Tragedi Jebolnya Situ Gintung – Caritas Indonesia – KARINA

Tragedi Jebolnya Situ Gintung

22/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaSampai berita ini dituliskan, jumlah penduduk yang tewas di Situ Gintung dilaporkan berjumlah 100 orang. Tampak lumpur masih menguasai jalan – jalan besar lokasi, demikian pantauan tim Karina terhadap situasi Situ Gintung pada hari ke – 4 setelah 27 Maret 2009. Saat ini masyarakat tidak dapat bebas masuk lokasi bencana karena pihak kepolisian memasang penghalang besi tepat di titik masuknya. Setiap masyarakat yang akan masuk harus ditanyakan dahulu kepentingannya dan asal usul lembaganya. Proses ini dilakukan untuk mempercepat evakuasi korban dan pembersihan wilayah.

Memang sebagian lumpur sudah dibersihkan dari dalam ruangan seperti yang tampak di ruangan pengungsian Fakultas Hukum dan Kedokteran, Universitas Muhammadyah Jakarta (UMJ). Namun, beberapa tempat masih tertutup lumpur dan tidak bisa mengandalkan tenaga manusia untuk membersihkannya. Karena itu ada sekitar 10 mesin berat pengangkat lumpur yang dikerahkan, terutama untuk menghancurkan tempat – tempat yang rusak total akibat terjangan air. Misalnya Perpustakaan UMJ dan sekolah TK (Taman Kanak – kanak) disebelahnya plus rumah – rumah warga. Yang terakhir ini jumlahnya paling banyak.

Sampah berplastik-plastik tampak menumpuk di 2 lokasi pengungsian yang dikunjungi. Lantai tempat pengungsian pun masih berlumpur walaupun lebih bersih daripada hari pertama bencana terjadi. Selain itu, kamar mandi yang kecil dan terbatas, mengakibatkan sampah tergeletak begitu saja di lantai kamar mandi. Di Fakultas Hukum – UMJ, terdapat 1 kamar mandi untuk 72 jiwa, sementara di Fakultas Kedokterannya ada 2 yang bisa digunakan oleh 71 orang. Memang ada kamar mandi di lantai atas Fakultas Kedokteran ini, namun selama kami berada disana, para pengungsi lebih sering menggunakan 2 kamar mandi dibawah tadi. Menyaksikan betapa riuhnya kunjungan dari sanak saudara, media cetak dan media elektronik, secara sengaja tim Karina tidak melakukan wawancara langsung dengan pengungsi.

Rendahnya ground zero* dari tempat para pengungsi berada mampu membawa kita pada imajinasi malam sebelum tanggul jebol. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh paroki setempat pada hari bencana terjadi, sebenarnya beberapa anggota masyarakat yang berasal dari wilayah tersebut sudah mencurigai pembesaran arus sungai kecil buangan waduk malam itu. Beberapa diantara mereka , bahkan memeriksa sampai ke pintu air waduk yang sudah macet. Saat itu, permukaan air waduk cukup tinggi.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 01.00 – 02.00 wib per 27 Maret 2009, aliran air buangan waduk sudah mulai besar dan tanggul serta pintu air mulai retak, bahkan bergerak ke bawah; ini adalah salah satu tanda kemungkinan waduk akan jebol. Apalagi derasnya curah hujan membuat permukaan air semakin tinggi. Melihat hal ini, beberapa warga bergerak memeriksa situasi yang ada. Mereka berusaha untuk membangunkan warga yang lainnya. Intinya pergi dari rumah dan harus naik mencari tempat aman yang lebih tinggi. Sebab waduk akan jebol.

Dari 4 – 6 RT yang diperkirakan akan terkena, selama 2 jam warga terus dibangunkan, khususnya mereka yang memang ada di dekat pintu air waduk yang tebingnya sudah bergerak. Sekitar 3 jam kemudian, tepatnya pukul 04.30 wib, tebing dan pintu air waduk bena r – benar jebol. Waduk dengan lebar 21 ha dan ketinggian air lebih dari 10 meter menumpahkan 2  juta m2 airnya. Bisa dibayangkan warga yang berada dibawah 15 meter kecuramannya tidak bisa terselamatkan. Selama 15 menit waduk menumpahkan air bah dan banjir bandang tak terelakan. Terlebih mereka yang berada tidak jauh dari waduk dan tidak sempat untuk dibangunkan. Banjir bandang terjadi hingga ke pemukiman padat penduduk di Cirendeu permai dan baru berhenti di Sungai Pesanggrahan.

Siangnya, perwakilan Keuskupan Jakarta, Romo Swasono, bergabung dengan relawan lainnya, termasuk warga sekitar yang selamat. Dua tim tanggap darurat langsung dibentuk, dimana yang pertama adalah Tim Kesehatan bekerja bersama Perdhaki, dan tim kedua bergerak mengurus logistik, didukung oleh paroki setempat yaitu SSP Paroki Nikodemus, Ciputat. Kedua tim ini berada dibawah LDD (Lembaga Daya Dharma) – Keuskupan Agung Jakarta. LDD sendiri memang lembaga yang kekhususannya menggeluti masalah – masalah sosial.

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta