Yoseph: Merubah Haluan demi Organik – Caritas Indonesia – KARINA

Yoseph: Merubah Haluan demi Organik

05/03/2018
DSCF2078-1

Adalah Bapa Yoseph Nani Lede (46) seorang petani lahan kering yang selalu sukses menghasilkan jagung, padi dan kacang-kacangan dalam jumlah yang cukup banyak. Atas keberhasilannya itu, masyarakat sekitar menjadikan Yoseph, begitu dia disapa, sebagai panutan dalam bercocok tanam. Saat ditemui di rumahnya beberapa waktu yang lalu, Yoseph mengatakan, “Saya selalu tanam jagung, padi dan kacang-kacangan. Menurut ukuran masyarakat di sini, saya termasuk petani yang cukup berhasil. Untuk padi, saya bisa panen hingga 1 ton!”

Hasil di atas kendengarannya cukup banyak, namun sesungguhnya tidak seperti itu. Kehidupan sosial-budaya di sini mewajibkan petani untuk menyertakan masyarakat lain pada saat panen. Sebagian hasil panen harus dibagikan kepada mereka yang terlibat pada saat panen. Selain itu, saya juga harus mengeluarkan biaya untuk makan-minum dan harus memotong babi. Jadi, sebenarnya tidak cukup banyak hasil yang didapat, jika benar-benar kita hitung pengeluarannya.

Belum lagi pengeluaran untuk membeli pupuk kimia. Untuk satu musim panen saja, Yoseph membutuhkan sebanyak 6 karung pupuk kimia dari berbagai jenis untuk lahannya. Harga setiap karung 50 Kg pupuk adalah Rp 250.000. Untuk 6 karung pupuk, Yoseph harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 1.500.000. Jadi, jika dihitung lagi, hasil panennya benar-benar hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.” Demikian kisah Yoseph tentang masa-masa sebelum adanya pendampingan Caritas – PSE Weetabula ke komunitas Kolouwa.

DSC01656-1
Lahan tidur sebelum ditanami dengan sayuran organik (Foto: Lorens Juang).

Tahun 2016 Caritas – PSE Weetabula mulai terlibat dalam program payung Regio Nusra – Sintang. Sejak saat itu, pendampingan di bidang pertanian organik gencar dilakukan pada semua komunitas dampingannya. Komunitas Kolouwa, kampung halaman Yoseph, menjadi salah satu komunitas dampingan Caritas – PSE Weetabula. Yoseph bersama dengan anggota kelompok tani Kolouwa yang dibentuknya memutuskan menjadi penerima manfaat langsung kegiatan pendampingan ini. Mereka mengikuti program ini setelah mendapatkan sosialisasi tentang sistem pertanian organik.

“Saya tertarik bergabung setelah tahu caranya memproduksi sendiri pupuk organik. Sebab, jika pupuk itu dapat dibuat sendiri, maka tidak perlu lagi membeli pupuk kimia. Terlebih lagi, bahan-bahan pupuk organik tersedia di sekitar lingkungan kami. Kotoran ternak dan daun-daun banyak tersedia di sini. Dengan pertimbangan itu, anggota kelompok kami menerima tawaran Caritas – PSE Weetabula,” Yoseph menjelaskan awal mula kerjasamanya dengan Caritas. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka kemudian mendapatkan pelatihan membuat MOL dan pupuk organik. Setelah itu mereka kemudian membuat pupuk sendiri.

Mereka benar-benar semangat dengan pengetahuan baru ini, khususnya membuat pupuk sendiri. Saking semangatnya, bahkan mereka sampai tidak menyadari jika di tempat mereka sulit mendapatkan air. Kondisi ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk mempraktikkan hasil pelatihan pertanian organik. Mereka memutuskan membeli air untuk bisa menyirami sayur-sayuran organik yang telah ditanam.

(Kiri) Yoseph bersama rekan-rekan kelompoknya sedang memanen cabai. (Kondisi dan hasil sayuran yang ditanam oleh Yoseph & kelompoknya (Foto: Lorens Juang).

 

“Hasilnya sungguh membuat kami heran! Tanah yang sebelumnya tidak pernah ditanami karena dianggap tidak subur, kini menjadi lahan sayuran yang subur setelah diolah dan diberi pupuk organik. Pada saat panen, hasilnya kami bagi-bagikan kepada semua anggota kelompok. Sebagian lainnya kami jual kepada Caritas – PSE Weetabula. Kami benar-benar takjub dengan pengalaman baru ini. Kami sangat senang karena ternyata kami bisa melakukannnya,” tutur Yoseph tentang perubahan yang ia rasakan setelah mencoba pertanian organik bersama kelompok tani di Kolouwa.

Yakin dengan manfaat dari sistem pertanian organik ini, kemudian Yoseph mengubah haluan dari petani tanaman pangan (padi, jagung, dan kacang-kacangan), menjadi petani hortikultura (sayur-sayuran dan buah). Sukses dan meraih untung yang berlipat-lipat dari kebun organiknya, Yoseph sadar bahwa keuntungan dari hasil pangan yang pernah diraihnya dahulu, ternyata tidak seberapa jika dibandingkan dengan pendapatannya saat ini. Hanya dua kata yang dapat ia ucapkan untuk menggambarkan perasaannya saat ini, “Super sekali!”

“Melihat potensi dan manfaatnya yang besar dari pupuk organik, saya secara pribadi mulai membuka lahan dan menanam kol. Awalnya, saya hanya tanam 1.620 pohon kol. Karena sumber air tidak ada maka saya harus membeli air untuk menyirami lahan dan tanaman saya. Saya yakin kol yang ditanam akan memberikan hasil yang cukup. Dan memang benar! Dalam 3 bulan masa tanam, saya mengeluarkan uang Rp 1.440.000 untuk membeli 12 air tangki (harga per tangki Rp 120.000). Hasil panen kol saya mencapai Rp 10.000.000 yang dalam hitungan saya seharusnya bisa mencapai Rp 12.000.000. Namun karena sebagian kol dimakan hama, maka hasilnya tidak sampai setinggi itu. Atas keberhasilan itu, pemerintah membantu kelompok kami dengan benih melon. Setelah 3 bulan, kami dapat memanen melon dengan hasil mencapai Rp 14.000.000. Ini benar-benar super dan super sekali!” kata Yoseph dengan mata berbinar-binar.

Kisah keberhasilan Yoseph belum berhenti sampai di situ. Saat ini, ia sedang menikmati masa panen cabe. Ia telah menanam cabe sebanyak 15.670 pohon pada lahan seluas 1 Ha. Sekarang sudah masuk panen yang ketiga. Hasil dari panen tahap pertama sebanyak 308 Kg dengan harga jual Rp 30.000/Kg dan pendapatanan kotornya adalah Rp 9.240.000. Panen kedua mendapatkan hasil 340 Kg, dengan harga jual yang sama dan pendapatan kotor sebanyak Rp 10.200.000. Ia berharap mendapatkan hasil yang lebih banyak pada panen yang ketiga ini. “Seakrang kami benar-benar yakin bahwa sistem pertanian organik telah memberikan keuntungan yang banyak.  Makanan yang sehat, tanah yang kembali subur serta keuntungan ekonomi yang berlipat-lipat, adalah hal yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kerja keras kami sudah mendapatkan bukti dan sekarang kami menikmati hasilnya,” tutur Yoseph untuk mengakhiri perjumpaan ini. ● DA

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta