Santa Josephine Bakhita pelindung para migran diperingati setiap tanggal 8 Februari

Santa Josephine Bakhita adalah pelindung para korban perbudakan modern dan perdagangan manusia. Doa St. Josephine Bakhita dapat didoakan setiap bertemu dengan korban perdagangan manusia.

Siapa St. Josephine Bakhita?

Nama lengkanya Josephine Margaret Bakhita, lahir di desa Olgossa di Sudan pada tahun 1869 dan meninggal dunia tanggal 8 Februari 1947. Dia diculik dan dijual pada usia 9 tahun. Karena mendapat tekanan dan ketakutan pada para penculik dia sampai lupa siapa Namanya sehingga para penculik Memberikan nama Bakhita yang artinya beruntung dalam Bahasa Arab. Dia dijual berkali-kali di pasar El Obeid dan Khartum. Majikannya berganti-ganti dan sangat keji melakukan penyiksaan dengan memukul,memotong,menorah, menaburkan garam pada lukanya. Pada usia 13 tahun Bakhita mengalami siksaan tato yang sangat mengerikan terjadi saat majikan seorang jenderal Turkiyang tinggal di Kordofan. Ada 144 luka sayatan tato yang dibuat menggunakan pisau cukur yang terdapat di bagian payudara,perut dan tangan. Luka-luka tato ditabur dengan garam. Rasa sakit,perih yang tak terbayangkan oleh Bakhita dirasakannya. Selama dua tahun bersama jenderal Turki berakhir karena Jenderal tersebut harus kembali ke negaranya. Sebelum jenderal kembali dia menjual Bakhita kepada konsulat Italia di Khartoum,Sudan yang bernama Callisto Legnani. Inilah awal perubahan nasib Bakhita pada majikan yang ke-6. Ia mau membeli budak yang lebih muda dengan tujuan ingin membebaskannya dan atau menempatkannya di lingkungan yang lebih baik, karena alasan tersebut dia membeli Bakhita. Selama majikannya konsulat Italia dia tidak pernah diperlakukan kasar dan disiksa malahn mendapatka perlakuan yang ramah dan hangat.

Di rumah Callisto Legnani,Bakhita merasa nyaman,damai,sukacita. Bakhita bekerja dengan baik dan disukai oleh keluarga Callisto Legnani dan dibawa ke Italia yang akhirnya dipercaya mengasuh seorang anak dari keluarga mereka di Italia. Pada saat mengasuh inilah Bakhita menjadi pengasuh dan sahabat bagi anak yang diasuhnya. Bakhita mengantar anak asuhnya ke sekolah di mana adalah sekolah suster Canossian di Venesia,Italia. Inilah awal Bakhita mengenal Tuhan Yesus. bakhita tertarik dan mau belajar agama dengan suster Canossian dan akhirnya dibaptis pada tanggal 9 Januari 1890 dengan nama Josephine. Bakhita semakin tertarik dengan kehidupan para Suster Canossian dan akhirnya melamar dan diterima di pembinaan calon suster Canossian. Menerima kaul tahun 1893. Menghembuskan nafas terakhir tahun 1947 sebagai suster Canossian.

Mengapa menjadi pelindung para migran?

Sebelum Bakhita mengenal Tuhan,dia sudah melakukan dan Memberikan kesaksian hidupnya dengan mengampuni para pelaku kekerasan padanya. St. Bakhita selalu mengatakan “maafkan mereka,karena mereka tidak tahu apa yang mereka katakana”. “Jika saya bertemu dengan para pedagang budak yang menculik saya dan bahkan mereka yang menyiksa saya, saya akan berlutut dan mencium tangan mereka, karena jika itu tidak terjadi, saya tidak akan menjadi seorang Kristen dan Religius saat ini.”- St. Bakhita.

St. Bakhita selalu mengatakan “aku hanya seorang hamba” melayani tuannya. St. Bakhita melewati masa sulit dalam hidupnya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. St. Bakhita percaya hidupnya akan berubah menjadi lebih baik. St. Bakhita seorang yang rendah hati,menerima semua orang yang dating kepadanya.

St Josephine Bakhita dikanonisasi pada tahun 2000 di Lapangan Santo Petrus. Pada misa tersebut, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa dalam diri St. Josephine Bakhita, “Kami menemukan seorang pendukung emansipasi sejati yang cemerlang. Sejarah kehidupannya tidak menginspirasi penerimaan yang pasif, namun tekad kuat untuk bekerja secara efektif untuk membebaskan anak perempuan dan perempuan dari penindasan dan kekerasan, dan mengembalikan martabat mereka dalam menjalankan hak-hak mereka sepenuhnya.”

“Bersoraklah, seluruh Afrika! Bakhita telah kembali kepadamu: seorang puteri Sudan, yang diperdagangkan dalam perbudakan seperti sebuah barang, namun tetap bebas: bebas dengan kebebasan para kudus.” (Paus Yohanes Paulus II,2000)

(dari berbagai sumber)

No Comments

Post A Comment