Tiga Solusi Jitu untuk DAS Dagesime – Caritas Indonesia – KARINA

Tiga Solusi Jitu untuk DAS Dagesime

30/06/2016
Sungai Dagesime tampak dari atas (Foto: Jhonny Anthony)

Dagesime adalah nama sebuah sungai besar yang mengalir dan membelah 6 desa di Kecamatan Mego dan Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT. Keberadaan sungai ini secara alami menjadi sumber penghidupan bagi hewan dan tumbuhan, serta penduduk setempat yang menggunakan airnya untuk kebutuhan sehari-harinya. Namun demikian, berkah yang diberikan sungai ini tidak selalu melimpah. Pada musim kemarau, debit airnya mengecil bahkan sampai mengering. Hal ini tentu saja membawa keresahan bagi para petani, yang sebagian besar hasil taninya mengandalkan aliran Sungai Dagesime. Sebaliknya, pada musim penghujan, sungai ini meluap dan membanjiri daerah di sekitarnya. Hal seperti ini terjadi karena kondisi sungai yang dangkal, berstruk-tur tanah keras, dan sistem drainase di sekitar sungai yang buruk.

Terkait dengan permasalahan di atas, selama beberapa bulan terakhir ini Caritas PSE Keuskupan Maumere (CPSE-KM) bersama para mitranya seperti PMI, KARINA, HOT, RAIN/Aidenvironment, dan Yayasan Bina Tani Sejahtera, secara intensif melakukan upaya-upaya penguatan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Dagesime, dari hulu hingga ke hilir. Kegiatan penguatan yang dilakukan meliputi pemeta-an dan pendataan, mengkonservasi tanah dan air, mengembangkan sistem hortikul-tura, membangun sistem komunikasi mela-lui radio komunikasi dan menguatkan sistem peringatan dini. Para mitra CPSE-KM saling berbagi sumber daya untuk membangun wilayah DAS yang kuat dengan melibatkan masyarakat dampingan masing-masing

Yuven Wangge, Koordinator Proyek Min Flores CPSE-KM, memberikan penjelasan kepada para peserta lokakarya (Foto: Jhonny Anthony)
Yuven Wangge, Koordinator Proyek Min Flores CPSE-KM, memberikan penjelasan kepada para peserta lokakarya (Foto: Jhonny Anthony)

 

Pada tanggal 3 Juni 2016, CPSE-KM bekerja-sama dengan KARINA dan RAIN/Aidenviron-ment menyelenggarakan lokakarya sehari bertajuk “Strategi Penguatan DAS Dagesime Magepanda melalui Penerapan: Recharge, Retention, and Reuse”. Kegiatan ini bertu-juan untuk memperbaiki pengelolaan di area tangkapan air yang dikenal dengan konsep “3R”. Lokakarya yang bertempat di Hotel Sylvia Maumere ini dibuka oleh Wakil Direktur CPSE-KM, P. Klaus Naumann, SVD, dan dihadiri oleh perwakilan dari 6 desa di wilayah DAS Dagesime, beberapa SKPD terkait di Pemda Kabupaten Sikka seperti Bappeda, Dinas Pertanian, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, BLHD, dan Dinas Kelautan dan Perikanan. Hadir pula dalam kegiatan ini perwakilan lembaga swadaya masyarakat, seperti Plan International PU Sikka dan PMI Sikka, serta dari media setempat.

Lokakarya ini membahas tentang berbagai model penerapan 3R yang dirasa menjadi strategi yang baik untuk mengatasi masalah kekeringan dan pengikisan tanah. Selain itu juga dijelaskan mengenai hasil temuan lapangan yang dilakukan oleh RAIN dan Aidenvironment di kawasan DAS Dagesime. Di akhir kegiatan para peserta mencoba merumuskan secara sederhana reko-mendasi kegiatan bersama untuk penguatan DAS Dagesime ini. Terkait hal di atas, P. Klaus menyampaikan komitmen Caritas Maumere untuk menerapkan pendekatan 3R. Pendekatan tersebut dipandang sebagai hal yang mutlak dalam upaya penguatan DAS Dagesime Magepanda. Beliau berharap agar Caritas dan para mitra memberikan komitmennya hingga tuntas untuk kegiatan penguatan DAS Dagesime Magepanda ini.

Anselmus Raja, Fasilitator Proyek Min Flores CPSE-KM, menjelaskan Metode 3R (Foto: Jhonny Anthony)
Anselmus Raja, Fasilitator Proyek Min Flores CPSE-KM, menjelaskan Metode 3R
(Foto: Jhonny Anthony)

 

Aidenvironment memaparkan situasi DAS Dagesime pada saat musim hujan dimana air melimpah, sedangkan pada musim kemarau justru mengalami kekeringan. Secara spesifik Maarten dari Aidenvironment menyimpulkan tiga masalah pokok di DAS Dagesime yakni: (1) banjir, (2) turunnya pasokan air tanah, dan (3) kurangnya ketersediaan air saat musim kemarau untuk irigasi. Ketiga masalah ini muncul karena bebera-pa hal di bawah ini:

  1. Penyebab banjir:
    • Penyerapan air sangat lambat
    • Jalur sungai yang berliku dan sempit
    • Penyerapan air yang kecil di wilayah hulu.
  2. Penyebab pasokan air tanah menurun:
    • Praktek sumur bor
    • Struktur tanah yang menyulitkan peresapan air
    • Pengurangan aliran air yang masuk dari 2 sungai di DAS Dagesime.
  3. Penyebab kurangnya ketersediaan air saat kemarau:
    • Air sungai tertahan di bendungan
    • Penggundulan area hulu.

Dari temuan-temuan tersebut, selanjutnya dibuat rencana pengelolaan DAS dengan pendekatan sistem kawasan, serta pem-bagian zona dari hulu sampai ke hilir. Perencanaan ini mengacu pada prinsip-prinsip pendekatan 3R yang mengandalkan partisipasi masyarakat dan pihak-pihak terkait secara luas tanpa batasan teritorial desa ataupun kecamatan. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan penguatan DAS Dagesime menjadi lebih maksimal, baik secara proses maupun hasilnya.

Para peserta dan narasumber Lokakarya DAS Dagesime (Foto: Jhonny Anthony)
Para peserta dan narasumber Lokakarya DAS Dagesime (Foto: Jhonny Anthony)

 

Berdasarkan fakta di lapangan, pembagian zona perlu dilakukan karena masing-masing daerah dari hulu sampai ke hilir memiliki permasalahan yang unik dan teknik penanganan yang berbeda. Maarten membagi kawasan DAS ini dalam 4 zona/wilayah yakni :

  1. Wilayah pesisir dan pemukiman. Daerah ini memiliki peresapan air tanah yang buruk, rawan banjir, sistem drainase yang buruk, jumlah penduduk tinggi, serta kemiringan tanah yang rendah. Peresapan air tanah yang buruk ini tentu sangat mempengaruhi persediaan air tanah pada saat musim kemarau dan berpotensi menimbulkan banjir. Strategi yang perlu dilakukan adalah dengan penambahan drainase seperti sumur resapan, jembatan, serta penanaman mangrove.
  1. Wilayah irigasi. Daerah ini meliputi bendungan intensif dan pompa irigasi, jenis tanah liat, tingkat kemiringan rendah, rawan banjir, permukaan tanah berisiko tinggi, dan kurang air tanah. Strategi yang perlu diterapkan pada daerah ini adalah dengan melakukan normali-sasi sungai yang meliputi: pening-gian tepi sungai, meluruskan jalur sungai, pembersihan tanaman sekitar sungai, dan penanaman bambu dan akar wangi untuk mengikat tanah dari bahaya banjir dan erosi.
  1. Wilayah pembakaran dan limpasan langsung. Daerah ini memiliki se-dikit lahan pertanian, jumlah pendu-duk sedikit, tanahnya berjenis kam-bisol, tingkat kemiringan tanah lebih tinggi, pembakaran lahan lebih intensif, limpasan air yang lebih intens, dan mata air yang mulai surut/mengering. Secara garis besar, ini adalah daerah perbukitan yang paling sering mengalami kebakaran, lahan gundul dengan limpasan air semakin tinggi yang pada akhirnya menyebabkan pasokan air tanah semakin sedikit. Solusi yang bisa dilakukan antara lain pengurangan pembakaran dengan membuat ilaran api, pembangunan cekdam serta pengurangan potensi jalur air baru.
  1. Wilayah hulu. Daerah ini memiliki sistem pertanian dengan ladang berpindah, sistem pertanian tebas bakar/agro-forestri, desa yang berpencar, jenis tanah kambisol, dengan tingkat kemiringan lebih tinggi. Intervensi yang bisa dilakukan di daerah ini meliputi pembudidayaan variasi tanaman, pembangunan cekdam dan pengurangan potensi jalur air baru.

Dari paparan tersebut, para peserta menanggapi dengan baik dan sepakat dengan hasil temuan serta solusi-solusi yang ditawarkan oleh Maarten. Terlebih lagi, mereka menambahkan beberapa saran untuk melengkapi rekomendasi dari pertemuan ini. Beberapa rekomendasi yang disepakati antara lain: (1) penguatan lembaga adat yang peduli pelestarian alam, (2) pembentukan forum peduli DAS Dagesime, (3) adanya perbup atau peraturan setingkatnya untuk RPDAS, (4) reboisasi, (5) edukasi, dan (6) mengurangi penggunaan sumur bor.

Penulis: Jhonny Anthony – Caritas PSE Keuskupan Maumere

Share

Bantuan kasih dapat disalurkan melalui :

 

Yayasan KARINA

Jl. Matraman No. 31
Kelurahan Kebon Manggis
Kecamatan Matraman
Jakarta Timur, 13150
Telp : (+62-21) 8590 6534, 8590 6540
Fax : (+62-21) 8590 6763
Email : info@karina.or.id
Facebook : Caritas Indonesia-KARINA
Twitter : @Caritas_ID

 

Informasi account:

Bank BCA
Account No : 288-308-0599
Atas nama : YAY KARINA
Cabang: Puri Indah, Jakarta