Yos Dara Menolak Malu – Caritas Indonesia – KARINA

Yos Dara Menolak Malu

28/11/2017
IMG-20171117-WA0079_Yono-1

“Ini tomat harga berapa?,” tanya Yoseph Dara (28 tahun) kepada seorang pedagang tomat di Pasar Alok, Maumere, Kabupaten Sikka pada suatu pagi di awal bulan Oktober 2017. “Satu kumpul Rp.5000 bapa,” jawab si pedagang. Setelah membayar dan menerima barang belanjaannya, Pak Yos, begitu ia biasa disapa, tidak serta merta meninggalkan si pedagang. Ia lalu melakukan tawar-menawar untuk menjual tomat di kebunnya kepada si pedagang itu. Hari itu Pak Yos mendatangi beberapa pedagang tomat di pasar terbesar di kabupaten Sikka itu untuk menawarkan tomat di kebunnya yang telah siap panen.

Menjelang sore, sebelum kembali ke kampungnya di Dusun Wololangga, Desa Parabubu, Kecamatan Mego, ia kembali menemui seorang pedagang yang tadi memberikan penawaran tertinggi untuk tomatnya. Ia perlu membuat deal dengan pedagang itu sebelum kembali ke Parabubu.

Tidak banyak petani dari Parabubu, desa di hulu DAS Dagesime Magepanda yang dapat dicapai dalam 2 jam perjalanan bermotor dari Maumere, untuk menjual hasil panennya langsung ke pedagang di pasar-pasar yang ada di kabupaten Sikka.

“Jujur, ketika saya pertama kali tinggal di Parabubu khususnya di Dusun Wololangga tahun 2008, saya orang pertama yang menjual lombok ke pasar di Maumere. Banyak lombok di sana tapi mereka tidak jual. Karena malu dan tidak tahu bagaimana caranya menjual langsung ke pasar. Saat itu ada tetangga saya, saya minta dia petik semua lombok yang dia punya lalu saya pergi jual di Maumere. Dapat 2 ember besar, satu mok 3000 rupiah, total ada 700 ribu lebih dari dua ember itu. Itu untuk contoh supaya mereka jangan malu. Waktu itu uangnya saya kasih ke yang punya lombok lalu saya motivasi mereka, saya bilang jangan malu, kamu harus jalan pergi jual ke Maumere. Hasilnya dua tahun kemarin mereka tidak malu lagi untuk pergi jual ke Maumere,” kenang Pak Yos ketika ia untuk pertama kalinya tergerak untuk menjual hasil panennya langsung ke pasar di Maumere.

Yos Dara (Foto: L. Depa Dey).
Yos Dara (Foto: L. Depa Dey).

“Saat panen tomat ini saya mau membuka mata masyarakat dan petani lain. Minta maaf e, saya di hulu juga sebagai kepala Dusun Wololangga. Jaman sekarang kalau kita hanya omong lepas, orang tidak percaya, itu yang susah. Kita omong, harus punya bukti dulu. Ketika saya kasih motivasi, petani bilang begini: dia itu omong, dia kerja tidak? Itu yang menjadi kendala besar dalam membangun masyarakat. Maka sekarang niat saya, saya kerja dulu supaya menimbulkan pertanyaan dalam diri mereka, kenapa dia bisa kita tidak bisa, kenapa dia ini tidak malu, kita malu, padahal dia ini kepala dusun di sini, dia ini juga kader tani, punya banyak kenalan orang-orang di banyak lembaga. Tapi dia jual tomat, dia tidak malu. Kenapa kita malu. Itu saya buat supaya merubah pola lama mereka untuk merubah hidup menjadi lebih baik,” kata Pak Yos berapi-api.

Pak Yoseph Dara merupakan salah satu kader tani yang kelompok taninya didampingi oleh Caritas Keuskupan Maumere. Pendampingan kelompok ini telah dilakukan sejak Januari 2016 di bawah payung program Strengthening Dagesime Magepanda Watershed Management yang didanai oleh Cordaid Netherlands melalui Yayasan KARINA.

“Saya sudah banyak mengikuti pelatihan-pelatihan terkait pertanian dalam 2 tahun ini, sudah lengkap. Mulai dari ilmu menanam sampai dengan ilmu menjual, semuanya ada. Ini saatnya saya mempraktikkan pengetahuan dan keterampilan yang diberikan kepada saya baik dari Caritas Keuskupan Maumere (CKM) maupun dari Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS),” ujarnya menambahkan.

CKM sebagai implementing partner program ini dalam kolaborasinya dengan YBTS sejak awal tahun 2016 telah membekali kelompok-kelompok tani di 7 desa di sepanjang DAS Dagesime Magepanda dengan pengetahuan dan keterampilan tentang praktik pertanian yang baik (good agriculture practice) untuk holtikultura dan penguatan akses ke pasar melalui pendekatan MP4P (making markets work for the poor).

Kebun Tomat milik om Yos Dara (Foto: Istimewa/Yono).
Kebun Tomat milik om Yos Dara (Foto: Istimewa/Yono).

“Saya ke pasar cari pembeli untuk saya punya tomat itu sekitar awal bulan Oktober 2017. Itu pas mau panen pertama tomat saya. Kenapa saya tanam tomat sampai 1.250 pohon dan bukan tanam yang lain. Itu karena saya sudah buat catatan kalender pasar. Tahun 2016 lalu di bulan-bulan begini harga tomat mahal, jadi saya sudah hitung dan rencanakan sejak tahun lalu kapan mulai tanam dan panen tomat sehingga bisa menguntungkan,” lanjut Pak Yos soal penerapan keleder tanam dan kalender pasar yang baru saja dipraktikkannya tahun ini pasca dilatih oleh CKM dan YBTS.

“Nanti setelah masa panen semua tomat saya selesai (biasanya selama tiga bulan dengan minimal 5 kali panen, red), saya akan tanam lombok (cabe, red). Harga lombok tahun lalu di puncak musim hujan Januari – Maret itu mahal sekali,” terang Pak Yos ketika ditanya rencananya pasca usia produktif tomat di kebunnya berakhir dan harus menggantinya dengan tanaman lain.

Bila sebelum adanya pendampingan dari CKM dan YBTS ia langsung membawa hasil panennya ke pasar dan menerima begitu saja penawaran para pedagang pengumpul yang ada di pasar, kini meskipun harus mengeluarkan biaya dan menyediakan waktu khusus, sebelum melepas hasil panennya ke pasar, ia sudah melakukan survey harga untuk mendapatkan harga terbaik untuk hasil panennya.

Penggunaan kalender tanam dan kalender pasar seperti yang dipraktikkan oleh Pak Yos belum jamak diadopsi oleh rekan-rekannya di Desa Parabubu. “Mereka bukan tidak tahu, tapi belum ada bukti kalau mereka buat itu nanti menguntungkan mereka. Bisa buat mereka dapat uang lebih banyak dari cara mereka selama ini. Mereka itu harus lihat bukti dulu baru mau buat. Makanya saya buat sekarang ini. Kalau cara ini berhasil pasti mereka akan ikut,” kata Pak Yos optimis soal belum banyaknya petani di kelompok maupun desanya yang mau mempraktikkan GAP maupun kalender tanam dan kalender pasar dalam budidaya holtikultura.

Menanam tanaman holtikultura memang belum menjadi primadona bagi para petani di Desa Parabubu dibandingkan dengan tanaman perkebunan berumur panjang seperti kopi, kemiri dan vanili. Sudah sejak dulu hasil panen tanaman perkebunan menjadi tumpuan sebagian besar rumah tangga di Desa Parabubu selain padi ladang. Di musim hujan seperti saat ini, mereka akan menanam padi ladang untuk persediaan beras selama satu tahun ke depan. Sementara di musim kemarau mereka akan fokus mengambil hasil perkebunan sebagai penopang ekonomi rumat tangga. Maka pola bercocok tanam tanaman holtikultura dilakukan dengan sangat sederhana dan dalam skala yang sangat kecil. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kebutuhan sayur dari penduduk di desa yang subur itu justru dipenuhi oleh suplay dari para penjual sayur keliling dari pasar terdekat yakni Pasar Lekebai di pusat Kecamatan Mego. ● Leo Depa Dey

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta