujan dalam logbook harian, yang menjadi dasar dokumentasi. Dari data harian ini kemudian diakumulasi menjadi informasi curah hujan bulanan. Hasil pengukuran memberikan kontribusi dalam upaya pencegahan potensi hama, seperti penggeret batang dan tikus.

“Data ini sangat berharga karena digunakan untuk membentuk grafik probabilitas selama satu tahun, membantu menentukan waktu optimal untuk proses semai, tanam, dan panen,” ujar Nurkilah.

Warung Ilmiah

Implementasi kerja sama antara petani dan akademisi ini dilakukan melalui pendekatan Warung Ilmiah Lapangan (WIL). Warung Ilmiah Lapangan ini merupakan sebuah konsep pembelajaran yang melibatkan petani, ilmuwan/akademisi, serta penyuluh pertanian. Interaksi ketiga pihak ini berjalan dalam proses saling belajar. Pendekatan ini sudah diperkenalkan sejak tahun 2009 di Indramayu.

“Pendekatan ini menempatkan petani sebagai yang utama dalam mengembangkan kemampuan antisipasi perubahan iklim melalui pembelajaran praktis yang relevan dengan kegiatan usaha tani sehari-hari,” ujar Yunita Triwardani Winarto, Guru Besar Antropologi dari Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Berangkat dari Warung Ilmiah Lapangan ini, anggota PPTPI kemudian menjadi fasilitator dalam menerapkan program serupa di berbagai daerah. Mereka mengaplikasikan keahlian individu seperti pengukuran curah hujan, pemuliaan, dan pembenihan, untuk mendukung pengembangan program tersebut. PPTPI menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan melalui berbagai upaya berkelanjutan, termasuk pembentukan Koperasi Tani.

Langkah Inovatif

Tim Caritas Indonesia berkesempatan melihat belajar dan melihat langsung Warung Ilmiah Lapangan di Indramayu ini, awal 12-14 Januari 2024. Dari kunjungan ini, Caritas Indonesia mempelajari praktik baik PPTPI, seperti langkah-langkah inovatif dan berkelanjutan yang dapat menjadi acuan bagi strategi Caritas Indonesia untuk program-program perubahan iklim di berbagai keuskupan di Indonesia.

Foto-Tim Caritas Indonesia mendengarkan penjelasan dari anggota PPTPI di Indramayu tentang alat pengukuran curah hujan

Kunjungan ini terjadi karena sebelumnya Caritas Indonesia telah menjalin kerja sama dengan forum Guru-guru besar Universitas Indonesia yang menerima masukan terkait program-program perubahan iklim. Dengan kolaborasi bersama Universitas Indonesia dan PPTPI Indramayu, Caritas Indonesia berharap dapat meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat petani di wilayah-wilayah rentan. (Caritas Indonesia)

No Comments

Post A Comment