Yesus juga Pakai PCM! – Caritas Indonesia – KARINA

Yesus juga Pakai PCM!

22/10/2012
Yesus Juga Pakai PCM

Yesus Juga Pakai PCM‘Seandainya murid-murid Yesus dulunya menggunakan metode PCM, mungkin masalah kebingungan yang mereka hadapi saat berhadapan dengan 5.000 orang yang lapar dapat teratasi dengan efektif tanpa harus merasa kebingungan,’ demikian pernyataan Rm. Bonifasius Djuana Pr. Saat menyampaikan homili pada misa penutupan kegiatan Pelatihan Project Cycle Management bagi Karitas Keuskupan Regio Sumatra.

Tentu saja pernyataan pastor yang  juga direktur eksekutif Pansos Bodronoyo (Karitas KAPal) ini membuat gerr peserta yang hadir di misa kudus itu. Misa itu merupakan puncak sekaligus penutupan Pelatihan PCM bagi Karitas Keuskupan Regio Sumatra yang berlangsung di Wismalat Podomoro, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Dalam homilinya yang mengangkat perikop tentang Yesus yang member makan 5.000 orang, Rm. Boni menyinggung bahwa Yesus pun dengan sigap mengkaji kondisi faktual yang ada di hadapannya dengan kerangka analisis yang tajam. Tentunya tidak berbeda dengan teknik analisis masalah yang dipelajari dalam PCM. Hasil analisis tersebut yang membawa Yesus dan murid-muridNya bisa menyelesaikan masalah secara efektif dan bisa memberi makan kepada 5.000 orang yang berduyun-duyun mengikuti mereka.

Yesus Juga Pakai PCMPelatihan PCM yang berjalan pada 20-24 April 2009 ini difasilitasi oleh tim fasilitator gabungan dari Karitas-Karitas keuskupan dan KARINA KWI. Mereka Kepler Silaban (Program Manager CORDIA), Maria Tarigan (Livelihood Coordinator CORDIA), Yohanes Sriyono (Field Coordinator Karitas KAPal), Rm. St. Budhi Prayitno Pr. (Executive Director Karitas Purwokerto), dan Ditto Santoso (Capacity Building Officer KARINA KWI).

14bHari pertama pelatihan diawali dengan sesi perkenalan yang membawa peserta dalam suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan. Kehangatan yang tercipta dalam interaksi tersebut terus terbawa hingga hari terakhir, meskipun sebelumnya mayoritas diantara mereka belum saling kenal sebelumnya. Topik mengenai Ajaran Sosial Gereja dan misi-visi-nilai pelayanan Karitas menjadi materi pembuka yang dibawakan oleh Rm. Boni. Dalam sesinya, Rm. Boni menyampaikan bahwa Gereja yang mengemban ajaran Kristus sejak 2.000 tahun lalu selalu berupaya untuk tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia umumnya. Hal ini dapat dilihat dari adanya dokumen-dokumen ensiklik yang dikeluarkan oleh para Bapa Gereja yang kerap mengkritisi berbagai isu sosial.

Yesus Juga Pakai PCMEnsiklik ‘Deus Caritas Est’ yang dikeluarkan oleh Paus Benedictus XVI menjadi landasan bagi jaringan Caritas Internationalis untuk memperkuat pelayanannya agar selalu profesional dan vokasional. Materi terus berlanjut dengan mencoba menjawab pertanyaan, lantas bagaimanakah seharusnya organisasi pelayanan kemanusiaan yang profesional dan vokasional itu. Kepler Silaban menyajikan materi khusus mengenai manajemen organisasi pelayanan kemanusiaan. Ia mengibaratkannya sebagai seekor kupu-kupu yang memiliki sepasang sayap. Sayap pertama adalah aspek program, sedangkan sayap kedua aspek organisasi. Sementara, tubuhnya diibaratkan sebagai sosok manajer yang harus memainkan 2 fungsi tersebut. Pengantar mengenai apa itu PCM dan teknik apa saja yang digunakan didalamnya dibawakan dengan sederhana oleh Maria Tarigan.

Analisis stakeholder (stakeholder analysis) merupakan materi awal pada hari kedua yang masih dibawakan oleh Maria Tarigan. Dalam topik ini, fasilitator memperkenalkan beberapa teknik yang bisa dipakai oleh peserta untuk menganalisis stakeholder organisasinya. Teknik-tekniknya adalah diagram venn, mindmapping, organizational landscape, dan matriks pengaruh vs kepentingan. Dalam melakukan kerja kelompok untuk membedah kasus Desa Sukabanjir yang telah disediakan oleh fasilitator, peserta diperbolehkan memilih untuk menggunakan teknik yang paling akrab dan mudah oleh mereka untuk melakukan analisis stakeholder. Kerja kelompok terus berlanjut dalam topik berikutnya (masih pada hari yang sama), yaitu analisis masalah. Fasilitatornya Yohanes Sriyono. Dalam sesi mengenai analisis masalah ini, peserta diajak untuk belajar menstrukturkan masalah yang dihadapi di kasus Desa Sukabanjir. Teknik yang digunakan adalah problem tree analysis (analisis pohon masalah). Kunci penting dalam melakukan tahap analisis maupun tahap-tahap selanjutnya ialah keterkaitan logis satu sama lain.

14cHasil dari analisis masalah menjadi bahan untuk dianalisis dalam tahap selanjutnya yaitu objective analysis (analisis tujuan). Sesi yang dibawakan oleh Rm. St. Budhi Prayitno Pr. Ini mengajak peserta untuk berpikir seliar mungkin dalam mengembangkan alternatif-alternatif solusi bagi permasalahan yang dihadapi dalam kasus Desa Sukabanjir. Hasil dari tahap analisis ini adalah kumpulan solusi yang mungkin bisa dikerjakan oleh lembaga dalam mengatasi masalah di Desa Sukabanjir. Melalui tahap clustering dan scoping, Rm. Budhi juga mengajak peserta untuk aktif berdiskusi guna memilah-milah skenario mana yang feasibel untuk diterapkan di kasus Desa Sukabanjir. Materi pada hari ketiga diakhiri dengan sesi mengenai analisis SWOT yang dibawakan oleh Kepler Silaban. Mayoritas peserta sudah tidak lagi asing dengan teknik analisis ini, hanya saja untuk PCM, teknik ini digunakan untuk mengkaji sejauh mana kapasitas lembaga dan masyarakat yang didampingi dalam melaksanakan kemungkinan-kemungkinan skenario yang diplih untuk menyelesaikan masalah. Salah satu gagasan yang muncul dari peserta ialah melakukan analisis SWOT dari perspektif yang berbeda, yaitu perspektif masyarakat yang didampingi dan lembaga, karena sangat mungkin ada perbedaan meski tipis. Tujuannya untuk mempermudah pemahaman.

Yesus Juga Pakai PCMHari keempat berisi materi puncak dari proses Pelatihan PCM yakni pembahasan tentang matriks perencanaan proyek kemanusiaan (project planning matrix atau logical framework matrix). Materi ini dibawakan oleh Maria Tarigan. Pada awal sesi peserta juga diperkenalkan pada berbagai istilah yang digunakan oleh lembaga-lembaga yang berbeda pula namun semuanya merujuk pada satu pemahaman yang sama, yaitu kerangka kerja logis (logical framework). Lagi-lagi fasilitator juga menekankan agar peserta tidak terjebak pada istilah dan ragam teknik, melainkan harus berpegang pada logika berpikir. Dalam topik mengenai matriks perencanaan proyek ini, peserta diminta memformulasikan skenario-skenario solusi yang telah dipilih ke dalam sebuah matriks perencanaan. Matriks inilah yang nantinya akan menjadi titik tolak untuk pembuatan proposal, rencana kerja (work plan), jadual kerja (timetable of activities), penyusunan anggaran (budgeting) alat monitoring, alat evaluasi, dan baseline survey. Waktu untuk menyusun sebuah matriks sangatlah panjang. Peserta yang sejak hari pertama sudah dibagi ke dalam 4 kelompok terlibat dalam diskusi kelompok yang sangat intensif dan dinamis, bahkan hingga melewati jam makan malam. Beberapa kelompok bahkan mencoba mengerjakan dengan santai di malam hari hingga menjelang tengah malam.

14dPada pagi hari berikutnya, hasil diskusi berupa matriks perencanaan proyek dipresentasikan dan dikritisi oleh sesama peserta maupun fasilitator. Meskipun bersumber pada kasus yang sama, terdapat beragam ide kreatif yang muncul dari peserta untuk menghadapi masalah yang dikemukakan dalam kasus Desa Sukabanjir. ‘Yang penting ide-ide solusi ini logis dan berorientasi pada pemecahan masalah inti atau focal problem yang dihadapi di Desa Sukabanjir,’ tegas Rm. Budhi. Hasil dari matriks perencanaan proyek menjadi bahan untuk pembahasan mengenai penyusunan proposal, penganggaran, monitoring-evaluasi, dan baseline survey.  Lalu, mengakhiri proses pelatihan, peserta juga diuji secara personal untuk menyelesaikan kasus sederhana tentang sebuah paroki yang umatnya mengalami ‘krisis iman’.

Proses pelatihan yang dinamis tampak berkesan bagi peserta, karena suasana yang dibangun penuh dengan nuansa kekeluargaan. Mudah-mudahan atmosfer ini akan selalu berulang dalam event-event pelatihan PCM berikutnya, yaitu pelatihan PCM untuk Karitas keuskupan regio Jawa-Nusa Tenggara di Surabaya (24-28 Agustus 2009) dan region Kalimantan di Pontianak (12-16 Oktober 2009). Sampai jumpa di Surabaya dan Pontianak!

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta