TILANGANO KAASI, Terang Kasih di Pulau Muna – Caritas Indonesia – KARINA

TILANGANO KAASI, Terang Kasih di Pulau Muna

22/10/2012

Perjalanan yang cukup jauh. Demikian kesan saya dalam perjalanan menuju Labasa, pada 6 juni 2012.  Tim Karina (saya dan Ika Susetyo) beserta tim Caritas Makassar (Bapak Noel Parapak dan Martina Ela) harus menempuh jalur darat, laut dan udara menuju Labasa. Labasa terletak di sebuah pulau di Sulawesi Tenggara yang bernama Muna. Di sana, kami mengunjungi dua organisasi masyarakat yang dirintis keberadaannya oleh Caritas Makassar dan Karina sejak 3 tahun lalu. Kedua organisasi tersebut yaitu OM Makantona dan OM Perintis.

Selama sekitar  3 hari (6-8 juni 2012), Karina dan Caritas Makassar berada di Labasa untuk memantau perkembangan program, belajar bersama dan berdialog dengan masyarakat. Pada kunjungan kali ini, tim sengaja mengajak bagian keuangan untuk terjun langsung ke lapangan agar bagian keuangan melakukan pendampingan langsung dan memahami situasi di wilayah dampingan Caritas Makassar. Hal ini sejalan dengan masukan dari para donatur Karina pada April 2012 lalu.

Saya, Ika, Pak Noel dan Tina bersama-sama berkunjung ke Labasa.  Kunjungan juga bertepatan dengan kegiatan Caritas Makassar di komunitas, yaitu penyerahan drum/tangki air untuk setiap rumah warga di wilayah Makantona dan Perintis, melalui kedua organisasi masyarakatnya.

Wujud Kasih Allah dalam Sebuah Drum
Tiga tahun lalu, pendampingan Caritas Makassar dan Karina dimulai dengan pengkajian kondisi masyarakat dan pembentukan organisasi masyarakat Makantona dan Perintis. Dari hasil kajian, di Labasa sering kali terjadi ancaman kekeringan, kelaparan dan kesehatan. Masyarakat lalu melakukan kegiatan untuk mengurangi resiko bencana (Karina, Caritas Makassar dalam kegiatannya di Labasa) menghadapi ancaman kekeringan dengan pengadaan air bersih, memperbaiki sumur-sumur yang sudah ada, pembuatan enam sumur baru, serta pembuatan penampungan air.

Untuk mengatasi ancaman kelaparan, mansyarakat mengadakan pelatihan budidaya enau, pelatihan budidaya tanaman pangan lokal, serta pembuatan pupuk Bokasih (pupuk organik yagn dibuat dari sampah daun, dicampur dengan kotoran ternak dan dedak) untuk pupuk dan perawatan tanaman. Satu hal yang tak kalah penting namun belum terlaksana adalah pengurangan resiko bencana kesehatan. Selama ini, teman-teman di Labasa merencanakan pelatihan pengolahan sampah rumah tangga. Namun rencana ini mundur hingga sekitar bulan Agustus 2012 karena belum menemukan fasilitator yang tepat untuk pelatihan pengolahan sampah ini.

Terkait ancaman kekeringan, pada 7 dan 8 juni 2012 Caritas Makassar menyerahkan drum/tangki air untuk setiap rumah di wilayah Makantona dan Perintis. Sebanyak 64 buah drum diserahkan ke OM Perintis dan sebanyak 57 buah drum diserahkan ke OM Makantona. Proses penyerahan dibagi menjadi dua tahap, sehingga dalam kesempatan kemarin 80 buah drum diserahkan dengan pembagian 40 drum ke OM Perintis dan 40 buah drum ke OM Makantona.

Saya senang sekali melihat senyum masyarakat di kedua OM tersebut. Yang membuat lebih senang lagi adalah masyarakat menganggap kehadiran drum-drum itu sebagai kehadiran Allah dalam keluarga mereka.  Drum-drum itu seperti pundi-pundi yang jika diisi air terus akan menjadi kasih yang tak berkesudahan. Tentunya banyak manfaat dari air yang akan dinikmati warga masyarakat. Waktu pemberian drum juga pas, beberapa orang warga masyarakat menyampaikan bahwa saat ini sedang musim penghujan dan waktunya untuk menampung air.

Bapak Kepala Desa juga hadir dalam pertemuan. Beliau menyampaikan bahwa bentuk pendampingan Caritas berbeda dengan apa yang biasa dilakukan pemerintah. ‘terima kasih untuk kehadiran teman-teman dari Caritas, sehingga sampai di wilayah kami di Makantona untuk mendampingi kami. Sungguh berbeda kami rasakan dari apa yang selama ini kami terima dari pemerintahan. Namun demikian bapak ibu jangan terlalu berharap, kita harus belajar mandiri karena Caritas pasti tidak akan selama-lamanya bersama kita’ begitulah yang disampaikan pak Yohanis (kepala desa Makantona).

Hal lain yang menarik adalah kehadiran perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki dalam pertemuan dengan kedua OM ini.  Di daerah Makantona dan Perintis lebih banyak warga berusia lanjut (lansia) dan berjenis kelamin perempuan. Lebih banyak janda  yang sudah tua dibandingkan duda dan kaum muda. Sebagian dari mereka memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk belajar di Bau-bau, Kendari, Makassar, dan bahkan ke luar pulau.  Melihat kondisi tersebut, saya bisa memahami dampak langsung dari penyerahan drum. Kaum perempuan akan banyak terbantu dengan adanya drum ini. Sebelum ada drum, kaum perempuan bertugas mengambil air dengan jerigen ke mata air yang berjarak 5-6 km dari Makantona dan 2-3 km dari Perintis. Mereka biasa berjalan kaki menuju sumur mata air yang terletak 500 meter dari jalan raya masuk ke perkebunan mete. Saya dapat membayangkan betapa lelahnya para perempuan yang harus mengambil air setiap hari, khususnya para janda lansia. Dengan adanya drum, mereka bisa menampung air hujan dan memiliki persediaan air di rumah. Akan sangat memudahkan kaum perempuan dalam tugas keseharian seperti memasak dan mencuci, serta mengurangi beban kelelahan fisik mengambil air.
   
Setelah terdistribusinya drum-drum kepada masyarakat, tugas selanjutnya adalah memantau apakah drum difungsikan dengan baik oleh setiap keluarga. Harapannya, drum tetap berada dalam rumah warga dan difungsikan maksimal., Warga sempat bertanya apakah boleh jika drum ini dijual atau di berikan kepada keluarga/sahabat di wilayah lain yang juga membutuhkan. Abapak Noel dari Caritas Makassar menegaskan kembali bahwa drum ini adalah hasil dari proses panjang yang dilalui warga Makantona dan Perintis selama tiga tahun terakhir, sehingga menjadi tugas warga untuk memelihara drum sesuai peruntukkannya yaitu menyimpan air warga Makantona dan Perintis. Drum merupakan salah satu wujud kehadiran Allah, terang kasih-Nya yang sudah terlihat di wilayah Labasa.

Dalam pertemuan evaluasi akhir bersama tim fasilitator di Labasa, Caritas Makassar dan Karina, topik yang paling banyak dibicarakan adalah bagaimana cara-cara untuk memantau kegiatan yang sudah berjalan, langkah apa saja yang harus dilakukan untuk ke depan, serta mengantisipasi jika pendampingan Caritas Makassar beralih ke daerah yang lebih membutuhkan. Teman-teman di Labasa menyadari bahwa Caritas Makassar tidak akan selamanya mendampingi mereka, namun mereka tetap teguh berjalan berkat ‘Tilangano Kaasi’, yang dalam bahasa Muna berarti ‘Terang Kasih’. Makna yang mereka sampaikan sungguh mendalam bahwa ‘Terang Kasih’ Allah tidak akan berkesudahan; sehingga dengan memanfaatkan terbentuknya struktur OM yang akan diremajakan dan adanya generasi penerus di daerah ini, harapan besar masyarakat Labasa lebih siap menghadapi  ancaman yang biasa melanda kehidupan kesehariannya. (*)

*Penulis adalah staf Keuangan Karina KWI

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta