Suku Naulu – Berkebun: Menyelamatkan Pohon dan Tanah – Caritas Indonesia – KARINA

Suku Naulu – Berkebun: Menyelamatkan Pohon dan Tanah

17/02/2015

Caritas Amboina memiliki sebuah kelompok dampingan yang merupakan masyarakat asli Suku Naulu di Simalouw, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah – Pulau Seram. Sebelum mendapatkan pendampingan dari Caritas Amboinan, kelompok masyarakat Suku Naulu di Simalouw ini, menggantungan seluruh kebutuhan hidupnya terhadap hasil hutan. Hasil hutan yang sering dimanfaatkan adalah kayu. Aktivitas utama mereka adalah menebang pohon, memotong dan  kemudian menjualnya kepada pengepul. Sementara berkebun menjadi kerja sampingan, sebab hasil kebun bukan menjadi pendapatan utama mereka. Namun demikian, uang hasil penebangan pohon harus menunggu mingguan bahkan bulanan. Maka tidak heran, ditengah kekosongan pendapatan, mereka tidak segan-segan meminjam uang (ijon) dengan mempertaruhkan uang hasil penebangan pohon dan bahkan menjual tanah beserta tanaman di atasnya demi mempertahankan hidup. Mereka belum paham tentang pentingnya pelestarian hutan. Bagi mereka, hutan adalah sumber penghidupan.

Jika kebiasaan di atas dibiarkan terus berjalan, maka ada dua kemungkinan yang perlahan tetapi pasti bakal terjadi. Pertama, kemampuan hutan untuk  menghidupi suku asli Naulu akan berkurang, sejalan berkurangnya jumlah pohon-pohon. Dengan kata lain, membiarkan mereka untuk terus menebang pohon, tidak akan menyelamatkan mereka dari kekurangan pangan pada suatu saat nanti. Kedua, komunitas Suku asli Naulu di Simalouw akan kehilangan hak milik atas tanahnya jika terus-menerus dibiarkan menjual tanah miliknya. Atas dasar pertimbangan dua hal di atas, maka pada Januari 2013, Caritas Amboina memulai menjalankan pendampingan untuk komunitas Suku Naulu di Simalouw.

Kini, pendampingan  Caritas Amboina terhadap Komunitas Naulu-Simalouw sudah berjalan 2 tahun. Keberhasilan demi keberhasilan sudah mulai bisa terlihat dan dirasakan oleh para penerima manfaat. Ketergantungan hidup terhadap hasil hutan (penebangan pohon) sudah mulai berkurang, walaupun belum sama sekali bisa ditinggalkan. Kebiasaan ijon dan menjual tanah sudah tidak terjadi lagi. Bertani ladang sudah mulai menjadi pencaharian utama bagi komunitas Naulu di Simalouw. Bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka juga  belajar tentang pertanian organik.

Salah seorang anggota komunitas dampingan Simalouw tersebut adalah Bapa Onie Beiriza (50). Sebagai seorang kepala suku, Bapa Onie  sangat berpengaruh di kalangan komunitas Naulu di Simalouw. Penyertaan beliau dalam pelaksanaan pelayanan di Simalouw dipandang strategis oleh Caritas Amboina. Bagai gayung bersambut, Bapa Onie dengan aktif dan penuh semangat mengikuti seluruh tahapan kegiatan pendampingan. Bahkan anggota keluarganya diarahkan untuk terlibat dalam kegiatan kelompok. Bapak Onie dan keluarga benar-benar terlihat memanfaatkan pendampingan ini sebagai kesempatan untuk mengubah kondisi hidup.  Para anggota dapat merasakan bahwa mereka kini bisa memiliki pendapatan tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kisah sukses di atas, bukanlah tanpa kendala. Kendala yang dihadapi oleh komunitas dampingan Simalouw pertama-tama adalah kekeringan. Kemarau panjang yang mewarnai tahun 2014, telah membawa kerugian, dimana  bibit kubis, bawang merah, bawang putih dan timun banyak yang mati, sementara itu, buah cabe banyak yang menjadi kering. Kendala kedua adalah hama tikus. Banyak benih jagung, buncis dan kacang tanah tidak pernah tumbuh karena dimakan tikus. Kendala ketiga adalah rendahnya harga tomat di pasar. Harga tomat turun dari biasanya Rp 15.000/Kg menjadi Rp 1.000 – 5.000 / Kg. Walaupun kendala ini cukup kuat menghantam inti harapan mereka, namun semangat mereka tetap menyala untuk terus dan terus merajut asa. Hal itu mereka buktikan, ketika pada masa kekeringan, mereka tetap menanam sayur-sayuran, walaupun harus berjibaku memikul air dari sumber-sumber yang jauh dari kebun-kebun mereka.

Mendampingi masyarakat suku asli, bukanlah pekerjaan mudah. Sebab harus berhadapan dengan kondisi dimana mereka sulit menerima perubahan, sulit beradaptasi dengan berbagai kemajuan dan sangat tertutup terhadap pihak luar. Kondisi tersebut, dialami Caritas Amboina di  masa awal pelaksanaan pendampingan. Bahkan banyak kegiatan pada tahun pertama pelayanan tidak berjalan baik. Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya intensitas pendampingan, kisah sukses itu terajut juga dari Suku Naulu-Simalouw. Mereka mampu menerima perubahan, mampu beradaptasi dengan berbagai kemajuan dan terbuka terhadap pihak luar. Dan yang paling penting adalah bahwa mereka sudah mulai mengurangi aktivitas penebangan pohon dan menjual tanah miliknya untuk memenuhi kebutuhan hidup.■ da

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta