Temawang Sandung: Penjaga Tanah Adat – Caritas Indonesia – KARINA

Temawang Sandung: Penjaga Tanah Adat

03/02/2017
DSC_0394-1

Pada tanggal 14-18 Oktober 2016, Yayasan KARINA dan Caritas Keuskupan Sintang melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi untuk Proyek “Strengthening Community Resiliency in Sintang” yang sudah berjalan pada tahun ke-2. Tujuan dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kapasitas komunitas dampingan dalam melestarikan hutan dan mempertahankan hak milik atas tanah melalui pengelolaan wisata alam (ekowisata) desa dan pemanfaatan lahan terlantar. Dari hasil kunjungan ke komunitas-komunitas dampingan, kami mendapatkan beberapa kisah dari para sosok yang selama ini setia mengikuti kegiatan pendampingan ini. Berikut kami tuliskan kisah-kisah mereka.

“Saya dapat belajar berbagai jenis masakan dari bahan lokal,” kata Bu Tati saat menceritakan pengalamannya masuk ke kelompok wisata alam Temawang Sandung. Kelompok ini dikelola olah masyarakat di Dusun Tembak, Desa Gurung Mali, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang. Tati Irianti adalah nama lengkap dari wanita berusia 36 tahun ini, yang bertugas sebagai anggota Seksi Konsumsi di kelompok tersebut. Ibu dari tiga anak ini masuk dalam kegiatan kelompok wisata alam pada tanggal 15 Juli 2016 setelah diajak langsung oleh sang ketua kelompok.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, Bu Tati juga bekerja sambilan di pabrik olahan Temawang di Tembak. Keputusannya untuk bergabung dengan kelompok wisata alam tersebut karena ia merasa masih punya banyak waktu luang. Terlebih lagi, sang suami yang berprofesi sebagai tukang bangunan juga mendukung penuh keputusannya. Setelah bergabung, Bu Tati aktif mengikuti semua kegiatan yang diselenggarakan oleh kelompoknya bersama Caritas Sintang. Banyak manfaat yang dirasakan olehnya, seperti dapat belajar memasak dan menenun.

Ibu Tati Irianti di dapur Rumah Betang Tembak (Foto: Credo, 7/12/2016).
Ibu Tati Irianti di dapur Rumah Betang Tembak (Foto: Credo, 7/12/2016).

Tanggung jawab Bu Tati sebagai anggota seksi konsumsi adalah mengatur dan menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu ketika ada kunjungan wisata. Selebihnya, ia biasa mengisi waktunya untuk merangkai manik-manik dan juga menenun. Manfaat lain yang dirasakan adalah adanya peningkatan kemampuan dirinya sendiri dan ekonomi keluarganya. Setiap kali ada kunjungan dari para wisatawan, Bu Tati menerima honor sebesar Rp 150,000 per hari.

Menurutnya, “Kelompok Wisata Alam Temawang Sandung ini dapat menjadi tempat untuk berbagi ilmu dan berorganisasi yang baik”. Ia berharap bahwa pendampingan dari Caritas Sintang ini bisa terus berlangsung. Ia juga memimpikan ada pelatihan-pelatihan yang memasukkan unsur-unsur budaya Dayak. Seperti pelatihan kerajinan tenun, anyaman bambu dan pewarnaan alam yang disesuiakan dengan motif-motif khas Suku Dayak Iban sebagai warisan leluhur Warga Tembak.

Apa yang dirasakan oleh Bu Tati, juga dirasakan oleh Hendrikus. Pemuda berusia 22 tahun, yang biasa dipanggil Hen, ini berasal dari dusun sebelah Tembak. Kakeknya adalah warga asli Dusun Tembak. Hal ini pulalah yang melatarbelakangi keputusannya untuk pindah ke Tembak dan bergabung dalam Kelompok Wisata Alam Temawang Sandung. Selain itu, ia tertarik dengan cara masyarakat Tembak dalam menjaga dan mengelola kelestarian alam di wilayah tanah adat ini. Saat ini ia tinggal bersama kakeknya. Sejak bergabung dalam kelompok ini, sudah banyak perubahan yang ia rasakan, baik dari sisi kemampuan pribadi maupun ekonomi.

Hendrikus memperlihatkan cara membuat bandul dari tempurung kelapa (Foto: Credo, 7/12/2016).

Hen pernah mengikuti kursus Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh kelompoknya. Walaupun hanya kursus tingkat dasar, namun ia dapat memandu wisatawan mancanegara dengan penuh percaya diri. Ia berharap ada kelanjutan kursus Bahasa Inggris yang lebih mendalam agar ia bisa menceritakan sejarah dan kisah-kisah masyarakat Dayak kepada para wisatawan mancanegara. Manfaat lain yang ia rasakan adalah dapat belajar berorganisasi dan membangun semangat kerjasama dengan anggota kelompok yang lain. Selain memberikan pelatihan untuk peningkatan kemampuan dan ketrampilan, Kelompok Wisata Alam Temawang Sandung juga memberikan pelatihan spiritualitas kerjasama.

“Caritas Sintang mengajak dan mendorong kelompok untuk berjejaring dengan banyak pihak, supaya semakin dikuatkan,” kata Hen. Saat ini Hen berperan sebagai pemandu wisata di dalam Kelompok Wisata Alam Temawang Sandung. Honornya sebesar Rp 700,000, yang diterimanya setiap kali ada wisatawan yang datang berkunjung. Ia juga bekerja sebagai pengrajin bubut. Bersama kawan-kawannya, ia membuat bandul dari tempurung kelapa yang dibubut dengan berbagai macam motif khas Suku Dayak untuk kemudian dijual. ● Th. Kushardini/YB

Baca juga http://karina.or.id/menguatkan-komunitas-membangun-resiliensi-di-sintang-2/

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta