Tuka adalah Awal – Caritas Indonesia – KARINA

Tuka adalah Awal

24/11/2017
repsphere_closure-1

Curahan hujan yang melimpah di wilayah utara Kabupaten Badung menyebarkan bau tanah dan wangi rerumputan yang menyegarkan. Hamparan rumput pada lahan yang landai terbuka buat semua orang yang datang di kompleks Gereja Tuka. Namun, akhir pekan menuju Tuka yang berlokasi di utara Kabupaten Badung bukan perkara mudah.

Jalan sempit yang berada di jalur utama Tuka, seketika tidak lagi menghimpit begitu masuk ke lokasi Gereja Tuka. Kompleks gereja ini senafas dengan budaya Bali yang jelas tampak pada ukiran di setiap sudut bangunan. Di area gedung gereja berbentuk wantilan arsitektur Bali itu, Komisi PSE Keuskupan Denpasar melaksanakan kegiatan Replikasi Standar Sphere untuk paroki-paroki di wilayah Bali.

Tidak banyak pilihan akses untuk menuju banjar yang sering disebut Bethlehem-nya Bali. Namun, akses yang sulit itu tetap dihadapi 20 peserta dari 8 paroki di Bali untuk ikut dalam pelatihan replikasi standar Sphere di Tuka pada Sabtu hingga Minggu (18-19 November). Sebagian besar peserta yang ikut dalam kegiatan ini adalah perempuan, baik sebagai pengurus Seksi Sosial Paroki maupun Anggota Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).

Gemuruh vulkanik dari Gunung Agung seperti membangunkan semua orang bahwa ancaman bencana juga ada di Bali. Status AWAS Gunung Agung yang hanya berjarak 70km dari Kota Denpasar memberikan fakta bahwa bencana besar dapat terjadi sewaktu-waktu dan mengancam Bali. Kesadaran baru di kalangan umat paroki di Keuskupan Denpasar tersebut menjadi pendorong utama peserta untuk mencari tahu cara dan langkah yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.

Pelatihan selama dua hari di aula gereja itu dimaksudkan untuk mengembangkan pemahaman standar layanan bantuan kemanusiaan bagi umat paroki yang ada di Bali. Selain itu, pelatihan ini diharapkan dapat mengembangkan jejaring tanggap bencana di Keuskupan Denpasar. Dalam dua hari, peserta pelatihan diberikan sebagian materi tentang Standar Sphere seperti Piagam Kemanusiaan, Isu Lintas Sektor, Prinsip Perlindungan, Standar Inti, Standar Sektoral, hingga Kode Perilaku Pekerja Kemanusiaan. Selain itu, peserta juga diajak untuk mengetahui elemen penting yang perlu diperhatikan dan dikerjakan dalam kegiatan tanggap darurat seperti siklus proyek dan akuntabilitas.

Para peserta pelatihan melakukan simulasi dengan menggunakan kartu (Foto: F. Sundoko/KARINA).
Para peserta pelatihan melakukan simulasi dengan menggunakan kartu (Foto: F. Sundoko/KARINA).

Pelatihan replikasi ini menjadi pelatihan pertama yang diadakan oleh Tim Tanggap Bencana Komisi PSE Keuskupan Denpasar setelah terbentuk pada Agustus 2017 lalu. Demikian juga untuk sebagian besar anggota Tim Tanggap Bencana, memfasilitasi pelatihan merupakan pengalaman pertama. “Pengalaman nervous pasti ada, saya takut salah bicara,” ungkap Avelina Sempi Rosa Wonga yang memfasilitasi sesi Piagam Kemanusiaan. “Persiapan saya dengan membaca kembali buku Sphere dan bertanya ke teman-teman, cuma menurut saya kemarin belum 100% siap. Kalau ada kesempatan lagi saya bersedia ikut memfasilitasi pelatihan ini,” ujar umat Paroki Fransikus Xaverius yang juga aktif di Legio Maria Presidium Bunda Penolong Abadi.

Dengan jadwal materi yang cukup padat itu, di hari kedua pelatihan replikasi hanya diikuti oleh 16 orang peserta. Menurut Catherine Velly Tanuli, “saya ikut pelatihan ini agar tahu apa itu Standar Sphere dan langkah praktis yang perlu dilakukan ketika ada bencana”. Menurut umat Paroki Nusa Dua yang saat ini membantu Tim Database Umat Keuskupan Denpasar berpendapat bahwa dengan belajar Standar Sphere pelayanan umat katolik bagi warga terdampak bencana dijalankan dengan lebih benar dan berkualitas.

Pada kesempatan yang sama Johanis B. Weking menyampaikan “Awalnya saya hanya ingin tahu apa itu KARINA dan apa saja kerja tanggap darurat serta bagaimana Gereja ikut terlibat dalam gerakan kemanusiaan”. Pak Johny, sapaan akrab laki-laki asal Larantuka yang tinggal di Bali sejak 1975, merasa perlu untuk ikut pelatihan agar pengetahuan tentang tanggap darurat juga dipunyai banyak paroki di Bali. Lebih dari itu, komitmen Pak Johny ikut pelatihan sampai akhir agar dapat mendorong keterlibatan nyata paroki-paroki untuk memperkuat karya pelayanan kemanusiaan di Keuskupan Denpasar.

Para peserta dan fasilitator pelatihan berfoto bersama (Foto: F. Sundoko/KARINA).
Para peserta dan fasilitator pelatihan berfoto bersama (Foto: F. Sundoko/KARINA).

Komitmen Johny Weking yang ingin memperkuat karya kemanusiaan tersebut sejalan dengan Kerangka Kerja Sendai untuk memrioritaskan Peningkatan Manajemen Risiko. Prioritas itu secara nyata dilaksanakan melalui usaha-usaha memperkuat kesiapsiagaan, respon dan pemulihan di semua tingkatan termasuk di Keuskupan Denpasar. Hasilnya di penghujung pelatihan replikasi, seluruh peserta yang hadir sebagai wakil umat keuskupan Denpasar di wilayah Bali mengerucutkan sebuah komitmen dengan pembentukan Tim Tanggap Bencana St. Lidwina.

Dengan pengetahuan Standar Sphere itu, diharapkan kapasitas Keuskupan Denpasar semakin meningkat dan mampu terlibat aktif dalam karya pelayanan kemanusiaan di Bali, Lombok, dan Sumbawa. Pelatihan replikasi di Banjar Tuka ini sebuah penegasan bahwa Tuka adalah awal sumber Orti Rahayu (kabar keselamatan) yang menyebar ke seluruh Bali. Di tanah yang sama, agama dan tradisi saling memberi arti untuk saling menghargai seperti akulturasi Katolik dengan adat dan budaya Bali. Samar-samar di antara rintik hujan terdengar lantunan pernyataan iman, Duh Panyungsungan tityang, Duh Widin tityang… ● F. Sundoko / Catatan Replikasi Sphere Keuskupan Denpasar.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta