Sumber Daya Lokal, Potensi Yang dapat Dikembangkan – Caritas Indonesia – KARINA

Sumber Daya Lokal, Potensi Yang dapat Dikembangkan

22/10/2012
Karina - Caritas Indonesia

Karina - Caritas IndonesiaSudah lama masyarakat di Wolofeo mendambakan penerangan yang baik. Tetapi apa mau dikata sampai dengan Ulang Tahun Republik yang Tercinta ke 60, jangankan melihat terangnya lampu listrik, tiang dan kabelnyapun tidak kunjung mereka dapatkan. Sampai dengan awal tahun 2005 mereka masih memakai penerangan dari lampu pelita, atau bagi mereka yang memiliki uang dapat membeli lampu yang lebih baik seperti lampu lentera atau lampu gas. Masyarakat di Wolofeo terkenal suka merantau ke luar daerah seperti Makasar, Kalimantan, Batam bahkan ke negara tetangga Malaysia.

Diantara para perantau ini ada pemuda asli dari Wolofeo yang merantau ke Makasar selama 4 tahun. Pada tahun 2005 lalu, ia pulang ke kampungnya untuk berlibur dan mengunjungi keluarga. Sang pemuda rupanya prihatin dengan kampungnya yang belum juga mendapat penerangan listrik dari PLN. Maka berbekal sedikit pengetahuan dan ketrampilan yang Ia peroleh di Makassar, Ia pun ingin mewujudkan penerangan listrik di kampungnya. Pemuda itu bernama Damianus.
Damianus mengajak diskusi dengan beberapa orang tua di kampungnya, tentunya para orang tua sangat setuju, apalagi ia melemparkan ide bahwa dengan potensi sumber daya yang ada mereka bakal mendapat penerangan layaknya di kota. Setelah mendapat respon positip dari orang-orang tua, iapun melakukan survey di sungai yang melewati kampung Wolofeo. Setelah melihat kekuatan air dan letak geografi kampung, ia kembali mengundang masyarakat di kampungnya untuk diskusi. Ide ini langsung diterima oleh warganya, maka mulailah mereka berswadaya mengumpulkan dana dan bahan material untuk mulai mengerjakan PLTA  ini.

Saat itu ada 26 KK yang terlibat aktif mengumpulkan semen 2 zak/Kk, dana Rp. 1.000.000,-/Kk, dan batu-pasir di kali yang di angkat secara gotong royong. Selama kurang lebih 6 bulan mereka secara swadaya membuat saluran air.

Sistim Pengelolaan PLTA ala Warga
Masyarakat Wolofeo menyadari benar bahwa agar PLTA ini dapat dikelola dengan baik dan berkelanjutan, maka mereka membutuhkan organisasi untuk mengelolah PLTA ini. Berbekal kesadaran ini mereka kembali mengorganisir diri untuk memilih kepengurusan, sejak awal terbentuknya sampai dengan saat ini Pengurus PLTA Wolofeo sebagai berikut :

Ketua : Agustinus Da
Sekretaris I : Dionisius Dala
Bendahara : Yakobus Keta
Seksi Teknisi : Dionisius Dala
Pembantu Teknis : Ignatius Nuba – Hironimus Meni – Frans Laba
Seksi Penagihan : Yohanis Isa – Charles Seda

Untuk menjaga agar organisasi ini tetap berjalan dengan baik,setiap bulan ada pertemuan rutin. Pertemuan ini untuk membahas permasalahan yang muncul dalam pengelolaan PLTA. Selain itu ada yang mereka sebut pertemuan penting, pertemuan ini terjadi jika saluran air rusak akibat banjir. Pertemuan penting ini bisa terjadi kapan saja, dan ini biasanya terjadi pada musim hujan di bulan Desember s/d Maret ketika curah hujan tinggi. Jika terjadi kerusakan pada saluran air atau mesin turbin maka seluruh masyarakat dikerahkan untuk terlibat memperbaiki saluran yang rusak. Untuk kebutuhan konsumsi pada saat memperbaiki saluran, masyarakat yang memiliki kebun di sepanjang saluran merelakan pisang, ubi dan kelapa untuk dimakan.

Untuk operasional PLTA ini, setiap bulan ada iuran Rp. 10.000/rumah. Iuran sebesar ini sudah anggap layak untuk masyarakat di Wolofeo. Kalaupun setiap bulan diantara mereka ada yang menunggak bayar, mereka tidak memberlakukan denda bagi keluarga yang menunggak. Mereka sadar benar bahwa apa yang hasilkan bersama  ini  untuk saling membantu. Dari iuran yang terkumpul setiap bulan selain untuk memperbaiki hal-hal teksnis PLTA, mereka juga menyisihkan sebagiannya untuk para teknisi yang bertugas merawat dan memperbaiki PLTA sebesar Rp. 35.000/orang.

Manfaat PLTA dan Harapan Warga
Keinginan untuk mendapatkan penerangan membuat semua warga baik laki-laki, perempuan, orang dewasa dan anak-anak terlibat dalam pengerjaan ini. Kini ada 32 KK yang menikmati penerangan PLTA. Mereka dapat menikmati listrik dari potensi local di kampungya. Pada malam hari anak-anak dapat belajar dengan baik, pengetahuan, informasi  dan berita dapat mereka peroleh dengan cepat melalui televisi, HP dapat mereka gunakan untuk komunikasi keluar kampung teristimewah dengan keluarga yang merantau di luar pulau. Jika ada pesta atau acara lainnya, hiburan dengan tape/CD bisa sampai pagi. Selama proses kajian PRB, API dan MER, yang dilakukan pada malam hari, penerangan listrik PLTA sangat membantu.

Masyarakat Wolofeo dan Pengurus PLTA mempunyai harapan yang besar pada pihak lain untuk mendukung PLTA yang sudah mereka bangun secara swadaya. Saat ini kurang lebih 1 km saluran air masih dari bahan local (tumpukan batu dan pasir). Rumah mesin yang adapun butuh perbaikan karena atap dan dinding sekelilingnya dibuat seadanya. Kondisinya sudah memprihatinkan karena kurang lebih 7 tahun terkena hujan dan panas. Untuk mengalirkanaliran listrik ke kampung yang berjarak 1,5 km, kabel listrik di hanya disangkutkan pada dahan-dahan kayu/pohon. Selama ini lewat proses musyawarah perencanaan baik di tingkat dusun dan desa selalu mereka usulkan, tetapi belum mendapatkan tanggapan positif dari pemerintah.

Penulis adalah staff Caritas Keuskupan Maumere dan Koordinator Program PFR untuk Maumere.


Karina - Caritas Indonesia Karina - Caritas Indonesia
Saluran Air dari Bahan Alami Penampungan Air untuk Menggerakkan Turbin


Karina - Caritas Indonesia
Turbin

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta